Keluargaku

Keluargaku

Jumat, 13 April 2012

50 Fakta tentang pria :
1. Sebenarnya pria tak mencari wanita yang cantik, yang dicari adalah wanita yang enak dilihat Dan mempesona. (Untuk itu, IA selalu meminta Anda berdandan. Bukan karena IA Mata keranjang, tetapi mereka ingin Anda terlihat mempesona)

2. Pria sangat benci dikhianati. (Walau mereka egois, keras, Dan sok kuat, tetapi mereka adalah makhluk yang rapuh)

3. Detik ini IA menyukai Anda, beberapa detik kemudian, IA lupa Dan malah asyik bersama teman-temannya. (Hal ini wajar, tetapi bukan berarti Anda tak pernah Ada di hatinya)

4. Jika IA mengatakan “Ya, memang aku nggak ngerti kamu,” itu artinya pemikiran dia Dan Anda berbeda. (Bukan berarti tak bisa bersatu, tetapi coba untuk saling memahami satu sama lain)

5. Dalam sehari, IA akan sibuk bermain Dan menjalani aktivitasnya bersama teman-temannya. Tetapi percayalah, saat IA bersiap untuk tidur, Anda selalu terbersit di dalam benaknya. (Dan percayalah, mereka suka senyum-senyum sendiri saat membayangkan betapa cantiknya Anda Hari ini)

6. “Kamu lagi ngapain?” atau “Sudah makan belum?” adalah kalimat yang paling sering diucapkan pria saat di telepon. (Mereka memang bukan makhluk yang pandai berbasa-basi, tetapi mereka sungguh ingin tahu semua hal detail soal Anda)

7. Jika seorang pria benar-benar mencintai Anda, IA akan menerima Anda apa adanya. Tak peduli Anda gemuk, hitam atau berjerawat. (Mereka mungkin akan memberi saran pada Anda untuk diet saat Anda merasa gemuk, tetapi mereka tulus mencintai Anda)

8. Pria sangat tergila-Gila saat melihat senyuman Anda. (Untuk itu jangan memelihara cemberut di wajah Anda, tersenyum Dan buatlah IA semakin terpesona)

9. Pria akan melakukan apa saja untuk meraih perhatian Anda. (Termasuk memamerkan kisahnya dengan sang mantan, walau terkadang hal ini tak perlu diceritakannya pada Anda)

10. Pria tak suka jika Anda bercerita soal mantannya. (Walau kadang IA suka pamer soal mantannya kepada Anda, tapi IA sangat cemburu jika IA mendengar cerita soal mantan Anda)

11. Jika pria ingin bertemu dengan orang tua Anda, jangan ragu Dan malu. Ia serius dengan Anda lho!

12. Pria ingin selalu berbagi semua hal dengan Anda, namun terkadang IA tak bisa mengungkapkan semua hal dengan baik. (Untuk itu, jangan paksa dirinya bercerita jika memang IA belum siap untuk bercerita)

13. Sesekali, pria menangis. (Semua bayi, pria maupun wanita menangis, Dan pria dewasa juga memiliki rasa sedih, saat mereka kecewa Dan sedih, mereka pun bisa menangis seperti Anda. Berikan pelukan Dan dukungan padanya, karena Anda Ada untuknya)

14. Jangan berusaha membuat pria marah, karena mereka adalah makhluk temperamen yang mudah marah.

15. Pria adalah makhluk simple, mereka bukan tipikal yang selalu berharap Dan berandai-andai.

16. Pria akan mencoba mendapatkan hati wanita yang memutuskannya, sebelum akhirnya mereka berusaha melupakannya. (Inilah yang membuat mereka getol menelepon Anda setelah habis putus, Dan kemudian akhirnya menyerah karena Anda memberikan respon yang negatif)

17. Saat Anda membuat seorang pria jatuh cinta, selamanya IA tak akan pernah bisa melupakannya. (Untuk itu bisa dibilang pria lebih rapuh Dan sulit melupakan ketimbang wanita)

18. Jangan pernah berkata padanya, “Mmhhh… ah tidak lupakan saja” karena hal ini akan membuat IA bertanya-tanya Dan bahkan curiga pada Anda. (Seperti halnya wanita, mereka juga makhluk yang sensitif Dan ingin tahu)

19. Pria tak akan pernah bisa tidur, jika perlahan Anda mengusap punggungnya. Dan membelai lembut kepalanya. (Percayalah, jika Anda melakukan ini pada kekasih Anda, maka IA akan terus menerus merindukan Anda)

20. Pria selalu memiliki cara untuk memuji Anda (baca: merayu Anda)[break]

21. Jika pria ragu-ragu Dan terlihat berpikir keras saat Anda menyatakan pendapat atau meminta mereka melakukan sesuatu, artinya mereka tidak mau melakukannya. (Kebanyakan pria akan berbohong Dan melakukan hal yang tak ingin IA lakukan untuk wanita yang IA cintai. Tapi percayalah, mereka sangat menderita Dan merasa terkekang)

22. Jika Anda berkata tidak, yang Ada di dalam pikiran pria adalah “Akan aku coba lagi” (Masih ingat kan saat IA meminta Anda menjadi kekasihnya?)

23. Anda tak akan pernah bisa membuat pria mengerti dalam sekali berbicara saja. Mereka makhluk yang cerdas, tetapi terkadang sulit bagi mereka untuk mengerti Anda. (Begitulah pria menyebut wanita sebagai makhluk yang sulit dimengerti)

24. Pria benci gay! (Bukan bermaksud diskriminasi atau jahat, tetapi terkadang mereka tak habis pikir, mengapa seseorang bisa menyukai sesama jenisnya. Dan terkadang mereka malah takut Dan cenderung menutup pertemanan dengan mereka yang berhubungan dengan sesama jenis)

25. Pria sangat menyayangi ibunya.

26. Pria akan menyisihkan sebagian uangnya hanya untuk membeli hadiah kecil untuk Anda.

27. Pria sering berpikir tentang wanita yang mungkin menyukai mereka (termasuk is centil yang sering kali membuat Anda jengkel dengan SMS-SMS genitnya), tetapi bukan berarti mereka menyukai wanita itu lho.

28. Anda tak akan pernah bisa mengerti pria, kecuali Anda menyediakan waktu untuk mendengar keluh kesah mereka dan bukan melulu bercerita tentang diri Anda.

