Keluargaku

Keluargaku

Selasa, 03 Juni 2014

St. Fransiskus Caracciolo


Fransiskus dilahirkan di daerah Abruzzi, Italia pada tanggal 13 Oktober 1563. Ayahnya seorang pangeran Neapolitan. Ibunya menyatakan memiliki hubungan dengan keluarga Aquinas darimana St. Thomas Aquinas, seorang kudus dari abad ketiga belas, berasal. Fransiskus menikmati masa kanak-kanak yang menyenangkan. Ia aktif dalam kegiatan olahraga. Kemudian, ketika usianya dua puluh dua tahun, suatu penyakit, sejenis penyakit kusta, menyerangnya hingga hampir membawa kematian. Pada waktu sakit itu, Fransiskus memikirkan hampanya kesenangan-kesenangan duniawi. Ia menjadi sadar bahwa kebahagiaan sejati hanya dapat ditemukan dalam sesuatu yang lebih mendalam. Fransiskus berjanji bahwa apabila kesehatannya membaik, ia akan mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan. Penyakitnya tiba-tiba lenyap begitu saja bagaikan suatu mukjizat. Fransiskus menepati janjinya. Ia mulai belajar untuk menjadi seorang imam.


Sebagai seorang imam yang baru ditahbiskan, Pater Fransiskus bergabung dalam suatu kelompok yang membaktikan diri demi pewartaan bagi orang-orang di penjara. Mereka memberikan perhatian pada para narapidana serta mempersiapkan para hukuman agar dapat meninggal dengan baik. Ia, bersama Pater Yohanes Agustinus Adorno, membentuk suatu kongregasi religius. Ketika Pater Adorno wafat, Fransiskus dipilih menjadi pemimpin biara. Ia sama sekali tidak merasa nyaman dengan jabatan barunya itu. St. Fransiskus demikian rendah hati hingga ia menandatangani surat-suratnya dengan, “Fransiskus, orang berdosa”. Ia juga mendapatkan giliran, bersama dengan para imam yang lain, menyapu lantai membersihkan tempat tidur dan mencuci piring.

Pater Fransiskus acapkali melewatkan nyaris sepanjang malam dengan berdoa di gereja. Ia menghendaki agar semua imam melewatkan sekurang-kurangnya satu jam setiap hari di hadapan Sakramen Mahakudus. St. Fransiskus begitu sering dan begitu fasih berbicara tentang kasih Allah bagi kita, hingga ia dikenal sebagai “pewarta kasih Allah.”

St. Fransiskus tidak berumur panjang. Ia wafat pada tahun 1607 dalam usia empat puluh empat tahun. Menjelang wafatnya, tiba-tia ia berseru, “Mari kita pergi!” “Ke manakah engkau hendak pergi?” tanya imam yang berada di sisi pembaringannya. “Ke surga! Ke surga!” demikian jawabnya dengan suara tegas serta penuh sukacita. Beberapa saat kemudian ia pun wafat. St. Fransiskus Caracciolo dinyatakan kudus oleh Paus Pius VII pada tahun 1807.

Senin, 05 Mei 2014

Injil Minggu Paskah IV/A

Injil Minggu Paskah IV/A 11 Mei 14 (Yoh 10:1-10)

TENTANG PINTU, GEMBALA YANG BAIK, DAN PEMIMPIN UMAT

Rekan-rekan!
Yoh 10:1-10 (Minggu Paskah IV tahun A) memuat dua perumpamaan yang terjalin erat satusama lain. Pertama, Yesus mengumpamakan diri sebagai pintu bagi kawanan domba. Kedua, ia mengibaratkan diri sebagai gembala bagi kawanan domba. Gambaran pintu dapat membuat orang berpikir mengenai jalan masuk yang dipakai pemilik domba-domba. Mereka yang masuk tanpa melewati pintu itu berniat mencuri, merampokdan tak bisa dipercaya. Mereka membuat kawanan dombamenjauhketakutan. Sebaliknya gembala masuklewat pintu dan memanggil kawanan satu persatu lalu memimpin mereka berjalan ke padang rumput. Bagaimana menafsirkan “pintu dan gembala” dalamInjil kali inidan mengembangkannya lebih lanjut? Bagaimana menerapkannya bagi keadaan sekarang?

TENTANG PINTU, GEMBALA, DAN PENCURI
Gagasan sesederhana seperti “pintu” bisa mengecoh. Langsung bayangan kita terarah pada jalan masuk, penyekat, penutup, pemisah antara yang di luar dan yang di dalam. Dan memang semuanya benar. Semakin disimak, akan semakin terasa ada hal lain yang hendak dikatakan. Padabagian awal petikan dikatakan bahwa yang memasuki tempat kawanan tanpamelalui pintu adalah pencuri dan perampok yang membuat kawanan ketakutan. Jadi gembala diperlawankan dengan pencuri dan perampok justru dalam hal masuk melewati pintu atau tidak. Dalam ay. 7jelas-jelas Yesus mengatakan dirinya itulah pintu bagi gembala. Ditegaskannya pula bahwa yang datang sebelum dia adalah pencuri dan perampok. Dapat disimpulkan, sebelum ia datang, kawanan itu tinggal di tempat yang tidak berpintu. Mereka ada di lapangan terbuka dan bisa dimangsa pencuri dan pembunuh. Kawanan itu tak terlindung. Kedatangan Yesus menjamin kehidupan mereka. Yang melalui “pintu” ini akan menemukan padang rumput. Pintu dan gembala seolah-olah menyatu.Dan memang itulah yang dimaksud dalam petikan ini. Tetapi mengapa justru dipakai gambaran pintu?

Kegunaan pintuialah menutup jalan atau membiarkan orang melewatinya. Yang ditutup ialah jalan masuk bagi orang yang tak berwenang untuk mengambil begitu saja hak milik orang lain. Hanya gembala yang bakal dibukakan pintu karena kawanan itu miliknya. Yang dibuka ialah jalan keluar ke padang rumput tempat kawanan dipimpin oleh sang empunya, bukan oleh orang sewaan. Pemimpin ini membawa kawanan itu ke tempat mereka bisa menikmati kesejahteraan.

