Keluargaku

Keluargaku

Selasa, 04 Februari 2014

St Agatha


Santa Agatha, 5 Februari

Seorang gadis Kristen nan cantik bernama Agatha hidup di Sisilia pada abad ketiga. Gubernur mendengar kabar tentang kecantikan Agatha dan menyuruh orang untuk membawa gadis itu ke istananya. Ia menghendaki Agatha melakukan dosa melanggar kesuciannya, tetapi Agatha seorang gadis pemberani dan pantang menyerah. “Yesus Kristus, Tuhanku,” ia berdoa, “Engkau melihat hatiku dan Engkau mengetahui kerinduanku. Hanya Engkau saja yang boleh memilikiku, oleh sebab aku sepenuhnya adalah milik-Mu. Selamatkanlah aku dari orang jahat ini. Bantulah aku agar layak untuk menang atas kejahatan.”

Gubernur mencoba mengirim Agatha ke rumah seorang wanita pendosa. Mungkin saja gadis ini akan menjadi jahat pula. Tetapi Agatha menaruh kepercayaan yang besar kepada Tuhan dan berdoa sepanjang waktu. Ia menjaga kesucian dirinya. Ia tidak mau mendengarkan nasehat-nasehat jahat wanita dan anak-anak perempuannya itu. Setelah sebulan berlalu, Agatha dibawa kembali kepada gubernur. Sekali lagi gubernur berusaha membujuknya. “Engkau seorang wanita terhormat,” katanya dengan lembut. “Mengapa engkau merendahkan dirimu sendiri dengan menjadi seorang Kristen?” “Meskipun aku seorang terhormat,” jawab Agatha, “aku ini seorang hamba di hadapan Yesus Kristus.” “Jika demikian, apa sesungguhnya arti dari menjadi terhormat?” tanya gubernur. Agatha menjawab, “Artinya, melayani Tuhan.”

Ketika gubernur tahu bahwa Agatha tidak akan mau berbuat dosa, ia menjadi sangat marah. Ia menyuruh orang mencambuk serta menyiksa Agatha. Sementara ia dibawa kembali ke penjara, Agatha berbisik, “Tuhan Allah, Penciptaku, Engkau telah melindungi aku sejak masa kecilku. Engkau telah menjauhkan aku dari cinta duniawi dan memberiku ketabahan untuk menderita. Sekarang, terimalah jiwaku.” Agatha wafat sebagai martir di Catania, Sisilia, pada tahun 250.

“Dengan teladannya ia mengajar kita untuk bergegas menuju kebenaran sejati, yaitu Allah saja.” ~ St. Metodius

Senin, 03 Februari 2014

INJIL MINGGU BIASA V/A



INJIL MINGGU BIASA V/A 9 Feb 14 (Mat 5:13-16)

Rekan-rekan yang baik!

Dalam bacaan Injil Minggu V tahun A kali ini, Mat 5:13-16, ditegaskan bahwa para murid adalah “garam” dan “terang” bagi dunia. Pernyataan ini kerap mendorong agar orang berusaha sekuat tenaga menggarami dunia serta meneranginya. Dunia ini seakan-akan tempat yang hambar dan gelap belaka dan karena itu perlu diselamatkan. Itukah yang hendak diajarkan kepada para murid? Injil sebenarnya mengajarkan hal lain, yakni agar para murid tidak membiarkan diri luntur identitasnya dan bakal didiamkan orang. Bagaimana penjelasannya? Marilah kita ikuti pembicaraan mengenai garam dan terang sebelum memasuki teks Injil.

TENTANG GARAM
CHRIS: Kita ini sering berpanjang-panjang bicara tentang garam dan terang, bagaimana sih menerapkannya bagi orang sekarang, lebih-lebih bagi umat paroki sini.

GUS: Romo, di paroki sini atau di Vatikan garam sama-sama mengurangi rasa hambar. Omong-omong, ini nih Paulus bilang kepada umat Kolose (Kol 4:5-6): “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Latinnya ayat 6 gurih rasanya: “Sermo vester semper in gratia sale sit conditus....” 

CHRIS: Jadi bagi Paulus kata-kata yang bijak penuh kasih itu seperti makanan yang gurih diresapi garam!
GUS: Nah, tidak berputar-putar kan? Paulus menolong kita mengerti bahwa garam itu membuat orang bisa membawakan diri. Maklum orang perlu bergaul dengan “orang-orang luar”, bukan hanya kalangan sendiri. Kolose itu pusat perdagangan dan industri wol zaman itu, kayak daerah industri Tangerang dan Bekasi yang menyerap tenaga kerja dari mana-mana. Para manajer di Kolose banyak yang sudah jadi umat; mereka itulah yang disurati Paulus.

CHRIS: Apa hidup sebagai terang dunia juga bisa dipandang dengan cara itu?

GUS: Terang menyingkirkan gelap, membuat pikiran bisa memilah-milah, membuat orang ber-discernment, tahu jalan yang benar, menjauhi cara-cara yang asal saja. 

CHRIS: Jadinya ingat Kol 1:12. Paulus bersyukur dengan penuh sukacita kepada Bapa yang telah membuat kaum beriman di Kolose layak mendapat bagian di dalam kehidupan “orang-orang kudus dalam terang”. Jadi hidup dalam kekudusan walau masih berpijak di bumi. 

GUS: Pikirannya begini. Para murid sudah dilepaskan dari kuasa kegelapan – seperti dimaksud Paulus dalam ayat berikutnya. Mereka hidup dalam alam yang sudah dibuka oleh Yesus.