29. Jika seorang pria dengan sungguh-sungguh mengatakan, Anda adalah satu-satunya orang yang dicintainya, percayalah, perkataannya tulus dari dalam hati.

30. Bukan pria saja yang gemar bergosip, di antara teman prianya, mereka juga seringkali bergosip.

31. Wanita, adalah kelemahan setiap pria. (Mereka tak akan tahan melihat air mata jatuh dari mata Anda. Mereka juga tak suka melihat Anda bersedih)

32. Tak seperti wanita, pria lebih jujur dan terbuka tentang diri mereka. Mereka lebih menerima kekurangan apa adanya.

33. Boleh saja membuat pria penasaran pada Anda, tetapi jika digantung terlalu lama, mereka juga bisa bosan dan jenuh lho.

34. Percaya atau tidak, pria adalah juri yang adil dan baik.

35. Walau terkadang mereka berkesan jorok, tetapi pada dasarnya pria suka kebersihan, aroma wangi, dan keindahan.

36. Pria lebih suka pada wanita yang menghargai dirinya apa adanya.

37. Pria mencintai seorang wanita yang bisa menjadi sahabat, sekaligus kekasih baginya.

38. Jika ada seorang pria yang menceritakan masalahnya, Anda cukup mendengarkannya. Jangan beri nasehat atau menyalahkan dirinya.

39. Jika ada seorang pria menyukai Anda, lihat lebih jauh ke dalam matanya. (Mata adalah jendela hati, dan ia tak pernah berbohong)

40. Pria selalu memiliki cara untuk menghindarkan Anda dari pria lain. (Salah satunya dengan menolak diajak jalan ke mall)

41. Pria lebih menyukai wanita yang cerdas, ketimbang wanita yang hanya tahu soal make up dan rok mini.

42. Pria adalah sosok yang sok tahu, mereka malu bertanya kepada wanita apa yang diinginkan. Alhasil, tebakan mereka seringkali meleset.

43. Ketika pria menginginkan sesuatu, mereka akan membayangkannya. Tetapi mereka tak mau terlibat terlalu jauh. Mereka lebih cenderung memendam dalam-dalam keinginan mereka jika tahu keinginan itu sulit terwujud.

44. Pria adalah makhluk yang payah dalam soal rahasia. Mereka hampir tak bisa menyimpan rahasia dengan baik.

45. Terkadang, pria terlalu banyak berpikir negatif ketimbang positif.

46. Fantasi pria soal wanita adalah satu-satunya fantasi yang tak mungkin dibatasi. (Sekalipun mereka telah memiliki pasangan dan keluarga)

47. Tinggi badan mungkin bukan masalah yang terlalu penting bagi pria, tetapi mereka cukup peduli pada berat badan (wanita khususnya, termasuk Anda)

48. Jika pria mulai serius dengan hubungannya, maka mereka akan menjadi makhluk yang super posesif. (Inilah mengapa ia selalu berusaha menjemput dan mengantar Anda, serta selalu mengecek inbox message di dalam handphone Anda)

49. Jika Anda tahu bagaimana menaklukkan pria Anda, mereka tak akan pernah bisa jauh dari Anda.

50. Bagi pria, melupakan seseorang membutuhkan waktu yang lebih lama dari seumur hidup.


Sumber : http://deddyfhis.blogspot.com/2010/11/50-fakta-tentang-cowok-di-dunia.html

Selasa, 27 Maret 2012

Minggu Palma 1 April 2012 (Mrk 11:1-10 dan Passio Mrk 14:1-15:47)