Dengan menggambarkan diri sebagai pintu yang tadinya belum ada itu Yesus hendak mengajarkan bahwa kini telah mulai zaman baru. Dia yang datang ke dunia itulah yang menjadi pintu. Ia bakal membawa orang ke padang rumput, ke tempat sejahtera. Zaman ancaman yang tak dapat ditanggulangi sudah selesai. Kini ada pembatas jelas, yakni dirinya, sang pintu itu. Memang masih akan ada ancaman dari mereka datang tanpa lewat pintu itu. Tetapi kawanan sudah tahu bahwa mereka itu tidak bermaksud baik. Dan mereka itu tidak mengenal kawanan satu persatu. Mereka hanya akan merampas dan membawa mereka ke pembantaian, bukan ke padang rumput.

KIASAN DAN MAKNA GANDA
 Memang dalam teks Yohanes dipakai kata Yunani “thura” untuk mengungkapkan pintu jalan masuk dan keluar kebun, rumah, kandang. Dalam gambaran orang dulu, pintu berasosiasi dengan gerbang kota tempat orang berkumpul guna membicarakan urusan penting, untuk membawa perkara ke pada penguasa setempat yang bersidang di jalanmasukkota. Untuk ini memang ada kata Yunani lain, yakni “pulee”. Tetapi di sini kedua gagasan itu kiranya sengaja ditumpang-tindihkan agar tampil bayangan mengenai gembala yang memperlakukan kawanan dengan baik. Boleh dicatat, dalam bahasa Aram (bahasa Yesus) kedua gagasan itu biasanya terungkap dengan satu kata saja, tidak seperti bahasaYunani atau juga Ibrani. Namun tak usah kita membebani pembicaraan dengan amatan dari segi bahasa-bahasa ini. Kita anggap saja, bagi para pembaca Injil Yohanes, ibarat pintu memangmemunculkan dua gagasan tadi. Yang satu ialah jalan keluar masuk yang resmi, dan yang kedua, tempat orang dapat berkumpul membicarakan masalah karena di situ para tetua kota berkumpul (Ul 21:19 25:7 Ams 31:23), jadi semacam pengadilan (Mzm 69:13 127:5 Ayub 31:21 Amos 5:10) atau tempat orang mengadakan kontrak dan perjanjian dengan saksi yang sah (Kej 23:10 Rut 4:1). Di tempat seperti itulah orang boleh berharap memperoleh keadilan dan perlindungan.

Bagi orang zaman dulu, tiap pemimpin, entah itu raja atau Tuhan sendiri, bisa digambarkan sebagai gembala. Dalam Yeh 34 Tuhan digambarkan sebagai gembala yang baik yang melawan gembala-gembala jahat, yakni pemimpin yang bertindak tak adil. Demikianlah dalam petikan dari Yoh 10 kali ini dimunculkan gambaran seorang pemimpin baik yang datang membawakan keadilanbagi umat yang berkumpul menantikan dan mengharap-harapkannya. Ini semua dimungkinkan oleh ibarat “pintu” dan “gembala” yang datang lewat pintu itu. Pemimpin atau raja wajib memberi keadilan bila orang datang kepadanya. Sekali lagi gambaran ini sudah menjadi klasik dan termasuk dalam dunia alam pikiran orang waktu itu. Kenyataan sehari-hari tentu sudah berbeda karena kelembagaannya sudah berbeda. Namun demikian, “pintu” yang memiliki asosiasi dengan gerbang kota tadi dapat membuat orang berpikir mengenai tempat berkumpul menantikan tindakan seorang pemimpin yang mereka percayai. 

MENGIKUT SANG GEMBALA, BUKAN MENCONTOH
Setelah kekayaan ibarat pintu serta gembala dipahami, dapatlah didalami kelanjutannya. Dikatakan gembala memanggil kawanan satu persatu. Maksudnya, masing-masing domba dikenal gembala yang empunya kawanan itu tadi. Kawanan itu tidak diperlakukan secara anonim. Mereka tidak dianggap sebagai barang, melainkan sebagai pribadi. Hubungan antara pemilik dan kawanan itu hubungan pribadi. Bahkan bisa dikatakan tidak akan ada hubungan antara pemilik atau gembala dengan kawanan tadi bila tidak terjalin hubungan saling mengenal yang memberi rasa aman, rasa percaya.
Kita bolehingat, ketika disapa Yesus “Bu, kenapa menangis? Siapa yang kaucari?”, Maria Magdalena malah mengira sedang berhadapan dengan penjaga taman pekuburan. Hanyaketika Yesus memanggilnya dengan namanya, “Maria!” (Yoh 20:16), barulah Maria Magdalena mengenalinya. Begitulah sapaan pribadi membuatnya melihat siapa yang mendatanginya. Kembali ke ibarat gembala yang memanggil satu persatu kawanan yang akan dipimpinnya ke padang rumput tadi. Sapaan perorangan yang dialami dalam batin juga akan membuat orang mengenali kehadiran ilahi. Ia bukan orang yang tak dikenal yang membuat waswas. Begitulah pengalaman Maria Magdalena. Begitulah juga pengalaman para pengikut Yesus sepanjang zaman.
Disebutkan dalam Yoh 10:3, domba-domba itu mengikuti sang gembala. Mengikuti bukan berarti mencontoh, melainkan meniti jalan yang dibuka oleh yang berjalan di muka menuju ke padang rumput. Di dalam kesadaran para pengikut Yesus, pemimpin bukanlah dia yang meniru gembala sang empunya kawanan tadi, apalagi mengambil alih kedudukannya sebagai pemilik kawanan. Yang diberi kedudukan memimpin juga mengikuti dia yang menyapa satu persatu tadi. Mereka ini membantu agar kawanan bisa lebih melihat siapa yang berjalan di muka. Siapa saja yang merasa diajak memimpin juga akan memberi tahu sang empunya kawanan bila ada dari antara kawanan yang tertinggal dan tak menemukan jalan. Dalam Injil lain gembala yang empunya kawanan itu dikatakan akan mencarinya sampai ketemu (Luk 15:1-7 Mat 18:12-14).