CHRIS: Maksudnya merdeka dari kekuatan-kekuatan yang mengungkung, meski masih di dunia ini? Dan kita musti kreatif, tidak hambar dan kabur?

GUS: Akur! 

MENYIMAK Mat 5:13-16
Murid-murid disebut “Kamulah garam dunia...!” (ay. 13a). Bukannya diserukan agar mereka “menjadi” garam. Yang dimaksud ialah agar mereka tetap sebagai garam. Perkaranya, bagaimana bila dayanya hilang dan jadi hambar (ay. 13b)? Ini terjadi bila murid kehilangan identitasnya. Garam yang hambar tak berguna, bakal dibuang, diinjak-injak (ay. 13c). Murid yang tak bisa ikut membuat dunia ini makin awet dan enak didiami dengan sendirinya tidak menyumbang banyak. Sayang! 

Para murid juga dibaratkan sebagai “terang dunia” (ay. 14a). Menyusul dua contoh. Pertama, kota di atas gunung tentu saja terlihat dari mana-mana (ay. 14b). Murid-murid tak bisa menutup-nutupi diri, tak bisa bersembunyi. Cara hidup mereka pasti terlihat, tak peduli apakah orang akan mendatanginya sebagai tempat berlindung atau malah sebagai sasaran kedengkian. Bagaimanapun juga, yang melihatnya tidak bakal hanya mendiamkannya. Contoh selanjutnya makin jelas. Lampu menerangi seluruh ruang karena memang dipasang di atas, tidak ditutup dengan tempayan (ay. 15). Para murid memang ada di tempat yang memungkinkan mereka menerangi seluruh ruang. Hidup sebagai murid bukan urusan kesempurnaan pribadi, melainkan hidup menerangi lingkungan. Lebih tajam lagi ay. 16. Mereka hendaknya bersinar bagi semua orang sehingga perbuatan baik mereka dilihat dan orang-orang akan “memuliakan Bapamu yang ada di surga”.

PENGAJARAN DI BUKIT
Bacaan dari Mat 5:13-17 diangkat dari kumpulan ajaran Yesus yang pertama dalam Injil Matius, yaitu Mat 5-7. (Ada empat kumpulan lain, yakni Mat 10; 13; 18; 24-25.) Pada awal kumpulan pertama disebutkan, ketika melihat orang banyak, Yesus naik ke sebuah bukit dan mulai mengajar para murid yang datang kepadanya (Mat 5:1-2; lihat juga ulasan bagi hari Minggu IV yang lalu). Di situ ia mengucapkan delapan Sabda Bahagia (ay. 3-10) yang bersangkutan dengan kehidupan pada umumnya, (“Berbahagialah orang yang...!”). Sabda Bahagia yang ke delapan (ay. 10) menyebut berbahagia orang yang mengalami perlakuan buruk, dianiaya, karena mau melakukan kehendak Allah. Isi Sabda Bahagia ke sembilan, ay. 11, sama dengan yang ada dalam ay. 10 tadi, tetapi ditujukan langsung kepada para murid (“Berbahagialah kamu...!) yang mengikutinya ke bukit tadi. Mulai saat itu Yesus mulai berbicara mengenai kehidupan para murid sendiri.

Ada tiga hal yang boleh dicatat. Pertama, pembicaraan mengenai garam dan terang dunia itu menyangkut diri para murid sendiri. Kedua, konteksnya ialah pengalaman orang yang merasa dimusuhi karena melakukan kehendak Allah (ay. 10), dicela dan diperlakukan buruk karena Yesus (ay. 11). Ketiga, walaupun demikian, mereka diharapkan tetap bersuka cita dan bergembira (ay. 12), dalam bahasa sekarang, tidak kehilangan harga diri. Dalam konteks inilah pengajaran mengenai garam dan terang tampil sebagai pengajaran mengenai hidup para murid. Mereka diminta agar tetap berlaku sebagai garam dan terang kendati mereka dimusuhi. Mereka diharapkan berteguh dalam kesulitan. Inilah yang bakal membuat mereka ikut disebut “berbahagia”.
Di dalam masyarakat modern pelbagai macam nilai bermunculan silih berganti, segudang gagasan dipasarkan, pelbagai keyakinan diperjualbelikan. Di hadapan semua itu orang bisa ikut arus dan akhirnya tenggelam. Acap kali ada yang memilih jalan mudah dengan menentang semua yang beredar di dunia. Itukah pengajaran bagi para murid? Garam dan terang tidak mesti berkonfrontasi dengan dunia. Peran utamanya justru membuat dunia tak gampang membusuk dan malah semarak indah dilihat, bukan mencurigai dan memusuhinya.

MASYARAKAT YANG BERLAPIS-LAPIS
Dalam konteks pengajaran di Bukit, menjadi murid jelas bukan ditujukan bagi keselamatan sendiri atau demi keluhuran sang guru, melainkan agar orang banyak bisa melihat betapa Yang Mahakuasa yang di surga itu bisa dialami sebagai yang sebagai Bapa yang Maharahim. Perbuatan baik para murid menjadi jalan bagi Yang Mahakuasa agar terlihat oleh orang banyak sebagai Bapa!
Bisakah orang tetap menjadi garam dan terang di dalam masyarakat majemuk dan yang rumit susunannya seperti masyarakat zaman ini? Orang tak bisa tinggal hanya di dalam kelompok sendiri. Mau tak mau akan ikut berperan di dalam macam-macam tataran lain. Bisakah orang tetap punya identitas? Ya. Sekali ditaburkan, garam memberi rasa pada sayur. Begitu pula terang menyinari seluruh ruangan, tidak terbatas di satu sudut saja. Bila ada tempat yang tidak kena terang atau tidak tergarami, itu karena ada penghalangnya. Dalam masyarakat yang berlapis-lapis, para murid tidak hanya menggarami kelompok sendiri atau menerangi lingkungan terbatas. Yang terjadi pada satu tataran akan ada kelanjutannya di lapis lain pula. Katakan saja “garam dan terang dunia” itu membola dunia. Bila hanya setempat-setempat saja, maka hidup sebagai garam dan terang “bagi dunia” itu hanya tetap wacana belaka. Di era yang makin mengalami globalisasi ini, makin besar pula peran garam dan terang tadi. Yang tidak menjalankannya akan menjauhi kenyataan dan menjadi hambar, ambles, padam, tak masuk hitungan.