Rekan-rekan yang baik!
Bacaan bagi perarakan Minggu Palma kali ini (Mrk 11:1-10) mengisahkan bagaimana Yesus disambut meriah oleh orang banyak ketika memasuki kota Yerusalem. Mereka telah mendengar pelbagai tindakan penyembuhan dan pengusiran roh jahat serta pengajarannya mengenai Kerajaan Allah. Mereka sadar, dia ini Mesias yang sudah lama ditunggu-tunggu. Harapan mereka, Allah segera akan membuat Mesias-Nya menunjukkan kebesarannya di kota suci-Nya. Dan memang akan terjadi demikian. Tetapi kebesaran Mesias ini sebenarnya berbeda dengan yang diidam-idamkan orang. Guna menyelaminya, marilah kita ikuti Kisah Sengsara pada Minggu Palma ini (Mrk 14:1-15:47) serta memetik hikmatnya.
Para imam kepala dan ahli Taurat merasa terancam oleh kehadiran Yesus karena ia hendak mengubah pusat ke-Yahudi-an, yakni Bait Allah, menjadi rumah doa bagi semua orang (lihat Mrk 11:17a = Yes 56:7) dan bukan sebagai lambang identitas orang Yahudi belaka. Mereka juga kurang merasa aman dengan pengajaran Yesus yang mengajak manusia berani mendekat kepada Allah dan memanggil-Nya "Bapa". Bagi para pemimpin tadi, sebutan ini sebuah hujatan. Oleh karenanya mereka berupaya menyingkirkan Yesus dengan "diam-diam", tanpa mengungkapkan alasan yang sesungguhnya (Mrk 14:2). Dan lewat penguasa Romawi, mereka berhasil membuatnya dihukum mati pada salib.
Bagi para pengikutnya, riwayat Yesus tidak tamat dengan penyaliban dan penguburannya. Ia tetap diingat. Kenangan ini menjadi sumber keteguhan kebenaran yang dipersaksikan Yesus di salib dan diakui oleh kepala pasukan (Mrk 15:39 "Orang ini benar Anak Allah"). Kenangan akan Yesus bahkan dikembangkan serta diperkaya dengan pengalaman orang-orang yang tidak mengenalnya secara pribadi. Dan kenangan ini menjadi sumber keteguhan iman mereka. Contoh paling jelas ialah tulisan-tulisan Paulus. Lain lagi Kisah Para Rasul yang menjelaskan keteguhan itu sebagai karya Roh Kudus. Injil-Injil kemudian menjelaskannya dengan memakai gagasan dasar yang berasal dari Yesus sendiri, yakni kedatangan Kerajaan Allah yang diperkenalkannya sebagai "Anak Allah", orang yang amat dekat pada-Nya. Begitulah Kerajaan Allah itu menjadi kenyataan dalam kehidupan. Orang diajak menyambut kerajaan ini dan semakin menghidupinya.
 SAAT-SAAT GELAP
Pengurapan Yesus di Betania oleh seorang perempuan (Mrk 14:3-9), seperti dikatakan Yesus sendiri, menjadi gelagat bagi perawatan jenazahnya nanti. Akhir hidupnya nanti juga menjadi pokok yang diutarakannya dalam perjamuan terakhir (Mrk 14:12-21). Dikatakannya, di antara murid-muridnya ada yang akan menyerahkannya kepada para imam (Mrk 14:21-22). Roti dan anggur yang dibagikannya pada kesempatan itu ditampilkannya sebagai tubuh dan darahnya - kehidupannya - yang sebentar lagi akan menjadi kurban yang meresmikan Perjanjian yang Baru (Mrk 14:22-24), maksudnya kesediaan Allah dan kesetiaan manusia. Inilah yang menumbuhkan Kerajaan Allah. Pada saat-saat ini dari pihak manusia yang diminta ialah kesetiaan, bukan cetusan kesediaan yang sulit dipenuhi. Petrus menyatakan bersedia mati bersamanya malah, tapi akhirnya mengingkarinya sampai tiga kali (Mrk 14:29-31; dan memang terjadi demikian seperti dalam Mrk 14:66-72).
Malamnya Yesus dan murid-muridnya berada di luar tembok kota bagian timur, di tempat yang bernama Getsemani. Sementara ketiga murid terdekatnya tertidur, Yesus berdoa menyerahkan diri pada kehendak Bapanya (Mrk 14:32-41). Akhirnya datang Yudas bersama para penangkap (Mrk 14:43-51). Penangkapan Yesus ini membuat murid-muridnya tercerai-berai, seperti nubuat Zakhariah yang dikutip Yesus (Mrk 14:27 = Zakh 13:7). Tapi mereka akan berkumpul kembali dengannya di Galilea (Mrk 14:28).
Malam itu juga Yesus digiring ke Sanhedrin, Mahkamah Agama yang berwenang mengadili perkara-perkara yang bersangkutan dalam kehidupan agama dan masyarakat Yahudi. Macam-macam tuduhan dilancarkan, tetapi tidak satu pun dapat ditunjukkan dasarnya. Saksi palsu mengatakan Yesus akan merusak Bait dan membangunnya kembali. Yesus tidak membela diri (Mrk 14:57-69). Ketika ditanya imam agung apakah ia itu Mesias, Yesus tidak menyangkal dan malah mengatakan bagaimana ia nanti akan dimuliakan di kanan Allah dan akan kembali ke dunia (Mrk 14:61-62). Jawaban ini dianggap hujatan dan mendatangkan hukuman mati. Tetapi Sanhedrin tidak dapat menjatuhkan hukuman mati. Maka mereka membawanya kepada penguasa Romawi, Ponsius Pilatus, dan mengajukan tuduhan politik, yakni Yesus menyatakan diri raja orang Yahudi (Mrk 15:1-3). Pilatus berusaha melepaskan Yesus dengan meminta orang-orang Yahudi memilih siapa yang patut dibebaskannya pada hari raya mereka: Yesus atau Barabas. Mereka menghendaki Barabas, yang justru seorang pemberontak dan pembunuh (Mrk 15:6-11). Pilatus terpaksa menuruti. Ia memutuskan Yesus disalib dan membiarkan serdadu-serdadu menderanya terlebih dahulu (Mrk 15:12-15) Mereka memasangkan mahkota duri di kepalanya dan mempermainkannya sebagai raja.
Yesus memanggul salib ke Golgota, nama Aram yang artinya "Tempat Tengkorak, sebuah bukit di kawasan barat Yerusalem. Di tengah jalan habislah tenaganya. Simon dari Kirene yang kebetulan lewat dipaksa memikul salib Yesus. Terpikir, seandainya tak ada Simon Kirene, bisa jadi Yesus tidak akan sampai ke Golgota dan sejarah umat manusia akan amat berbeda. Perjumpaan dengan orang yang tidak dikenal juga menjadi jalan penebusan umat manusia.
Penyaliban Yesus dicatat Markus terjadi pada pukul sembilan pagi, pada salibnya dipasang tulisan "Raja orang Yahudi" dan bersama dia disalibkan juga dua orang penyamun (Mrk15:25-26). Pada pukul tiga sore Jumat itu, ia berseru, "Eloi, Eloi, lema sabakhtani?", versi Aram dari Mzm 22:2 yang artinya "Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" Dalam keadaan sekarat ia diberi minum anggur asam. Inilah saat Yesus berseru dengan suara nyaring dan menghembuskan nafas terakhir (Mrk 15:37). pada saat yang sama tirai Bait Suci terkoyak dua dari atas ke bawah (Mrk 15:38) dan kepala pasukan di tempat penyaliban menyatakan bahwa Yesus itu benar Anak Allah (Mrk 15:39). Kematiannya disaksikan para perempuan yang telah mengikuti dan melayaninya mulai Galilea hingga ke Yerusalem (Mrk 15:40-42).
NARASI DAN KESAKSIAN
Bagian terakhir Kisah Sengsara menceritakan penguburan Yesus petang hari Jumat menjelang hari Sabat. Yusuf Arimatea, anggota Sanhedrin, mendapat izin dari Pilatus untuk menguburkan jenazah Yesus setelah mengkafaninya. Begitulah Yesus dibaringkan di pemakaman yang kemudian ditutup dengan batu. Maria Magdalena dan Maria ibu Yesus menyaksikan penguburan ini (Mrk 15:42-47).
Pelbagai macam dambaan, idaman, impian, perhitungan yang dikenakan pada Yesus kini memang ikut terkubur. Tetapi banyak dari harapan itu sebetulnya bukanlah yang diajarkannya, seperti halnya penegakan kembali kerajaan Daud, kejayaan politik serta kekuasaan bagi para pengikutnya di hadapan kaum mapan di Yerusalem.
Apa yang tersisa? Ada kesaksian yang tak diragukan dari orang-orang paling dekat dengannya, yakni bahwa pada dinihari Minggu, yaitu hari ketiga mulai dari hari penguburannya, mereka mendapati makamnya kosong tanpa ada yang memindahkan jenazahnya. Ia sudah bangkit! Para pengikut Yesus percaya bahwa Allah tidak membiarkan Yesus tetap berada di antara orang mati. Dia dibangkitkan! Yesus menerima hidup baru dari Allah Bapanya sendiri. Hidup baru ini  kini dapat dibagikannya kepada siapa saja. Inilah kenyataan Kerajaan Allah yang diajarkan oleh Yesus dan dipersaksikannya dengan salib, kematian, serta kebangkitannya. Yang percaya juga boleh berharap ikut serta dengan dia yang bangkit itu. Inilah harapan yang tak bisa terkubur.
Kisah Sengsara dalam Injil bukanlah laporan pandangan mata, melainkan sebuah narasi kesaksian orang-orang yang paham serta percaya bahwa sengsara dan kematian Yesus terjadi dalam rangka pengabdiannya untuk membangun kembali hubungan baik antara manusia dan Allah. Kisah sengsaranya memperlihatkan betapa merosotnya kemanusiaan yang menolak kehadiran Yang Ilahi. Ditegaskan dalam kesaksian ini bahwa orang yang pasrah menerima kehadiran Allah akan menerima kehidupan sejati - seperti Yesus yang kemudian dibangkitkan dari kematiannya. Kisah tragis manusia tak berdosa itu dipersaksikan bagi orang banyak bukan untuk memicu rasa terharu, melainkan untuk membuat kita makin menyadari sampai di mana kekuatan-kekuatan jahat dapat memerosotkan kemanusiaan. Juga untuk mempersaksikan bahwa Yang Ilahi tidak bakal kalah atau meninggalkan manusia sendirian. Inilah kabar baik bagi semua orang.
Kisah sengsara menurut Markus ialah bagian paling awal dari Injil dan baru mulai disusunnya pada awal tahun 70-an, jadi empat dekade sesudah Yesus wafat, dan di Roma, dan bukan di negeri tempat Yesus pernah hidup. Baru setelah itu disertakannya pula kisah-kisah mengenai tindakan dan pengajarannya di sepanjang perjalanan dari Galilea menuju ke Yerusalem tempat ia menderita sengsara. Sepuluh tahun kemudian Matius menyusun kembali tulisan Markus menjadi beberapa kumpulan pokok pembicaraan dan tindakan Yesus. Matius juga menyisipkan bahan-bahan mengenai perkataan Yesus yang sudah beredar waktu itu dan menyertakan bahan khas dari Matius sendiri, antara lain kisah kelahiran Yesus. Sementara itu, Lukas juga mengolah kembali Markus sambil menambahkan bahannya sendiri, seperti misalnya kisah kelahiran dan masa kanak-kanak Yesus. Lukas juga menyertakan bahan dari kumpulan kata-kata Yesus yang juga dipakai Matius. Baru pada tahun 90-an Yohanes menyelesaikan Injilnya. Ia tidak memakai Markus sebagai dasar seperti Matius dan Lukas. Ia menulis atas dasar gerak pengalaman batin orang percaya akan Yesus sang Sabda yang menerangi jagat.
Salam
A. Gianto