Menurut adat kebiasaan, Paus menyebut diri “servus servorum”, harfiahnya ‘abdinya para abdi’. Yang dimaksud jelas bukanlah abdi dari sekalian abdi, abdi paling kecil, melainkan pembantu utama Yesus sang Gembala sendiri. (Bandingkan ungkapan “servus servorum” dengan “King of Kings”, Raja Besar, juga dengan “Song of Songs”, artinya Kidung Agung.) Jadi Paussendiri juga mengikuti Yesus sang Gembala, sang Empunya kawanan. Bukan Paus-lah pemilik umat. Ia membantu agar umat dapat mengarahkan diri kepada sang Gembala.
Kini dapatlah kita semakin menghargai siapa saja yang diserahi kedudukan ikut membawa umat lebih jauh ke depan. Mereka itu memungkinkan orang dapat mengalami kehadiran Gembala yang baik, sang Empunya kawanan dengan lebih nyata. Bila mereka menjalankan tugas mereka dengan sepenuh hati dan jujur, mereka tidak akan mengukuhi kawanan itu bagi mereka sendiri. Di situlah integritas pemimpin umat.

DARI BACAAN PERTAMA
Kis 2:14a.36-41 menyampaikan awal dan penutupan kotbah Petrus kepada orang-orang yang menyaksikan peristiwa datangnya Roh Kudus pada hari Pentakosta. Di situ Petrus menandaskan bahwa “Allah telah membuat Yesus yang kalian salibkan itu menjadi Tuhan dan Kristus”. Ternyatalah bahwa dia yang disalibkan itu – Yesus orang Nazaret – kini diangkat oleh Yang Maha Kuasa menjadi Tuhan dan utusan resmi dariNya sendiri. Salib yang dilaluinya kini menjadi jalan keselamatan bagi semua orang. Tetapi yang diwartakan Petrus lebih dalam. Pelaku penyaliban bertanggung jawab atas tindakan mereka, tetapi pertanggungjawaban ini bukan berupa hukuman melainkan hak untuk diselamatkan! Inilah teologi salib yang amat berani. Sekaligus ini penalaran yang menunjukkan betapa besarnya kemurahan ilahi. 

Salam hangat,
A. Gianto

Minggu, 04 Mei 2014

5 Mei
Santo Hilarius dari Arles, Uskup
Hilarius lahir kira-kira pada tahun 401. Ketika meninjak masa remajanya, Hilarius masuk biara santo Honoratus di Pulau Lerins, Prancis dan ditabhiskan menjadi Uskup Agung Arles pada usia 29 tahun. Ia juga diangkat oleh Sri Paus Leo Agung (440-460) sebagai Uskup Metropolitan di Propinsi Gerejawi itu. Dalam jabatannya itu, Hilarius tetap menghayati cara hidup sederhana seorang rahib, dan rajin melakukan pekerjaan-pekerjaan tangan demi kesejahteraan para fakir miskin. Ia dikenal sebagai seorang Uskup yang tinggi disiplin hidupnya dan aktif dalam karya-karya pastoral.

Ia memecat Uskup Chelidonius dan Proyektus dari jabatan karena kurang aktif dalam tugas dan kurang berdisiplin diri. Karena tindakan ini bukan merupakan wewenangnya, maka ia diberi peringatan tegas oleh Paus Leo Agung, dan diturunkan jabatannya sebagai uskup Metropolitan.
Meskipun demikian, ia tetap menjadi Uskup Arles, dan terus berkarya seperti biasa hingga hari kematiannya pada tahun 449. Hilarius, seorang uskup yang sederhana, miskin, rajin dan mahir menafsirkan Kitab Suci.

Kamis, 01 Mei 2014

1 Mei
Santo Yusuf Pekerja, Pelindung para Karyawan
Tradisi menuliskan pribadi Yusuf, suami Maria sebagai seorang tukang kayu di kota Nazareth. Ia seorang bangsawan yang saleh dan sederhana. Darah kebangsawanannya mengalir dari Raja Daud leluhurnya. Kesucian dan kesalehannya terlihat di dalam ketaatannya pada kehendak Allah untuk menerima Maria sebagai istrinya serta mendampingi Maria dalam membesarkan Yesus, Putera Allah yang menjadi manusia. Kesederhanaannya terlihat dalam pekerjaannya sebagai seorang tukang kayu, dan cara hidupnya yang biasa-biasa saja di dalam masyarakat.

Dalam pribadi Yusuf, pekerjaan tangan memperoleh suatu dimensi ilahi. Kerja meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Allah dan memungkinkan manusia turut serta di dalam karya penciptaan dan penyelamatan Allah. Atas dasar inilah gereja pada masa kepemimpinan Paus Pius XII menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari Raya Santo Yusuf Pekerja, sekaligus menetapkan sebagai Hari Buruh. Yusuf selanjutnya diangkat sebagai pelindung para karyawan/buruh yang bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Selasa, 04 Maret 2014

INJIL MINGGU PRAPASKAH I/A

INJIL MINGGU PRAPASKAH I/A 

9 Maret 2014 (Mat 4:1-11)

Rekan-rekan yang budiman!
Karena Injil bagi Minggu Prapaskah kali ini (Mat 4:1-11) akan diuraikan dengan panjang lebar oleh Matt sendiri, maka ulasan kali ini hanya menyangkut bacaan pertama, yaitu Kej 2:7-9 dan 3:1-7. Disebutkan pada bagian awal bagaimana Tuhan membentuk manusia dari “debu tanah”, yakni bahan yang ujudnya gumpalan-gumpalan berserakan belaka. Ini cara Alkitab menggambarkan sisi rapuh dari manusia. Namun sentuhan-sentuhan tangan ilahi memberinya bentuk. Begitu pula, hembusan nafas hidup dari-Nya menjadikannya makhluk yang hidup. Ini bukan hanya cerita melainkan penegasan iman yang berani. Bila tetap bersentuhan dengan Yang Mahakuasa dan membiarkan diri dihidupi oleh-Nya, maka serapuh dan seringkih apapun manusia akan se-nafas dengan-Nya. Karena itu manusia juga memiliki tempat kehidupan yang membahagiakan di firdaus. Tetapi, seperti dikisahkan dalam bagian kedua, manusia akhirnya menjauh dari pada-Nya karena terpukau ajakan sang ular yang memakai ujud manusia, bisa berkata-kata, bisa meyakin-yakinkan, tetapi yang melilit dan akhirnya melumpuhkan. 