Hidup sebagai garam bukan berarti terjun mengasinkan orang-orang lain dengan menonjolkan ibadat serta rumus-rumus kepercayaan sendiri. Itu justru arah yang semakin ke diri sendiri, makin sungsang. Garam itu meluas, tidak menciut. Hidup sebagai terang berpusar ke luar, tidak berputar ke dalam. Maka usaha mendapat pengikut sebanyak-banyaknya ala kegiatan proselitisme bukan tafsiran garam dan terang dunia yang bisa dipertanggungjawabkan. Lalu apa?

Sekali lagi Mat 5:16 dapat dipakai sebagai pegangan. Para murid diminta agar melakukan perbuatan yang bakal membuat orang-orang bisa memuliakan Bapa yang ada di surga. Maksudnya ialah agar perbuatan dan tingkah laku para murid itu menjadi bentuk kehadiran Bapa di dunia ini. Kehadiran seperti ini tidak dapat dipaksa-paksakan kepada orang banyak. Hanya bisa dipersaksikan. Dan itu tidak selalu mudah dimengerti. Kerap kali sikap kurang menerima dan memusuhi berawal dari kurang mengenali apa yang sedang terjadi. Maka tindakan yang paling bijak ialah membuat agar didengar dan dikenal terlebih dulu secara apa adanya. Makin berlapis-lapis sebuah masyarakat, makin perlu identitas masing-masing kelompok tampil dengan jujur. Tanpa integritas, dengan mudah terjadi saling kecurigaan mengenai itikad baik masing-masing dan kesetujuan-kesetujuan bersama susah tercapai. Memang keragaman dapat mengakibatkan sikap apatis, luntur, ngikut aje, pindah-pindah. Tetapi justru garam dan terang bagi dunia itu akan menghilangkan rasa hambar dan mengendalikan kesimpangsiuran.

Salam hangat,
A. Gianto

Selasa, 17 September 2013

InjMg XXV/C 22 Sep 2013

InjMg XXV/C 22 Sep 2013 (Luk 16:1-13)


Rekan-rekan yang baik!
Perumpamaan mengenai bendahara yang tidak jujur dalam Luk 16:1-8a dilanjutkan dengan pernyataan bahwa kepintaran anak-anak dunia ini melebihi anak-anak terang (ayat 8b-9) ditambah pepatah barangsiapa setia dalam perkara kecil bisa dipercaya pula dalam perkara besar (ayat 10-12). Petikan yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XXV tahun C ini berakhir dengan penegasan bahwa tak mungkin mengabdi dua tuan (ayat 13). Ada ajakan untuk menemukan jalan lurus dalam liku-liku kehidupan di dunia ini. Dengan kata lain, orang beriman didorong agar berani belajar dari kenyataan dalam kehidupan yang acap kali terasa berlawanan dengan cara hidup "orang baik-baik".

MENGABDI DUA TUAN?!
Marilah kita mulai dengan akhir petikan itu, yaitu ayat 13. Di situ ditegaskan bahwa tak mungkin mengabdi kepada dua tuan. Alasannya, cepat atau lambat akhirnya orang akan memihak kepada yang satu dan meninggalkan yang lain. Tak mungkin menyembah Allah dan pada saat yang sama mengabdi Mamon, maksudnya uang, harta, kedudukan...semua yang serba duniawi. Ini pernyataan atau peringatan? Bentuknya memang pernyataan. Tapi dapat pula dimengerti sebagai peringatan agar murid Yesus tidak berhati mendua. Memang dalam hal apapun sikap mendua tidak baik. Namun ini kan bukan barang baru. Sama dengan peringatan agar melepaskan "orang tua, sanak saudara, diri sendiri, milik" agar menjadi murid yang sejati seperti terungkap dalam Luk 14:25-33. Namun bukan barang baru pula bila dalam prakteknya komitmen utuh seperti itu tidak mudah. Arahnya memang jelas, tapi dalam pelaksanaannya kerap orang gagal mengabdikan diri dengan sepenuh hati. Lalu untuk apa mengutik-utik perkara yang tak bisa dielakkan ini? Kenyataan hidup sering menampilkan wajah yang berbeda daripada yang diidealkan begitu saja. Apakah Injil mau menyederhanakan kehidupan? Bila demikian, yang kita dengar bukan Warta Gembira melainkan serangkai omongan saleh tapi basi dan tidak banyak membantu orang semakin mengenali liku-liku kehidupan yang nyata. Begitukah? Untuk menjawabnya baiklah diperiksa perumpamaan mengenai bendahara yang tidak jujur. Petikan ini juga berguna untuk lebih memahami tuntutan menjadi murid sejati dalam Luk 14:25-33 tadi.
Di manakah ketidakjujuran bendahara dalam perumpamaan ini? Pada perbuatan memotong hutang yang diceritakan dalam ayat 6-7 atau karena telah "menghambur-hamburkan" milik tuannya seperti disebut dalam ayat 1? Dengan kata lain, karena kolusi, kongkalikong dengan langganan dan merugikan pemilik perusahaan atau pada perbuatan korupsi dan memboroskan uang perusahaan bagi keperluan sendiri? Lalu kenapa ia dipuji?