Rabu, 18 Januari 2012

Di Biara


Di Biara
Senin, 16 Januari 2012

Barangkali ini kisah cinta yang paling dalam dan mencemaskan, dimulai dengan tujuh kepala manusia yang ditemukan di tepi jalan di dekat Médéa, Aljazair, 90 kilometer dari ibu kota. Di antaranya dibungkus plastik dan tergantung di pohon-pohon. Akhir Mei 1996.
Tujuh kepala itu berasal dari tujuh biarawan dari bukit Tibhirine. Tak diketahui di mana tubuh mereka.
Dua bulan sebelumnya, lewat tengah malam, sekitar 20 orang bersenjata memasuki Notre Dame de l'Atlas, sebuah biara Trappis. Mereka bangunkan penghuninya, lalu dengan paksa mereka angkut orang-orang tua itu dalam sebuah konvoi mobil yang segera pergi. Dari sembilan biarawan, hanya dua yang luput.
Kemudian diketahui, para rahib warga negara Prancis itu diculik "Grup Islam Bersenjata" sebagai sandera. Grup itu menuntut agar pemimpin mereka yang ditangkap pasukan pemerintah Aljazair dibebaskan. Kalau tidak, para sandera akan mati.

Dan rupanya tak ada perundingan. Ketujuh biarawan itu pun disembelih, 21 Mei 1996.
Perang akhirnya juga memusnahkan para rahib Trappis di Tibhirine yang khusyuk berdoa, rajin bertani, dan rukun bertetangga itu: Perang Saudara Aljazair sejak 1991, ketika kaum "Islamis" melawan pemerintah yang menindas mereka dengan gerilya yang garang dan ganas. Kebrutalan kedua pihak akhirnya menjalar; grup-grup "Islamis" itu sendiri malah baku bunuh. Pembantaian kian sering. Sampai dengan tahun 2000, 150 ribu orang tewas.
Mengapa, dalam ketakutan, para rohaniwan itu tak mau meninggalkan bukit itu, bahkan menolak perlindungan pasukan pemerintah?
Tujuh tahun kemudian terbit sebuah buku John Kiser, The Monks of Tibhirine: Faith, Love, and Terror in Algeria. Dalam satu wawancara Kiser menawarkan sebuah jawab: kisah para padri itu adalah "sebuah kisah cinta". Kata "cinta", love, dalam bahasa Indonesia bisa juga berarti "kasih", dan agaknya itulah kaitan dan getar hati yang dalam yang membuat kesembilan rahib itu tak pergi dari Tibhirine.