Kisah memakan buah larangan tentu sudah lazim dikenal. Bila dimakan, maka buah itu, menurut sang ular, akan membuat manusia terbuka matanya dan tahu tentang “yang baik dan yang jahat” , artinya jadi mahatahu seperti sang Pencipta sendiri. Tetapi baiklah kita jeli menafsirkan hal ini dan tidak segera menghukum dorongan ingin tahu sebagai kesombongan manusia di hadapan Tuhan. Kan tak ada jeleknya ingin mengetahui apa saja. Bahkan bukankah ini ciri hakiki manusia? Coba kita ingat, manusia ditegaskan sebagai makhluk yang se-nafas dengan Dia Juga diceritakan dalam kisah firdaus yang tidak ikut dibacakan hari ini bagaimana manusia dibimbing Sang Pencipta agar memberi nama kepada semua makhluk hidup yang diciptakan-Nya (Kej 2:19-20). Maka manusia diberi kemampuan mengetahui apa saja yang bisa diketahui. jadi bukan di situ letak permasalahan serta kendala manusia. Memang dalam kisah kejatuhan manusia ditandaskan bahwa keinginan tahu akan segala sesuatu itu tidak tercapai dan mereka tidak menjadi seperti Tuhan sendiri. Yang diperoleh hanyalah kesadaran mengenai keadaan diri sendiri: telanjang (Kej 3:7). Begitu maka manusia menyadari keterpisahannya dengan Yang Ilahi. 

Yang membuat manusia menjauh ialah ketidaktaatan pada pesan jangan memakan buah pengetahuan baik dan jahat yang bisa mematikan (Kej 2:17). Bila dibaca ulang, akan menjadi jelas bahwa bukan larangannyalah yang ditekankan, melainkan pesan agar menjaga kehidupan yang dihembuskan ke dalam diri manusialah yang dilanggar. Manusia diminta agar memelihara keadaan se-nafas dengan-Nya. Tapi gagal.
Setelah makan buah larangan, memang manusia menyadari keadaan diri sendiri, tetapi mengapa tidak langsung mati seperti terungkap dalam larangan tadi? Bisa dijelaskan bahwa maksudnya ialah manusia menjadi makhluk yang “mortal”, yang bisa mengalami kematian, seperti kenyataannya. Akan tetapi bisa pula dimengerti bahwa. sebenarnya kematian akan langsung terjadi pada saat manusia melanggar pesan tadi. Hanya kemurahan Tuhan sajalah yang mengurungkan kematian serta merta itu. Ini kiranya warta yang tersirat dalam kisah di atas. Semakin didalami, semakin terang bahwa kisah ini bukannya berpusat pada hukuman melainkan pada kerahiman-Nya. Memang manusia kini mengalami jerih payahnya menjaga nafas hidup yang diberikan Pencipta. Tetapi ia tetap disertainya dalam pelbagai cara. Dan hanya dengan demikianlah bisa dimengerti betapa keramatnya pesan menjaga kehidupan tadi. Dalam Injil kali ini oleh Matt akan ditampilkan seorang manusia yang mampu berteguh menghayati pesan ilahi menjalani kehidupan yang berasal dari pada-Nya seperti apa adanya. Tetapi baiklah kita dengarkan uraian Matt berikut ini.
Selamat menikmatinya! 

A. Gianto
================================================= 

Kawan-kawan yang baik!
Dengar-dengar pada hari Minggu pertama masa puasa sebelum paskah tahun ini akan kalian dengar kisah Yesus dicobai di padang gurun menurut Matius. Tahun lalu dari versi Luc, tahun depan tentunya dari Mark. Saya dan Luc (Luk 4:1-13) sebetulnya mengolah kembali catatan Mark (Mrk 1:12-13) dengan menyertakan bahan mengenai pembicaraan Yesus dengan penggodanya yang belum tersedia ketika Mark menyusun karangannya. Seluk-beluk selanjutnya tanya Gus; ia gemar menduga-duga maksud kami. Tapi ia malah minta saya menjelaskan sendiri, “biar rada otentik” bujuknya. 

Sebelum menulis Mat 4:1-11, saya sudah dengar dari Mark bahwa Yesus dibawa Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis selama 40 hari. Maksudnya, Yesus dibawa Roh sampai ke tempat itu dan tetap disertai oleh-Nya di sana selama itu. Luc memperjelas dengan mengatakan Yesus dibimbing Roh “di” padang gurun. Jadi Yesus tidak ditinggalkan Roh yang turun ke atasnya pada waktu menerima baptisan (Mrk 1:10 Mat 3:16 Luk 3:22). Catatan Oom Hans malah menyebut Yohanes Pembaptis melihat Roh turun dari langit dan tinggal di atas Yesus (Yoh 1:32). Tolong ini diingat bila kalian menguraikan teks kami. 

Tak usah kisah itu ditafsirkan sebagai kisah tentang orang yang luar biasa laku tapanya sehingga mampu mengalahkan godaan sebesar apapun seperti yang digambarkan dalam kakawin Arjunawiwaha, mahakarya sastra Jawa Kuno itu. Kami tidak ada maksud menampilkan Yesus sebagai manusia sakti atau petapa digdaya, ksatria suci yang siap menempur si angkara murka Niwatakawaca, bukan pula sebagai manusia teladan yang dijadikan tauladan. Tujuan kami berbeda. Yesus kami wartakan sebagai manusia yang disertai Roh, bukan agar dikagumi dan dicontoh, melainkan agar diikuti. Dia itu yang diutus Yang Mahakuasa kepada semua orang untuk membawa kita semua kembali ke diri kita yang sejati. 