APA PERKARANYA?
Bendahara tadi kiranya pernah mengadakan jual beli minyak dan gandum dengan maksud kurang jujur. Jumlah yang disebut, 100 tempayan minyak dan 100 pikul gandum adalah jumlah yang besar, dan tetap besar setelah dipotong menjadi 50 tempayan dan 80 pikul. Jelas pula dari jumlah yang disebutkan itu ia tidak berurusan dengan konsumen, tetapi dengan pedagang lain. Transaksi besar seperti ini di mana-mana lazimnya tidak dibayar lunas seketika. Langganan memiliki rekening pada perusahaan dagang tempat bendahara itu bekerja. Dalam hal ini bendahara tadi telah berlaku tak jujur. Yang sebetulnya 50 tempayan dicatatnya sebagai 100 tempayan, yang 80 pikul didaftarnya sebagai 100 pikul. Ia tentu berpikir akan dapat mengantongi keuntungan pembayaran nanti.
Malang baginya, perbuatannya yang tak terpuji itu terendus dan rupa-rupanya ada keluhan yang sampai ke telinga pemilik perusahaan. Karena itu pemilik meminta pertanggungjawaban. Bendahara itu menyadari, kini ia tak bisa enak-enak saja. Ia akan diperkarakan. Memang ia tidak langsung dipecat. Ia baru diminta memberi laporan. Di sinilah titik balik dalam perumpamaan tadi. Bendahara tadi mencari upaya bagaimana melepaskan diri dari krisis ini. Terpikir olehnya, mumpung masih ada waktu, baiklah cepat-cepat memperbaiki keadaan. Caranya lihai. Ia membersihkan pembukuan palsu yang tadinya diperhitungkan akan menguntungkannya. Inilah sebetulnya yang terjadi dalam pemotongan utang yang diceritakan dalam ayat 6 dan 7.

Perlu kita pahami cerita ini bukan sebagai laporan peristiwa. Bukan nasihat agar para penjahat keuangan bertobat. Ini perumpamaan yang disampaikan untuk mengajak para murid berpikir bagaimana bisa menghadapi liku-liku kehidupan ini dengan sikap yang cocok. Pembaca zaman dulu juga sadar bahwa yang diceritakan ialah perumpamaan dan tidak akan berusaha mencek dengan kenyataan praktek dagang atau mempertanyakan rinciannya. Malah bisa kita andaikan para pembaca dulu tidak mengalami kesukaran di dalam menangkap tujuan perumpamaan itu. Mereka langsung melihat di mana ketidakjujuran si bendahara, yakni dalam hal memboroskan milik yang dipercayakan kepadanya agar dikelola dengan baik, tapi akhirnya mau dikantonginya sendiri. Ini jelas dari tuduhan yang dikenakan kepadanya pada ayat 1. Jelas pula mengapa pemilik meminta pertanggungjawaban dan segera akan memecatnya.

Oleh karena itu transaksi yang diceritakan dalam ayat 6-7, yakni mengurangi jumlah hutang itu, sebaiknya dimengerti sebagai usaha si bendahara membenahi tindakan korupsi yang dilakukannya sebelumnya. Dengan demikian juga tidak sukar mengerti mengapa ia dipuji. Kita tidak tahu bagaimana kelanjutan karier bendahara itu. Seluk beluk selanjutnya itu tidak relevan bagi sebuah perumpamaan. Lagipula perumpamaan ini bukan dimaksud untuk menceritakan transaksi dagang melainkan untuk menyoroti kemauan serta kecekatan orang untuk berubah dalam situasi krisis. Karena itulah ia dipuji.

SIAPA YANG MEMUJI SANG BENDAHARA?
Disebutkan dalam ayat 8: "Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya daripada anak-anak terang." Dalam teks Yunaninya, ho kyrios, "tuan itu", bisa merujuk pada tuannya sang bendahara, yakni pemilik perusahaan, tetapi juga bisa pada Tuhan Yesus. Bila yang dimaksud pemilik, maka ayat 8 termasuk perumpamaan sendiri. Tetapi bila merujuk pada Yesus, maka ayat itu tampil sebagai kata-kata Yesus mengenai perilaku bendahara dalam perumpamaan tadi. Lagipula jika Yesus-lah yang dimaksud, maka ayat 8b, yakni "Sebab anak-anak dunia ini..." dapat membantu mengerti mengapa ayat 9 memuat nasihat Yesus agar orang tahu mengikat persahabatan juga dengan memakai Mamon (= uang) yang diperoleh dengan tidak jujur. Persoalan siapa yang memuji ini sering membingungkan para penafsir. Namun, bila uraian mengenai di mana letak ketidakjujuran si bendahara di atas diterima, siapa yang memuji tidak jadi masalah lagi. Bisa saja sang pemilik, bisa pula Yesus. Memang bendahara itu pintar dan patut dipuji, baik oleh pemilik dalam perumpamaan itu maupun oleh Yesus sendiri.