Film Des hommes et des dieux, yang disutradarai Xavier Beauvois ( 2010), dengan takzim mengisahkan kembali hari-hari terakhir di biara itu. Tanpa menyimpulkan. Tapi satu adegan kecil agaknya menjelaskan. Biarawan tua Luc Dochier, yang jadi dokter bagi dusun kecil itu, tampak duduk di bawah pohon di samping seorang anak perempuan yang curhat kepadanya karena sedang jatuh cinta.
"Apakah Romo pernah jatuh cinta juga?" tanya remaja itu. Pernah, beberapa kali, jawab sang pastor, "Sampai akhirnya aku menemukan cinta yang lebih besar."
"Cinta yang lebih besar" itu tentu saja cinta kepada Tuhan. Juga cinta dalam Tuhan: kasih yang tak terlarai, tapi yang tak mudah, sebab kasih itu membuat iman tak berdiri sendiri, bahkan merapat dan bersentuhan dengan dunia yang berdosa, berbeda, dan tak terduga. Juga kasih itu tak mudah karena mampu mengubah seseorang hingga bersedia, seperti tulis Luc kemudian, menempuh "kemiskinan, kegagalan, dan kematian".
Di Tibhirine kegagalan dan kematian tegak di ambang pintu hari-hari itu. Dunia kesembilan orang itu ditodong: bisakah mereka, dengan kasih, menyelamatkan kegembiraan memanen ladang, menyapa tetangga, mempercayai orang lain, melagukan kidung syukur untuk sang Pencipta? Bukankah justru untuk itu mereka harus meninggalkan Tibhirine, membangun tempat lain? 

Bimbang mencekam. "Kita di sini bukan untuk bunuh diri kolektif," kata seorang padri yang ingin pergi, meskipun kemudian ia tinggal—dan mati.
Suatu malam, menjelang Natal, sepasukan gerilyawan menggedor pintu Notre Dame de l'Atlas. Komandannya, Ali Fayyatia, meminta agar para rahib itu memberi mereka obat atau mengobati temannya yang luka. Kepala biara, Christian de Chergé, menolak: persediaan obat terbatas dan orang dusun membutuhkannya.
Suasana tegang. Tapi di saat itu Christian menunjukkan harapannya kepada muslim yang memegang bedil di depannya itu. Dikutipnya ayat Quran, bahwa yang dekat di hati muslim adalah mereka yang menyatakan diri Nasrani—dan dalam Surah Al-Maidah memang disebut contoh orang Kristen yang baik itu: "para pendeta dan rahib".
Sejenak Ali tercengang mendengar seorang pastor mengutip Quran, tapi segera ia menyelesaikan ayat itu: "Karena sesungguhnya mereka tak menyombongkan diri." Dan Christian pun menyambung: "Kami bersahabat dengan penduduk dusun ini."
Komandan gerilya itu pun menyalami Christian, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Mungkin ia tahu, mungkin tidak, biara itu sudah di sana sejak 1938 dan Islam dihormati.

Di satu makan malam bersama Christian mengatakan, kejadian menjelang Natal itu—Ali datang dengan senjata, Ali pergi dengan salam—baginya meneguhkan kembali makna hidup dan kelahiran Kristus. Maka ketika Ali tertangkap tewas, mungkin disiksa, dan Christian melihat jenazahnya di pos militer, ia mendoakannya dengan intens sampai ia diusir opsir penjaga.
Kasih memang tak mudah dipahami. Ada semacam wasiat yang ditemukan di meja Christian (di mana terdapat juga Quran). Bila satu hari ia jadi korban terorisme, demikian di sana tertulis, jangan terlalu gampang menyamakan Islam dengan fundamentalisme penganutnya yang ekstremis. Sebab, "Aljazair dan Islam lain; mereka satu tubuh, satu sukma."
Saya tak tahu bagaimana di hari-hari itu iman yang begitu dalam bisa membuka hati begitu luas. Mungkin karena wajah-wajah ramah di Tibhirine, bukit hening, dan ladang yang akrab. Mungkin juga "sukacita rahasia" di hati Christian dalam meneguhkan la communion, memulihkan la ressemblance ("persamaan"), dan "bermain dengan perbedaan". 

Di akhir wasiatnya, padri yang kemudian disembelih itu menulis, dalam huruf Arab, "Insya Allah."
Ada harapan yang bisa dicemooh tapi tak takut gagal.

Goenawan Mohamad

Kamis, 05 Januari 2012

Epifania

InjMg 8 Jan 12 - Epifania (Mat 2:1-12)

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN (Mat 2:1-12)

Pada Hari Raya Penampakan Tuhan - Epifania - dibacakan Mat 2:1-12. Dikisahkan kedatangan orang-orang bijak dari jauh untuk menyatakan penghormatan mereka kepada raja yang baru dilahirkan. Siapakah mereka ini? Di wilayah Babilonia dan Persia dulu, sekarang Irak & Iran utara, ada orang-orang bijak yang mahir dalam ilmu perbintangan. Mereka biasanya juga berperan sebagai ulama agama setempat. Matius menyebut mereka sebagai "orang-orang majus". Dalam kisah ini mereka mewakili orang-orang bukan Yahudi yang datang dari jauh untuk menghormati dia yang lahir di Betlehem yang bakal menjadi pemimpin umat manusia. Kebijaksanaan para majus ini membawa mereka ke sana. Para ulama Yahudi sendiri sebenarnya juga mengetahuinya lewat nubuat Nabi Mikha (Mat 2:6, kutipan dari Mikha 5:1).

ORANG-ORANG BIJAK
TANYA: Cerita mengenai orang majus ini menarik. Dapatkah dikatakan bahwa Tuhan berbicara kepada umat manusia tidak hanya lewat wahyu Alkitab saja? Seperti di sini, lewat kebijaksanaan manusiawi juga?

JAWAB: Ya! Memang itulah yang diungkapkan Matius dengan kisah ini. Ia menunjukkan bagaimana kebijaksanaan dapat juga menuntun orang mengenali kehadiran Tuhan.

TANYA: Bila begitu, luas benar pandangan Matius.

JAWAB: Malah dengan kisah ini Matius juga bermaksud mengatakan bahwa Tuhan justru berbicara kepada umat-Nya lewat orang-orang bukan dari kalangan itu sendiri! Orang-orang di Yerusalem mendengar tentang kelahiran Yesus dari orang-orang bijak itu. Setelah itu barulah mereka mulai sibuk mencari dalam khazanah teks keramat mereka sendiri. Matius mau membangunkan orang sekaumnya yang kurang mendalami tradisi keramat mereka sendiri.

TANYA: Wah, keberanian berpikir seperti Matius itu langka, juga pada zaman ini. Orang biasanya merasa aman dengan apa-apa yang sudah biasa, yang dapat diperhitungkan. Akan tetapi jalan Tuhan tidak terbatas. Apakah Matius juga bermaksud agar orang-orang Yahudi sadar bahwa mereka bukan satu-satunya umat yang diperhatikan Tuhan?