Ada tiga godaan. Yang pertama yakni mau mengurus semuanya sendiri sehingga tak ada kesempatan mendengarkan isyarat-isyarat ilahi. Akhirnya Yang Ilahi tak masuk dalam pola bertingkahlaku. Mau merebut yang termasuk wilayah Sana. Ini godaan besar. Kami mengatakannya dengan memakai lambang dari dunia orang Yahudi. Yesus lapar dan digoda agar mengubah batu jadi makanan. Ingat kisah umat pilihan yang kelaparan dan kehausan di padang gurun dulu dan mulai menyangsikan Tuhan, mereka datang ke Musa minta mukjizat (Kel 17:1-7). Ini namanya mencobai Tuhan. Mukjizat akhirnya terjadi, tapi mukjizat yang diminta dengan paksa itu cuma menepis rasa haus, tidak memuaskan batin. Yesus tidak memaksa batu jadi makanan, seperti dulu Musa yang terpaksa membuat padas kersang memancarkan air segar. Memang Yesus lapar, tapi ia tidak menukar kesertaan Roh dengan makanan. Ia tetap Anak Allah, maksudnya, orang yang amat dekat dengan-Nya sampai dapat membiarkan-Nya sendiri terlihat. Ia anak Allah bukan dalam arti yang hendak diisikan oleh penggoda: pembuat mukjizat untuk diri sendiri. Yesus yang disertai Roh itu bersedia hidup dari sabda ilahi yang menyebutnya “anak terkasih” yang diperdengarkan pada saat ia dibaptis. 

Godaan kedua lebih berat. Menjatuhkan diri dari puncak Bait Allah agar Allah sendiri mau tak mau menyelamatkan. Jadi memaksa-Nya bikin mukjizat! Apakah Ia akan membiarkan Yesus binasa terbanting? Dan apa malaikat-malaikat akan berpangku tangan nonton saja? Kan tertulis dalam Mzm 91:11-12 bahwa Allah akan menyuruh malaikat-malaikat menadahi kakinya agar tak terantuk batu, begitulah bisikan Iblis. Ia juga mahir memakai Kitab Suci dan menafsirkannya bagi tujuan sendiri. Tetapi Roh menjernihkan budi Yesus sehingga ia tetap melihat kedudukan dirinya sebagai Anak Allah sejati. Tidak mau mencobai Dia. Roh juga mengarahkan ingatan pada ayat suci Ul 6:16 yang melarang orang membiarkan diri dikuasai perasaan ragu akan Yang Mahakuasa. Jadi, tak usah gentar pada Iblis, ada Roh yang menyertai kalian. Biarkan Roh menjernihkan kembali tafsir yang dikisruhkan Iblis. 

Godaan ketiga makin gencar. Yesus ditawari kekuasaan atas seluruh dunia beserta kemegahannya. Syaratnya, sujud menyembah Iblis. Semakin dipikir semakin mengerikan. Iblis bisa menawarkan dunia dan kemegahannya. Berarti semuanya bisa dialihmilikkan begitu saja oleh Iblis! Dan kalian hidup di dunia yang begitu itu. Untunglah ini baru wacana, belum kejadian yang nyata. Baru menjadi nyata kalau Yesus menurutinya. Syukur tidak. Roh tetap menyertainya dalam berteguh pada pilihannya. Karena itu penggoda kehabisan akal dan tersingkir oleh daya Roh. 

Nanti Yesus menjadi Kristus Raja Alam Semesta seperti kalian tahu. Tapi ini terjadi karena ia tetap meniti jalan ilahi, tidak mengikuti lorong satani. Ia tidak mendahului langkah-langkah Roh. 

Dalam semua godaan itu Yesus berpegang pada ayat-ayat suci, semuanya dari Kitab Ulangan; ay. 4 = Ul 8:3; ay. 7 = Ul 6:16; ay. 10 = Ul 6:13.) Apa intinya? Seruan untuk mementingkan Dia Yang Mahatinggi itu. Tiga ayat suci itu memberi ruang bagi sabda yang datang dari Dia, bagi kesungguhan-Nya melindungi, bagi kebesaran-Nya.
Mau mengenali si penggoda dari dekat? Dalam petikan yang kalian bacakan itu ia tampil sebagai “diabolos” (= Iblis, ay. 1, 5, 8, 11), “peirazoon” (= pembujuk, ay. 3), dan “satana” (= setan, ay. 10). Yang ketiga ini bahkan diucapkan oleh Yesus sendiri. Sayang dalam terjemahan LAI, kata “setan” dalam ay. 10 itu cuma dialihkan jadi “Iblis” – kata yang sudah beberapa kali dipakai. Yesus kan menggertak, “Enyahlah, Setan!” Hardikan ini terdengar sekali lagi dalam kesempatan lain, lihat di bawah. 

Penggoda tampil pertama-tama sebagai “Iblis”, Yunaninya “diabolos”. Menurut arti kata itu, pekerjaannya ialah memecah belah pikiran dan membuat hati bercabang. Ia mau menduakan perhatian Yesus yang sepenuhnya terarah kepada Bapanya. Iblis mau membuatnya berorientasi pada dia juga. Perhatikan yang dikatakan dalam ay. 8 ketika Iblis menawari Yesus kekuasaan akan dunia dan kemegahannya. Ia tidak meminta Yesus meninggalkan Yang Mahakuasa. Iblis cuma ingin agar dirinya ikut diakui oleh Yesus. Itu cukup. Jadi inti godaannya ialah menyisihkan sedikit tempat bagi Iblis dengan imbalan seluruh isi dunia dan kebesarannya. Pemikirannya begini: ah, Yang Mahakuasa kan sudah punya apa saja, kalau kita ada simpanan rahasia sedikit tak apa kan? Apalagi kalau sedang tak beres hubungan dengan Dia, ke mana kita akan sembunyi? 