Kehidupan memiliki banyak segi. Situasi yang kritis kerap bisa diatasi dengan mengubah diri. Bendahara yang sedang menghadapi kendala bakal dipecat itu berhasil mengatur siasat sehingga keadaannya tidak seburuk seperti bila diam menunggu konsekuensi kelakuannya sendiri dulu. Tentu saja ia harus berhati-hati sehingga tindakannya kali ini tidak memperburuk keadaan. Bahwasanya ia dipuji entah oleh tuannya entah oleh Yesus justru membuktikan bahwa ia berhasil membawakan diri dengan baik dalam situasi yang gawat. Bahkan amatan mengenai anak-anak dunia yang lebih pintar daripada anak-anak terang dalam ayat 8b bisa dianggap sebagai saran agar orang belajar dari kecerdikannya.

MAMON YANG TAK JUJUR
Bagaimana tafsiran ayat 9? Ayat ini memuat nasihat Yesus agar orang mengikat persahabatan dengan menggunakan "Mamon yang tak jujur" sehingga bila Mamon itu tak dapat menolong lagi, orang akan diterima ke dalam Kemah Abadi?" Maksud perkataan itu kiranya dapat diutarakan kembali sebagai berikut "Uang tak halal (uang hasil korupsi, keuntungan karena pengelolaan buruk yang disengaja - perkara yang disebut dalam ayat 1) memang untuk sementara dapat menjadi sandaran hidup - mengikat persahabatan. Namun satu ketika akan terbongkar (tuduhan, ayat 2). Oleh karena itu berusahalah memegang yang bisa memberimu rasa aman sejati ("diterima dalam Kemah Abadi")!" Pembaca yang peka akan teringat Mazmur 15 yang memberi rincian lebih jauh mengenai siapa yang akan diterima tinggal bersama Tuhan di kemahNya yakni orang yang kelakuannya tak bercela, yang bertindak adil, yang hidup sesuai dengan kebenaran, tidak memfitnah, tidak berbuat jahat, tidak mendatangkan aib bagi sesama, tidak mengecilkan kaum terpojok, menghormati orang yang bertakwa, yang memiliki integritas, yang tidak memeras dan tidak mau dibayar untuk merudapaksa orang yang tak bersalah.

BERPIJAK PADA KENYATAAN
Sang bendahara ternyata berani dan berhasil membenahi diri dalam urusan "uang yang diperoleh dengan tidak jujur" dan dalam hal ini ia bisa disebut "setia mengenai harta orang lain", baik harta sang pemilik perusahaan maupun para langganan. Seandainya ia tidak berbuat demikian, ia akan mengalami celaka. Ayat 10-12 sebetulnya merumuskan kembali perkara itu dalam bentuk pepatah. Pandai-pandailah membawa diri dalam urusan duniawi, dalam "urusan kecil" yang bakal memberi kredibilitas dalam perkara yang lebih luhur, dalam urusan yang menyangkut hal-hal kerohanian pula.

Pada awal uraian ini disebutkan bahwa ayat 13 tidak dimaksud semata-mata sebagai peringatan bahwa orang tak bisa mengabdi Allah secara setengah-setengah. Itu sudah jelas. Dan pendengar Injil tentunya bukan orang yang mau terus setengah-setengah. Perkaranya bukan niatan, tapi kenyataan sering membuat orang tidak sampai menjalani komitmen iman secara utuh. Lalu bagaimana? Perumpamaan bendahara yang tak jujur tapi cerdik tadi membuat kita melihat bahwa Injil mengajarkan sikap mau dan berani berubah demi mencari jalan yang bakal menyelamatkan. Juga diajarkan sikap mau belajar dari cara-cara duniawi - dari "urusan kecil" yang disebut ayat 11. Namun seperti dinasihatkan dalam ayat 9, diperlukan kejelian melihat mana yang sungguh menjamin bagi kebahagiaan. Dengan menggemakan inti ajaran Mazmur 15, Injil menghubungkan urusan duniawi ini dengan tanggung jawab dan kesadaran moral yang bakal menuntun orang ke kebahagiaan kekal bersama Allah. Injil mendorong orang memikirkan bagaimana kemanusiaan yang penuh liku-liku itu dapat menjadi jalan bagi anak-anak terang pula. Dalam arti itulah Injil membuka jalan ke Kemah Abadi.

Salam dari Refter Kanisius,
A. Gianto

Senin, 09 September 2013

PAUS DALAM MISA



PAUS DALAM MISA; 9 September 2013 :

PENGHARAPAN  KRISTIANI  ADALAH  YESUS YANG  MEWUJUD


Keutamaan pengharapan, mungkin kurang dipahami dibandingkan dengan keutamaan iman dan amal, seharusnya jangan pernah dirancukan dengan optimisme manusia yang melebihi sebuah keadaan pikiran. Bagi seorang seorang Kristiani, pengharapan adalah Yesus yang mewujud dalam Ekaristi dan dalam Sabda. Itulah intisari dari apa yang dikatakan Paus Fransiskus pada misa harian pagi 9 September 2013 di Casa Santa Marta, Vatikan.

Pengharapan adalah sebuah karunia dari Yesus; pengharapan adalah Yesus sendiri dan menyandang nama-Nya, Paus Fransiskus mengatakan dalam homilinya. Tetapi itu bukan macam pengharapan yang Anda temukan dalam seseorang yang biasanya terlihat pada "gelas setengah penuh" - itu hanya "optimisme" dan "optimisme adalah sebuah sikap manusia yang tergantung pada banyak hal".

Mengingat kembali bacaan Injil (Luk 6:6-11) yang di dalamnya Yesus menyembuhkan seorang dengan sebuah tangan yang lumpuh dan dicela oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, Paus Fransiskus mengamati bahwa melalui mukjizat-Nya, Yesus menunjukkan kepada mereka bagaimana jalan mereka "bukanlah jalan kebebasan". "Kebebasan dan pengharapan", Paus mengatakan, "pergi bersama-sama: di mana tidak ada pengharapan, di sana tidak ada kebebasan". Dan, Paus mengatakan bahwa dengan gerakan isyarat itu, Yesus menunjukkan kita kekuatan pembaharuan melalui Dia.