JAWAB: Beberapa bagian dalam Perjanjian Lama sebenarnya sudah mengatakan hal ini walaupun caranya agak berbeda. Misalnya, Yes 60:1-6 (bacaan pertama pada Hari Raya Penampakan Tuhan ini) menegaskan bahwa bangsa-bangsa bukan Yahudi akan berduyun-duyun ke Sion, yakni tempat Tuhan bertakhta, tempat Ia menyinarkan terang-Nya (terutama ay. 3). Maksudnya, kini Tuhan bukan hanya bagi orang Yahudi.

TANYA: Jadi juga cocok dengan yang diutarakan dalam bacaan kedua (Ef 3:6), yaitu berkat "Injil" orang-orang bukan Yahudi dapat turut menikmati janji Tuhan yang kini diberikan dalam ujud manusia, yaitu Yesus.

JAWAB: Benar. Dalam surat Efesus itu "Injil" ialah Kabar Gembira yang sama bagi semua orang, berarti juga bagi orang bukan Yahudi dan orang-orang yang bukan termasuk umat Perjanjian Lama.

PERSEMBAHAN
TANYA: Sering kita dengar mengenai "Tiga Raja", Gaspar, Baltasar, dan Melkhior. Tapi dalam Injil Matius ini jumlah serta nama-nama mereka kok juga tidak disebutkan? Juga tidak dikatakan mereka itu raja.

JAWAB: Memang Matius hanya menyebut "orang-orang majus dari Timur" dan tiga macam persembahan, yakni "emas, dupa, dan mur". Tiga persembahan itu kemudian menumbuhkan gagasan adanya tiga orang. Bahwasanya mereka kemudian dianggap raja boleh jadi didasarkan pada tradisi umat Yahudi sendiri seperti ada dalam Mzm 72:10 ("Kiranya raja-raja dari Tarsis dan pulau-pulau membawa persembahan; kiranya raja-raja dari Syeba dan Seba membawa upeti"). Nama-nama Gaspar, Baltasar, dan Melkhior itu dikenal di wilayah kekaisaran Romawi sebelah Barat. Di wilayah lain nama mereka berlainan, juga jumlah mereka berbeda-beda, dari dua hingga dua belas orang.

TANYA: Bisakah diterangkan sedikit mengenai persembahan yang dibawa para majus itu?

JAWAB: Matius boleh jadi teringat akan Yes 60:6 ("... mereka semua akan datang dari Syeba, akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur Tuhan"). Dalam tradisi Gereja awal, emas dihubungkan dengan kedudukan mulia Yesus sebagai raja, dupa dengan martabat ilahinya, dan mur dengan wafatnya sebagai manusia nanti. (Mur dipakai dalam merawat jenazah sebelum dikuburkan).

TANYA: Apa ada makna yang lebih dalam?

JAWAB: Persembahan itu menandai terjalinnya hubungan antara orang-orang yang bukan dari kalangan Yahudi dengan pemimpin umat Tuhan yang baru lahir ini. Iman dan berkatnya mengatasi ikatan-ikatan bangsa dan kedaerahan.

BERSUKA CITA

TANYA: Dapatkah dijelaskan perihal bintang yang dilihat para majus (Mat 2:2) dan yang berhenti di tempat Yesus lahir (Mat 2:9)?

JAWAB: Pembaca akan teringat pada bintang yang disebutkan dalam Bil 24:17. Balaam, seorang ahli nujum bangsa Aram, menubuatkan bahwa sebuah bintang akan muncul dari keturunan Yakub. Selain itu, di kalangan Yahudi ada juga nubuat mengenai kelahiran seorang pemimpin di Betlehem, seperti terdengar dalam Mikha 5:1 dst. yang bahkan dikutip dalam Mat 2:6. Matius menerapkan kedua nubuat tadi pada kelahiran Yesus.

TANYA: Masih mengenai bintang. Setelah mereka berangkat dari tempat Herodes, para majus tadi melihat kembali bintang yang mereka lihat di Timur. Dan dikatakan bahwa mereka "sangat bersuka cita" (Mat 2:10). Bagaimana penjelasannya?

JAWAB: Mereka mengikuti petunjuk yang diungkapkan para ulama Yerusalem kepada Herodes mengenai raja yang baru lahir itu. Herodes kemudian meminta para majus agar mencarinya di Betlehem. Isyarat bintang yang mereka lihat di Timur cocok dengan pemahaman para ulama di negeri yang mereka datangi. Mereka bersuka cita karena mendapatkan jalan yang benar-benar akan membawa mereka kepada dia yang mereka cari.

CARA TUHAN BERBICARA
Dalam Injil Lukas, orang-orang pertama yang menyadari makna peristiwa kelahiran Yesus ialah para gembala (Injil Misa Fajar hari Natal.) Dalam Injil Matius, peran yang sama dijalankan orang-orang majus tadi. Baik para gembala maupun orang-orang majus mendapat bimbingan langsung dari langit tetapi dengan "bahasa" yang sesuai dengan cara berpikir masing-masing. Kepada para gembala, Tuhan berbicara lewat penampakan malaikat dan bala tentara surgawi. Kepada para ulama yang ahli ilmu pengetahuan itu, Ia berbicara lewat isyarat bintang dan pemikiran. Ia bahkan dapat berbicara kepada mereka lewat orang yang memiliki niat yang kurang lurus seperti Herodes yang meminta mereka agar ke Betlehem.

Baik para gembala maupun orang-orang majus itu sama-sama mencari dia yang baru lahir. Mereka membuat orang-orang yang mereka jumpai tidak dapat tinggal diam. Menurut Luk 2:18, orang-orang pada "keheranan" ketika mendengar para gembala bercerita mengenai kata-kata malaikat mengenai anak yang baru lahir itu. Dalam Mat 2:3, dikisahkan bahwa Herodes dan seluruh isi Yerusalem "terkejut" ketika mendengar kata-kata para majus. Ironisnya, mereka yang heran dan yang terkejut itu adalah orang-orang yang sebenarnya sudah berada di dekat dengan dia yang baru lahir. Dalam Injil Lukas, mereka itu sudah ada di tempat Maria baru saja melahirkan. Ahli-ahli Taurat di Yerusalem dan Herodes yang disebut Matius sudah dekat dengan kelahiran Yesus lewat kitab-kitab keramat mereka. Namun mereka tidak menginsafi apa yang sedang terjadi di dekat mereka.