Tetapi Yesus mengusir Iblis dan menghardiknya sebagai “setan”. Kalian ingat peristiwa pemberitahuan pertama mengenai penderitaan Yesus? Langsung Petrus berusaha mencegah agar Yesus tidak terus berjalan ke arah penderitaan itu. Yesus berpaling dan mengucapkan (Mat 16:23 Mrk 8:33) “Enyahlah setan!” seperti ketika menggertak penggoda tadi. Petrus mau menduakan perhatian Yesus. Lihat betapa lembutnya godaan itu. Setan pintar menabur benih perseteruan di dalam batin manusia sendiri. Ia menuduh-nuduh apa cara hidupmu ini benar, apa yang ini yang terbaik, kok ndak gini saja, dst. Ia membimbangkan, ia membuat orang jadi ragu-ragu. Ia itu bisa terasa amat dekat, bahkan kayak orang kepercayaan. Dalam Injil, setan itu bukan jejadian yang membikin bulu kuduk berdiri kayak yang disuguhkan tontonan horor di TV kalian. Ia punya wajah kalem tapi diam-diam menjerumuskan ke jalan buntu. 

Heran bahwa hardikan keras kepada Petrus di atas tidak ikut disebut Luc? Tapi kawan kita ini kiranya mau menyampaikannya dengan cara lain. Segera setelah pemberitahuan pertama mengenai sengsara (Luk 9:22), Luc mengutipkan beberapa ajaran tegas Yesus tentang arti mengikutinya..., baca Luk 9:23-27. Seluk-beluknya tanya sama Luc sendiri, atau minta Gus menjelaskannya nanti. 

Bagaimana membeda-bedakan yang benar dari yang tipuan? Sendirian kita tak bisa. Hanya dengan bantuan Roh kita akan mendapati jalan kebenaran. Tak bisa dengan kekuatan sendiri saja. Tak mungkin dengan keberanian belaka. Tak cukup dengan laku tapa melulu. Bahkan berkutat menjalani retret Ignatian sebulan tak akan membekali kalau dalam waktu itu belum bisa belajar membiarkan diri disertai Roh. 

Memang tak gampang mengenali “pembujuk”, Yunaninya “peirazoon” yang maknanya “dia yang berusaha meyakin-yakinkan dengan niat menipu dan menjatuhkan”. Orang dulu paling takut pada cobaan seperti ini. Pasti kalah. Pada akhir doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus dan diteruskan Luc secara apa adanya (Luk 11:4) itu ada permohonan, “Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan”. Untuk menjelaskan lebih lanjut, saya perluas rumusannya dengan “tapi bebaskanlah kami dari yang jahat”(Mat 6:13). Godaan itu alam yang jahat yang amat mengerikan. Manusia tak bisa melawan. Satu-satunya yang bisa dilakukan ialah minta Bapa melepaskan dari kuasa jahat itu. Dan Ia menjalankannya dengan kekuatan yang datang dari-Nya sendiri, yakni Roh. Ingat juga, nanti di Getsemani Yesus tergoda untuk ambil jalan lain, tapi ia tetap mendekatkan diri kepada Bapanya (Mrk 14:36 Mat 26:39 Luk 22:42). 

Begitulah di padang gurun Yesus berjumpa dengan “diabolos”, Iblis pemecah belah, bertemu “peirazoon”, pembujuk yang menyebar benih permusuhan, dan bertatap muka dengan “setan” yang mau menyeretnya ke jalan sesat. Yesus berhasil keluar dari padang gurun karena ia tetap disertai Roh. Tokoh utama dalam kisah di padang gurun itu Roh sendiri! Kalian amati gerak geriknya ketika menyertai Yesus dan ambil hikmatnya! Bagaimana kita tahu kita didampingi Roh? Bila kita ikuti jalan Yesus, bila tidak kita sangsikan kesungguhan Yang Mahakuasa, dan bila kita membiarkan diri dituntun kekuatan dari atas untuk mengerti kebesaran ilahi yang sesungguhnya. Itulah langkah-langkah membuka diri bagi bimbingan Roh.
Semoga kalian tetap didampingi Roh! 

Matt 


Selasa, 04 Februari 2014

St Agatha


Santa Agatha, 5 Februari

Seorang gadis Kristen nan cantik bernama Agatha hidup di Sisilia pada abad ketiga. Gubernur mendengar kabar tentang kecantikan Agatha dan menyuruh orang untuk membawa gadis itu ke istananya. Ia menghendaki Agatha melakukan dosa melanggar kesuciannya, tetapi Agatha seorang gadis pemberani dan pantang menyerah. “Yesus Kristus, Tuhanku,” ia berdoa, “Engkau melihat hatiku dan Engkau mengetahui kerinduanku. Hanya Engkau saja yang boleh memilikiku, oleh sebab aku sepenuhnya adalah milik-Mu. Selamatkanlah aku dari orang jahat ini. Bantulah aku agar layak untuk menang atas kejahatan.”

Gubernur mencoba mengirim Agatha ke rumah seorang wanita pendosa. Mungkin saja gadis ini akan menjadi jahat pula. Tetapi Agatha menaruh kepercayaan yang besar kepada Tuhan dan berdoa sepanjang waktu. Ia menjaga kesucian dirinya. Ia tidak mau mendengarkan nasehat-nasehat jahat wanita dan anak-anak perempuannya itu. Setelah sebulan berlalu, Agatha dibawa kembali kepada gubernur. Sekali lagi gubernur berusaha membujuknya. “Engkau seorang wanita terhormat,” katanya dengan lembut. “Mengapa engkau merendahkan dirimu sendiri dengan menjadi seorang Kristen?” “Meskipun aku seorang terhormat,” jawab Agatha, “aku ini seorang hamba di hadapan Yesus Kristus.” “Jika demikian, apa sesungguhnya arti dari menjadi terhormat?” tanya gubernur. Agatha menjawab, “Artinya, melayani Tuhan.”