"Yesus, pengharapan, memperbaharui segalanya. Dia adalah sebuah mukjizat yang tetap". Kristus, Paus mengatakan, mewujudkan "mukjizat pembaharuan" ini dalam Gereja, "dalam kehidupan saya, kehidupan Anda, dalam kehidupan kita". "Kristus adalah alasan bagi pengharapan kita", beliau berkata, "dan pengharapan ini tidak menyesatkan".

Bapa Suci juga memiliki sebuah kata untuk rekan klerusnya. Memperhatikan bahwa merupakan "sedikit kesedihan" ketika "orang menemukan seorang imam tanpa pengharapan", Paus Fransiskus mengatakan indahnya menemukan orang yang tiba pada akhir kehidupan "tidak dengan optimisme, namun dengan pengharapan". "Imam ini, beliau melanjutkan, dipertalikan pada Yesus Kristus dan umat Allah membutuhkan kita para imam untuk memberi mereka tanda pengharapan ini, untuk menghidupkan pengharapan dalam Yesus ini yang memperbaharui semuanya".

Dan beliau menunjuk pada pengharapan agung Sang Madonna dalam putranya, sebagai sebuah teladan bagi semua orang untuk diikuti. Bahkan dalam saat tergelapnya, beliau mengatakan, dia memiliki "pengharapan itu: dia memilikinya. Inilah pengharapan itu yang memperbaharui semuanya".

Sumber : Radio Vatikan

Minggu, 28 Juli 2013

InjMg XVII C

InjMg XVII C 28 Jul 13 (Luk 11:1-13)


Rekan-rekan yang budiman!
Didapat tiga pokok dalam Luk 11:1-13 yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XVII tahun C ini. Pertama tama Yesus mengajar murid-muridnya berdoa (ayat 1-4), disusul dengan perumpamaan mengenai orang yang tak sungkan-sungkan minta tolong seorang kawannya di tengah malam (ayat 5-8), dan diakhiri dengan sebuah pengajaran mengenai kekuatan doa (ayat 9-13).

MELIHAT YESUS BERDOA
Murid-murid meminta Yesus mengajar mereka berdoa sama seperti Yohanes Pembaptis mengajar murid-muridnya berdoa. Latar belakangnya ialah kebiasaan orang pergi menyepi ke padang gurun, menemui orang suci untuk mohon berkat dan doa yang dapat dibawa pulang sebagai bekal dan kekuatan. Praktek keagamaan rakyat seperti ini masih dijumpai di banyak tempat.
Pada awal petikan yang dibacakan hari ini disebutkan bahwa Yesus sendiri sedang berdoa. Tema ini kerap muncul dalam Injil Lukas. Yesus di mata Lukas ialah pribadi yang dekat dengan kekuatan-kekuatan ilahi. Di saat-saat puncak dalam kehidupannya Yesus ditampilkannya sebagai orang yang sedang berdoa. Dapat dicatat peristiwa-peristiwa berikut. Ketika Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis (Luk 3:21), Yesus berdoa dan membiarkan diri dikuatkan oleh kehadiran ilahi. Ia berdoa semalam suntuk di sebuah bukit sebelum menetapkan ke-12 muridnya sebagai rasul (Luk 6:12). Pilihan yang penting ini terjadi dengan mengikutsertakan kekuatan ilahi. Yesus berdoa sebelum menanyai murid-murid mengenai pendapat orang mengenai dirinya dan mendengarkan pendapat murid-murid sendiri (Luk 9:18). Kemudian Ia mengajak Petrus, Yakobus dan Yohanes ke gunung untuk berdoa dan dalam keadaan itu kemuliaannya tampak (Luk 9:28). Dan dalam bacaan hari ini, sebelum mengajar murid-muridnya berdoa, Yesus sendiri berdoa di sebuah tempat (Luk 11:1). Nanti di Getsemani sewaktu bergulat dengan dirinya sendiri apakah akan menerima kenyataan salib dalam hidupnya (Luk 22:41) Yesus berdoa. Akhirnya, di Golgota, di kayu salib, ia masih berdoa dua kali (Luk 23:34 dan 46). Itulah kesempatan-kesempatan yang secara khusus disebut Lukas. Ada saat-saat lain ketika ia juga berdoa, misalnya pada perjamuan terakhir dengan para murid (Luk 22:19) atau ketika Yesus mensyukuri karya ilahi dalam dirinya (Luk 10:21). Bagi Yesus berdoa ialah menaruh diri di hadapan Yang Ilahi yang dipercayanya sebagai Bapa. Ia membiarkan kekuatan ilahi menghidupinya. Dalam mengikuti perjalanannya ke Yerusalem, murid-muridnya makin menyadari hal itu. Lambat laun mulai jelas bagi mereka dari mana kekuatan dan keteguhan pribadi yang mereka ikuti itu. Maka mereka datang kepadanya minta diajar berdoa, minta diberi rumusan doa yang dapat mereka pegang untuk bekal hidup.