Seperti jelas dari Mat 2:5, para ulama di Yerusalem itu sebenarnya juga dapat mengetahui peristiwa itu. Tetapi mereka tidak memahami maknanya. Juga di antara orang-orang yang mendengar kata-kata para gembala, hanyalah Maria sajalah yang berusaha mengerti. Disebutkan dalam Luk 2:18 bahwa Maria "menyimpan semua perkataan itu dalam hatinya dan memikir-mikirkannya." Artinya, ia bersikap mau memahami misteri yang ada dalam kehidupannya. Orang-orang lain tetap terheran-heran saja.

Nanti para majus diperingatkan "dalam mimpi" supaya jangan kembali ke Herodes. Para majus ini kini sudah akrab dengan isyarat-isyarat dari atas. Mereka kini sudah berada di pihak raja yang baru lahir. Karena itu mereka juga menyadari muslihat Herodes yang ingin melacak di mana persisnya tokoh yang dianggapnya bakal menjadi saingannya itu. Kebijaksanaan kini menuntun para majus kembali ke negeri mereka. Mereka pulang membawa kegembiraan yang akan mereka bagikan kepada orang-orang lain. Bagaimana dengan mereka yang ada di Yerusalem, yaitu Herodes dan orang-orang seperti dia? Mereka akan tetap "terkejut" dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka kehilangan kepekaan akan cara-cara Tuhan berbicara kepada manusia, malah menganggapnya sebagai ancaman!

IKUT BERGEMBIRA
Pada perayaan Hari Raya Penampakan Tuhan kita mensyukuri saat-saat Dia membiarkan diri dapat dikenali oleh orang-orang yang tidak atau belum mengenal-Nya. Dalam Mat 2:11, dikatakan bahwa para majus melihat Yesus bersama Maria dan baru setelah itu mereka menyembahnya. Dia yang ilahi itu membiarkan diri dipandangi oleh orang yang tidak biasa melihatnya. Dan bukan hanya dalam panganan belaka melainkan ada bersama dengan manusia lain, bersama dengan dia yang melahirkannya. Para majus bersuka cita karena dapat melihat Tuhan sungguh ada di dalam kehidupan manusia. Dan sukacita seperti ini boleh juga kita alami.

Salam hangat,
A. Gianto

Sabtu, 10 Desember 2011

Pekik
Senin, 05 Desember 2011

Ia selintas mirip Ho Chi Minh yang menyamar jadi buruh perkebunan tebu. Kurus. Misainya memanjang tapi tak rimbun. Rambutnya yang lurus rada kacau, gondrong tapi tak berjela. Keriputnya kentara di kulit wajahnya yang gelap terjemur matahari, tapi otot itu tampak masih liat. Matanya sipit, dengan tilikan tajam (lewat kacamata) yang jail. Atau jenaka.
Djoko Pekik, 70 sekian tahun, masih bisa menertawakan nasib dan dirinya. Saya rasa pelukis ini, dengan sikap ironis, sedang berbahagia.

Dan itu sebuah cerita tersendiri.
Siang itu saya berdiri di sebelahnya, di tepi Kali Be¬dhog yang mengalir tipis dan lirih di kiri rumahnya. Serumpun bambu tinggi menaungi petak tanah itu, sebagaimana ratusan pohon meneduhkan tanahnya di Desa Sembungan itu. Tenteram. Tadi, ketika kami duduk di bangku, menghadapi gelas kopi manis dan piring pisang rebus, ia serius bertanya: apa sebenarnya nasib baginya? Saya tiba-tiba teringat sebaris sajak saya sendiri: "Tuhan, kenapa kita bisa bahagia?"
Pada tahun 1965, Djoko Pekik ditangkap, bersama ribuan orang yang dianggap mendukung PKI. Bersama sederet pelukis lain, anggota grup Bumi Tarung yang aktif di Yogya, juga hampir semua anggota Lekra, ia disekap. Pekik dikurung di Benteng Vredeburg, bangunan buatan VOC ketika mempertahankan cengkeramannya di wilayah Mataram.

Entah berapa ratus orang ditahan di sana. Bisa saya bayangkan betapa padatnya benteng itu. Hampir tiap hari ada tahanan yang mati, dan tak cuma satu: karena sakit, kelaparan, penyiksaan. Pekik teringat ketika pagi hari para tahanan dijemur, disuruh duduk mencangkung dan menatap ke tanah berjam-jam—sementara ada tentara yang naik dan berjalan menginjak-injak deretan kepala mereka, menendangkan sepatu, memukulkan popor bedil.

Trauma merasuk ke dalam diri Pekik sejak itu; ia gemetar tiap melihat warna hijau, warna seragam militer. Setelah 1972, setelah ia lepas dari tahanan dan punya rumah sendiri, ia lawan traumanya dengan cara seorang pelukis: ia cat semua dinding rumahnya dengan warna hijau. Trauma itu pun hilang.
"Saya ini orang yang beruntung," katanya. Di antara kebrutalan yang disaksikan dan dialaminya, dalam penjara ia masih ketemu tentara yang menunjukkan kebaikan-kebaikan kecil: mengajarinya mengecat topi baja dan kopelrim, membiarkannya makan di dapur sampai hampir mati kekenyangan, tak menyiksanya ketika ia dipergoki lepas sebentar untuk beli gula jawa di pasar dekat Benteng Vredeburg.

Tapi nasib baiknya yang terbesar datang karena Bung Karno. Sekitar awal 1966 Bung Karno, yang tahu penyekapan besar-besaran yang terjadi tapi tak cukup kuasa untuk melepaskan mereka (waktu itu, Soeharto, bukan Sukarno, yang praktis mengendalikan keadaan), diam-diam memanggil Overste Mus Subagyo. Perwira polisi militer yang berkuasa di Yogya ini kemudian bercerita kepada Pekik: Bung Karno berpesan agar para seniman yang ditahan tak dihabisi. "Menghasilkan seniman itu lebih susah dari menghasilkan insinyur, Mus," kata Bung Karno menurut cerita Mus Subagyo kepada Pekik.