Ketika gubernur tahu bahwa Agatha tidak akan mau berbuat dosa, ia menjadi sangat marah. Ia menyuruh orang mencambuk serta menyiksa Agatha. Sementara ia dibawa kembali ke penjara, Agatha berbisik, “Tuhan Allah, Penciptaku, Engkau telah melindungi aku sejak masa kecilku. Engkau telah menjauhkan aku dari cinta duniawi dan memberiku ketabahan untuk menderita. Sekarang, terimalah jiwaku.” Agatha wafat sebagai martir di Catania, Sisilia, pada tahun 250.

“Dengan teladannya ia mengajar kita untuk bergegas menuju kebenaran sejati, yaitu Allah saja.” ~ St. Metodius

Senin, 03 Februari 2014

INJIL MINGGU BIASA V/A



INJIL MINGGU BIASA V/A 9 Feb 14 (Mat 5:13-16)

Rekan-rekan yang baik!

Dalam bacaan Injil Minggu V tahun A kali ini, Mat 5:13-16, ditegaskan bahwa para murid adalah “garam” dan “terang” bagi dunia. Pernyataan ini kerap mendorong agar orang berusaha sekuat tenaga menggarami dunia serta meneranginya. Dunia ini seakan-akan tempat yang hambar dan gelap belaka dan karena itu perlu diselamatkan. Itukah yang hendak diajarkan kepada para murid? Injil sebenarnya mengajarkan hal lain, yakni agar para murid tidak membiarkan diri luntur identitasnya dan bakal didiamkan orang. Bagaimana penjelasannya? Marilah kita ikuti pembicaraan mengenai garam dan terang sebelum memasuki teks Injil.

TENTANG GARAM
CHRIS: Kita ini sering berpanjang-panjang bicara tentang garam dan terang, bagaimana sih menerapkannya bagi orang sekarang, lebih-lebih bagi umat paroki sini.

GUS: Romo, di paroki sini atau di Vatikan garam sama-sama mengurangi rasa hambar. Omong-omong, ini nih Paulus bilang kepada umat Kolose (Kol 4:5-6): “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada. Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” Latinnya ayat 6 gurih rasanya: “Sermo vester semper in gratia sale sit conditus....” 

CHRIS: Jadi bagi Paulus kata-kata yang bijak penuh kasih itu seperti makanan yang gurih diresapi garam!
GUS: Nah, tidak berputar-putar kan? Paulus menolong kita mengerti bahwa garam itu membuat orang bisa membawakan diri. Maklum orang perlu bergaul dengan “orang-orang luar”, bukan hanya kalangan sendiri. Kolose itu pusat perdagangan dan industri wol zaman itu, kayak daerah industri Tangerang dan Bekasi yang menyerap tenaga kerja dari mana-mana. Para manajer di Kolose banyak yang sudah jadi umat; mereka itulah yang disurati Paulus.

CHRIS: Apa hidup sebagai terang dunia juga bisa dipandang dengan cara itu?

GUS: Terang menyingkirkan gelap, membuat pikiran bisa memilah-milah, membuat orang ber-discernment, tahu jalan yang benar, menjauhi cara-cara yang asal saja. 

CHRIS: Jadinya ingat Kol 1:12. Paulus bersyukur dengan penuh sukacita kepada Bapa yang telah membuat kaum beriman di Kolose layak mendapat bagian di dalam kehidupan “orang-orang kudus dalam terang”. Jadi hidup dalam kekudusan walau masih berpijak di bumi. 

GUS: Pikirannya begini. Para murid sudah dilepaskan dari kuasa kegelapan – seperti dimaksud Paulus dalam ayat berikutnya. Mereka hidup dalam alam yang sudah dibuka oleh Yesus.

CHRIS: Maksudnya merdeka dari kekuatan-kekuatan yang mengungkung, meski masih di dunia ini? Dan kita musti kreatif, tidak hambar dan kabur?

GUS: Akur! 

MENYIMAK Mat 5:13-16
Murid-murid disebut “Kamulah garam dunia...!” (ay. 13a). Bukannya diserukan agar mereka “menjadi” garam. Yang dimaksud ialah agar mereka tetap sebagai garam. Perkaranya, bagaimana bila dayanya hilang dan jadi hambar (ay. 13b)? Ini terjadi bila murid kehilangan identitasnya. Garam yang hambar tak berguna, bakal dibuang, diinjak-injak (ay. 13c). Murid yang tak bisa ikut membuat dunia ini makin awet dan enak didiami dengan sendirinya tidak menyumbang banyak. Sayang! 

Para murid juga dibaratkan sebagai “terang dunia” (ay. 14a). Menyusul dua contoh. Pertama, kota di atas gunung tentu saja terlihat dari mana-mana (ay. 14b). Murid-murid tak bisa menutup-nutupi diri, tak bisa bersembunyi. Cara hidup mereka pasti terlihat, tak peduli apakah orang akan mendatanginya sebagai tempat berlindung atau malah sebagai sasaran kedengkian. Bagaimanapun juga, yang melihatnya tidak bakal hanya mendiamkannya. Contoh selanjutnya makin jelas. Lampu menerangi seluruh ruang karena memang dipasang di atas, tidak ditutup dengan tempayan (ay. 15). Para murid memang ada di tempat yang memungkinkan mereka menerangi seluruh ruang. Hidup sebagai murid bukan urusan kesempurnaan pribadi, melainkan hidup menerangi lingkungan. Lebih tajam lagi ay. 16. Mereka hendaknya bersinar bagi semua orang sehingga perbuatan baik mereka dilihat dan orang-orang akan “memuliakan Bapamu yang ada di surga”.