DUA VERSI
Rumusan doa yang disampaikan dalam Luk 11:2-4 lebih pendek daripada doa Bapa Kami yang biasa kita doakan yang didasarkan pada Mat 6:9-13. Baik Matius maupun Lukas sama-sama menggarap tradisi mengenai kata-kata Yesus tetapi dengan cara yang berbeda-beda. Bahan dari tradisi yang biasa disebut para ahli sebagai "Q" (Quelle = sumber) belum terkumpul ketika Markus menulis Injilnya. Memang Markus tidak memuat doa Bapa Kami. Lukas lebih mengikuti bentuk ringkas dalam sumber tadi, tetapi ia menyesuaikan beberapa rumusan agar terasa lebih cocok bagi orang-orang yang dilayaninya. Matius lebih mempertahankan rumusan asli tetapi menambah penjelasan di sana-sini dan hasilnya ialah doa Bapa Kami yang kita kenal sehari-hari.
Dalam Injil Lukas bagian yang memuat doa "Bapa Kami" memiliki peran yang berbeda dengan yang ada dalam Injil Matius. Ringkasnya begini, Matius menaruh doa tadi dalam konteks Khotbah di Bukit (Mat 5-7) yang menggariskan dasar-dasar kehidupan mereka yang ingin masuk menjadi umat Kerajaan Surga. Tetapi Lukas lebih menampilkan doa tadi sebagai cara Yesus membiarkan dirinya makin dipahami sebagai "sesama" oleh orang-orang yang dijumpainya dan yang menerimanya. Dapat dilihat kembali ulasan mengenai orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37) dan kisah Marta dan Maria (Luk 10:38-42).

LIMA PERMOHONAN KEPADA BAPA
Doa yang diajarkan Yesus menurut Lukas itu memuat lima permohonan yang diawali dengan sapaan "Bapa". Di sini terungkap keakraban Yesus dengan Tuhan Yang Mahakuasa. Sebutan "Bapa" (kata Aramnya "Abba") itu sebutan akrab tapi hormat yang biasa dipakai seorang anak kepada ayahnya, jadi agak berbeda dengan "Pak" yang bisa dipakai kepada siapa saja yang dihormati atau dituakan. Dengan mengajak murid-murid berani memanggil Tuhan dengan sebutan ini Yesus mau menaruh diri sebagai sesama dengan siapa saja yang bakal memakai doa ini. (Matius mengungkapkan hal ini dengan "Bapa kami yang ada di surga", untuk juga mengingatkan bahwa doa ini memang diserukan kepada Tuhan yang Mahakuasa yang ada di surga.) Bekal yang diperoleh ialah sesama yang tak lain tak bukan Yesus sendiri. Adakah yang lebih memberi rasa aman?
Yesus juga memakai seruan "Bapa" di Getsemani ketika memilih mengikuti kehendakNya (Luk 22:42), dan kemudian dua kali lagi ketika di salib, yang pertama untuk memintakan ampun dari Bapanya bagi orang-orang yang menyalibkannya (Luk 23:34), dan kedua kalinya pada saat ia menyerahkan nyawanya kepada BapaNya (Luk 23:46). Inilah cara Lukas menunjukkan bagaimana Yesus mau menjadi sesama manusia sekalipun berarti ia harus menempuh perjalanannya ke salib hingga akhir.
Dengan latar tadi lima permohonan yang tercantum dalam doa itu akan terasa makin dalam artinya:
1. "Bapa, dikuduskanlah namaMu" (ayat 2a). Diminta agar kehadiran yang Mahakuasa itu tetap dapat dialami sebagai kehadiran yang keramat sekalipun Ia membiarkan diriNya disapa sebagai Bapa. Dengan cara ini barulah jagat ini akan makin memuliakanNya.
2. "Datanglah KerajaanMu". Mulai dari Luk 4:14 Yesus mewartakan dunia baru yang dilindungi oleh kekuatan Roh Ilahi sendiri, dan oleh karenanya dunia itu disebut KerajaanNya. Amat ditekankan dalam Injil Lukas, dalam dunia yang baru ini batas-batas antara orang kaya dan kaum miskin dibuka. Bukan pertama-tama untuk mencampurbaurkan mereka begitu saja, melainkan untuk membuat masing-masing sadar bahwa bisa menjadi sesama bagi orang dari lapisan sosial yang lain, tak peduli yang mana. Matius menaruh gagasan dunia baru dalam ukuran-ukuran alam semesta dengan menambahkan ungkapan "jadilah kehendakmu di atas bumi seperti di dalam surga".
3. "Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya". Didoakan agar Bapa tetap memberi apa saja yang dibutuhkan, tidak lebih tidak kurang, untuk hidup dari hari ke hari, tentu saja agar orang makin dapat hidup di dalam KerajaanNya. Semangat membiarkan diri diperhatikan Bapa dengan tidak "menimbun makanan" itu sebenarnya jalan yang paling nyata untuk merasakan kehadiran Bapa di dalam kehidupan ini. Begitu juga dalam diri orang yang membiarkan diri menjadi sesama bagi yang lain dengan memberi perhatian secukupnya, tidak berlebih-lebihan dengan akibat mengecilkan orang yang menerimanya.
4. "Dan ampunilah kami dari dosa-dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami". Permohonan ini diajarkan Yesus untuk membuat murid-muridnya belajar mengambil sikap pengampun, sikap batin yang memberi kemerdekaan bagi diri sendiri dan bagi orang yang pernah berlaku salah. Tidak disangkal pengampunan ini tidak mudah dan acap kali juga disertai rasa pedih. Yesus yang disalib yang memintakan ampun kepada Bapanya bagi orang-orang yang menyalahinya itu mengalami kesakitan badan dan kepedihan batin. Sering sikap mengampuni yang disertai penderitaan di dalam ini tidak terlihat. Tak berlebihan juga bila kita gambarkan Tuhan sendiri tidak melihatnya. Ia bukan Tuhan yang selalu mau mengawasi apa yang terjadi dalam batin manusia. Ia menghormati kemerdekaan manusia. Dan itulah kebesaran Tuhan juga. Namun, kepedihan yang tersimpan dalam itu satu saat dapat dibukakan kepadaNya sebagai keikutsertaan dalam sikap hidup pengampun dari orang yang ditegaskanNya sendiri sebagai Anaknya yang terkasih (pada peristiwa baptisan Yesus dan penampakan kemuliaannya di gunung) dan yang dimintaNya sendiri agar didengarkan (di dalam peristiwa penampakan kemuliaan di gunung). Dengan ini semua, mustahillah pada saat akhir nanti Tuhan bakal memperhitungkan kesalahan kita yang seberat apapun. Tak ternalarkan Ia tega membiarkan kita tanpa pengampunan.
5. "Dan janganlah membawa masuk kami ke dalam percobaan." Dalam Injil Lukas, percobaan ialah wilayah kekuatan-kekuatan yang jahat, yang gelap, yang pasti akan menelan manusia bagaimanapun juga kekuatan pribadinya. Menakutkan. Terjemahan "janganlah membawa masuk kami" dapat memberi kesan menuntun masuk ke suatu ujian agar orang makin tabah, makin terlatih, makin kuat. Yang lebih cocok ialah "janganlah membiarkan kami masuk" ke dalam wilayah daya-daya maut tadi. Tak ada heroisme apapun hendak diajarkan dalam perkara ini. Oleh karenanya Matius, dalam versinya, menyertakan kalimat tambahan yang menjelaskan maksud permohonan ini: "tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat". Satu-satunya orang yang pernah masuk dalam kuasa yang jahat dan dapat keluar lagi ialah Yesus sendiri. Tetapi juga semua Injil Sinoptik mengatakan ia disertai Roh (Mrk 1:12; Mat 4:1; Luk 4:1). Ia memang memasuki wilayah yang gelap, tetapi ia tetap berada dalam bimbingan Roh Tuhan sendiri. Iblis tidak bisa berbuat banyak, walaupun tetap menunggu saat yang baik. Saat ini tiba ketika Yudas masuk dalam percobaan dan tidak keluar lagi.

TANPA SUNGKAN-SUNGKAN
Perumpamaan yang disampaikan dalam Luk 11:5-8 mengenai orang yang datang membangunkan kawannya untuk minta tolong itu mengajarkan agar orang tak sungkan-sungkan mengajukan permohonan kepada Tuhan. Bahkan dalam perumpamaan itu orang tadi disebutkan "sikapnya yang tidak malu itu" (ayat 8). Terasa kembali kekuatan sapaan kepada Tuhan sebagai "Bapa" yang diajarkan Yesus. Ditandaskan dalam ayat 9-13, tak terpikir ada seorang bapa yang bakal tak menggubris permintaan anaknya, atau memberi barang yang buruk dan yang bisa mencelakakan. Penalaran dari hidup sehari-hari ini dipakai untuk menegaskan bahwa Yang Mahakuasa pasti akan memberikan yang terbaik. Dan dalam rumusan Lukas, Ia akan memberikan Roh Kudus - kekuatan ilahi yang akan terus membimbing di dunia ini.

Salam hangat,
A.Gianto

Selasa, 16 Juli 2013

Renungan Harian: Minggu, 26 Mei 2013
Am 8:22-31; Rm 1:1-5; Yoh 16:12-15 – HR Tritunggal Maha Kudus

Roh akan Memimpin Kamu ke dalam Seluruh Kebenaran

Rencana Allah pada dunia dan hidup manusia merupakan misteri. Tak seorang pun  secara spontan dapat mengetahui dan memahaminya. Meskipun demikian, kita telah menjalani hidup di dunia ini. Untuk dapat memahami rencana Allah, dibutuhkan waktu dan proses yang lama. Di dalam proses itu manusia tidak berjuang sendirian tetapi membutuhkan bantuan dari Allah.
Kehadiran Yesus Kristus di tengah dunia merupakan satu anugerah dan rahmat yang besar bagi manusia. Lewat kehadiran Yesus Kristus yang adalah Anak Allah, dunia dan manusia secara perlahan tapi pasti akan memahami apa rencana Allah bagi dunia dan manusia. Hal ini karena apa yang disampaikan oleh Yesus Kristus bersumber dari  Allah. Segala yang dimiliki Yesus Kristus adalah milik Allah. Segala sesuatu yang dikatakan dan diperbuat oleh Yesus bersumber dari Allah. Tetapi, bagaimana cara dunia dan manusia memahaminya membutuhkan waktu dan Proses. Di dalam proses menuju pemahaman dan pengertian akan rencana Allah, Yesus menjanjikan seorang penolong yakni Roh Kudus. Dengan bantuan Roh Kudus, manusia memahami rencana Yesus bagi dunia dan manusia.
Bagaimana kita yang hidup dan tinggal di dunia ini, sudahkah kita memahami rencana Allah bagi dunia dan diri kita? Maukah kita terbuka untuk bekerja sama dengan Roh Kudus sang penolong yang dijanjikan Yesus? Semoga setiap kita mau dan berusaha untuk membangun keakraban dengan Roh, menegaskan segala tindakan di dalam Roh sebelum melakukannya, menjalankan segala sesuatu dengan bimbingan Roh, sekaligus membuat segala perencenaan dalam terang Roh Kudus. Karena Roh Kuduslah yang memimpin kita masuk dalam kebenaran (Dom).

Pelita Hati: Lewat kehadiran Yesus Kristus yang adalah Anak Allah, dunia dan manusia secara perlahan tapi pasti akan memahami apa rencana Allah bagi dunia dan manusia.