PENGAJARAN DI BUKIT
Bacaan dari Mat 5:13-17 diangkat dari kumpulan ajaran Yesus yang pertama dalam Injil Matius, yaitu Mat 5-7. (Ada empat kumpulan lain, yakni Mat 10; 13; 18; 24-25.) Pada awal kumpulan pertama disebutkan, ketika melihat orang banyak, Yesus naik ke sebuah bukit dan mulai mengajar para murid yang datang kepadanya (Mat 5:1-2; lihat juga ulasan bagi hari Minggu IV yang lalu). Di situ ia mengucapkan delapan Sabda Bahagia (ay. 3-10) yang bersangkutan dengan kehidupan pada umumnya, (“Berbahagialah orang yang...!”). Sabda Bahagia yang ke delapan (ay. 10) menyebut berbahagia orang yang mengalami perlakuan buruk, dianiaya, karena mau melakukan kehendak Allah. Isi Sabda Bahagia ke sembilan, ay. 11, sama dengan yang ada dalam ay. 10 tadi, tetapi ditujukan langsung kepada para murid (“Berbahagialah kamu...!) yang mengikutinya ke bukit tadi. Mulai saat itu Yesus mulai berbicara mengenai kehidupan para murid sendiri.

Ada tiga hal yang boleh dicatat. Pertama, pembicaraan mengenai garam dan terang dunia itu menyangkut diri para murid sendiri. Kedua, konteksnya ialah pengalaman orang yang merasa dimusuhi karena melakukan kehendak Allah (ay. 10), dicela dan diperlakukan buruk karena Yesus (ay. 11). Ketiga, walaupun demikian, mereka diharapkan tetap bersuka cita dan bergembira (ay. 12), dalam bahasa sekarang, tidak kehilangan harga diri. Dalam konteks inilah pengajaran mengenai garam dan terang tampil sebagai pengajaran mengenai hidup para murid. Mereka diminta agar tetap berlaku sebagai garam dan terang kendati mereka dimusuhi. Mereka diharapkan berteguh dalam kesulitan. Inilah yang bakal membuat mereka ikut disebut “berbahagia”.
Di dalam masyarakat modern pelbagai macam nilai bermunculan silih berganti, segudang gagasan dipasarkan, pelbagai keyakinan diperjualbelikan. Di hadapan semua itu orang bisa ikut arus dan akhirnya tenggelam. Acap kali ada yang memilih jalan mudah dengan menentang semua yang beredar di dunia. Itukah pengajaran bagi para murid? Garam dan terang tidak mesti berkonfrontasi dengan dunia. Peran utamanya justru membuat dunia tak gampang membusuk dan malah semarak indah dilihat, bukan mencurigai dan memusuhinya.

MASYARAKAT YANG BERLAPIS-LAPIS
Dalam konteks pengajaran di Bukit, menjadi murid jelas bukan ditujukan bagi keselamatan sendiri atau demi keluhuran sang guru, melainkan agar orang banyak bisa melihat betapa Yang Mahakuasa yang di surga itu bisa dialami sebagai yang sebagai Bapa yang Maharahim. Perbuatan baik para murid menjadi jalan bagi Yang Mahakuasa agar terlihat oleh orang banyak sebagai Bapa!
Bisakah orang tetap menjadi garam dan terang di dalam masyarakat majemuk dan yang rumit susunannya seperti masyarakat zaman ini? Orang tak bisa tinggal hanya di dalam kelompok sendiri. Mau tak mau akan ikut berperan di dalam macam-macam tataran lain. Bisakah orang tetap punya identitas? Ya. Sekali ditaburkan, garam memberi rasa pada sayur. Begitu pula terang menyinari seluruh ruangan, tidak terbatas di satu sudut saja. Bila ada tempat yang tidak kena terang atau tidak tergarami, itu karena ada penghalangnya. Dalam masyarakat yang berlapis-lapis, para murid tidak hanya menggarami kelompok sendiri atau menerangi lingkungan terbatas. Yang terjadi pada satu tataran akan ada kelanjutannya di lapis lain pula. Katakan saja “garam dan terang dunia” itu membola dunia. Bila hanya setempat-setempat saja, maka hidup sebagai garam dan terang “bagi dunia” itu hanya tetap wacana belaka. Di era yang makin mengalami globalisasi ini, makin besar pula peran garam dan terang tadi. Yang tidak menjalankannya akan menjauhi kenyataan dan menjadi hambar, ambles, padam, tak masuk hitungan.

Hidup sebagai garam bukan berarti terjun mengasinkan orang-orang lain dengan menonjolkan ibadat serta rumus-rumus kepercayaan sendiri. Itu justru arah yang semakin ke diri sendiri, makin sungsang. Garam itu meluas, tidak menciut. Hidup sebagai terang berpusar ke luar, tidak berputar ke dalam. Maka usaha mendapat pengikut sebanyak-banyaknya ala kegiatan proselitisme bukan tafsiran garam dan terang dunia yang bisa dipertanggungjawabkan. Lalu apa?

Sekali lagi Mat 5:16 dapat dipakai sebagai pegangan. Para murid diminta agar melakukan perbuatan yang bakal membuat orang-orang bisa memuliakan Bapa yang ada di surga. Maksudnya ialah agar perbuatan dan tingkah laku para murid itu menjadi bentuk kehadiran Bapa di dunia ini. Kehadiran seperti ini tidak dapat dipaksa-paksakan kepada orang banyak. Hanya bisa dipersaksikan. Dan itu tidak selalu mudah dimengerti. Kerap kali sikap kurang menerima dan memusuhi berawal dari kurang mengenali apa yang sedang terjadi. Maka tindakan yang paling bijak ialah membuat agar didengar dan dikenal terlebih dulu secara apa adanya. Makin berlapis-lapis sebuah masyarakat, makin perlu identitas masing-masing kelompok tampil dengan jujur. Tanpa integritas, dengan mudah terjadi saling kecurigaan mengenai itikad baik masing-masing dan kesetujuan-kesetujuan bersama susah tercapai. Memang keragaman dapat mengakibatkan sikap apatis, luntur, ngikut aje, pindah-pindah. Tetapi justru garam dan terang bagi dunia itu akan menghilangkan rasa hambar dan mengendalikan kesimpangsiuran.

Salam hangat,
A. Gianto