Mus Subagyo—kabarnya perwira yang ikut menangkap Ketua PKI D.N. Aidit—menghormati Bung Karno sungguh-sungguh, dan ia tahu Bung Karno benar. Ia laksanakan pesan itu.
Djoko Pekik salah seorang yang diam-diam diselamatkannya. Pelukis itu (waktu itu ia bukan apa-apa) diberi ruangan tersendiri di sebuah rumah di luar Vredeburg. Ia tetap dikurung, tapi punya kesempatan berkarya. Pekik sempat membuat sebuah patung. Ia tampaknya tak pernah melupakan jasa perwira polisi militer itu.

Pada 1969, dalam umur 30, di tahanan, Pekik menikahi Tini Purwaningsih. Perempuan manis yang lebih muda 12 tahun ini dikenalnya ketika ia masih kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia di Gampingan. Tini dulu tinggal di belakang sekolah itu. Pasti ada yang mengikat hati gadis Katolik ini hingga ia mau bersuamikan seorang tahanan "Gestapu", lelaki dari keluarga tani Dusun Kedungwaru di Grobogan yang tak punya apa-apa. Apa pun yang menjadikannya, pernikahan mereka panjang dan tenang. Delapan anak lahir, yang sulung ketika Pekik masih dalam status tahanan.

Ketika ia akhirnya bebas, ia mencari nafkah dengan jadi penjahit. Sesekali melukis dengan bahan seadanya. Hidup amat-amat sulit. Ia berjualan kain dengan naik sepeda ke tempat-tempat jauh. Tapi akhirnya ia "ditemukan": karya-karya cat minyaknya yang sempat ia buat mengejutkan para peminat seni rupa. Salah satunya, Ketika Keretaku Tak Berhenti Lama, dipilih untuk ikut dibawa ke Amerika buat pameran seni Indonesia besar-besaran di tahun 1991.

Hidup Pekik berubah. Ia jadi dikenal, ia jadi makmur. Ia membeli tanah yang luas di Kelurahan Bangunjiwo di Kecamatan Kasihan, Bantul. Saya lihat ada seperangkat gamelan yang dimainkan para niyaga, konon tiap Jumat Kliwon. Teman lamanya, juga teman baru, hampir tiap kali bertandang.
Tapi ia tak lupa, lebih dengan rasa sedih ketimbang sakit hati, bagaimana di hari-hari awal kebebasannya ia tetap disisihkan, juga oleh sesama seniman. Saya kira Reformasi 1998 yang memberinya lebih banyak momen bersyukur tanpa mengucapkannya.

Apa sebenarnya arti nasib?
Siang itu saya berdiri di sebelahnya, memandangi Kali Bedhog yang mengalir lirih. Pekik sedang merencanakan pameran yang unik: membawa karya beberapa pelukis di atas rakit, bersama arus. Ketika ia minta bantuan untuk membersihkan sungai itu, tak disangkanya komandan militer setempat mengirim 150 prajurit. Kemudian datang bekerja beberapa puluh polisi.
"Saya orang yang beruntung," kata Djoko Pekik.

Juga Indonesia, tanah airnya, negeri yang beruntung: teror, trauma, dendam, permusuhan lama, akhirnya bisa juga dilarung, dibawa arus waktu. Entah ke mana.

Goenawan Mohamad

Selasa, 29 November 2011

Tintin

Senin, 28 November 2011
Saya menemukan Tintin pertama kali di sebuah rumah di dusun Marly-le-Roi, beberapa kilometer dari Paris, tempat saya berlibur bila kuliah jeda. Itu tahun 1965. Pada suatu malam, saya lihat setumpuk buku cerita bergambar di sudut kamar. Saya memungutnya. Saya pun tak berhenti membacanya—dan tertawa berkali-kali: humor adalah pemikat awal (dan akhir) komik ini.

Yang punya rumah dari ruang makan mendengar saya tertawa sendirian. "Kasihan kamu," katanya. "Baru sekarang kamu kenal Tintin."


Tentu saja ia benar. Ia orang Belgia; ia dibesarkan dengan cerita bergambar itu; saya orang Indonesia, dari sebuah masa ketika bacaan dari "Barat" hampir mustahil masuk. Tapi sebetulnya tak jadi soal kapan dan bagaimana seseorang mengenal tokoh fiktif ciptaan Georges Prosper Remi ini. Sejak 1929, sejak Remi, dengan nama Hergé ("R.G."), memuatnya tiap pekan di halaman Le Petit Vingtième, sampai 2011, ketika Steven Spielberg membuat The Adventures of Tintin, tiap hari orang menemukan Tintin. Dengan senang hati.

Sebenarnya jagoan ini tak akan memikat, andai ia tampil sendiri di luar cerita. Ia tak tinggi, tak tegap. Parasnya klimis; pipi itu tampak lunak seperti kue sus. Kulitnya putih susu. Dengan rambut pirang yang berjambul, dengan pakaian yang sesopan siswa sekolah Minggu, Tintin tampak bersih sampai ke ulu hati. Ia tak pernah mencoba mengganggu. Ia sopan. Ia datar. Ia membosankan.

"Every hero becomes a bore at last," kata Ralph Waldo Emerson.


Pahlawan, tokoh cerita yang dipaparkan untuk memenangkan niat baik, umumnya diletakkan dalam kategori manusia luar biasa—tapi dengan norma kebajikan yang biasa. Superman: ia, yang hidup dalam imajinasi Amerika sejak tahun 1930-an, seorang makhluk ajaib dan sekaligus imigran dari planet lain. Tapi ia sebenarnya menegakkan nilai-nilai yang tecermin dari cara Clark Kent berperilaku sehari-hari: seorang warga mayoritas yang merasa utuh bila mengenakan jas dan dasi. Ia orang yang tak akan menggebrak sekitarnya. Ia pahlawan karena ia meneguhkan apa yang bisa membuat tenteram orang ramai.

Seperti Clark Kent, Tintin tak tampak asing. Lagi pula ia bukan imigran. Lahir untuk mengisi lembaran anak muda dari koran Le Vingtième Siècle—sebuah surat kabar Katolik Belgia yang konservatif—Tintin sejenis santo sehari-hari: orang amat baik yang tak datang dari pengorbanan yang ekstrem. Umurnya mungkin 20-an. Saya tak tahu latar belakang keluarganya, tapi pasti bukan pembangkang konformitas warga Brussel yang lama. Ia bukan pemuda nakal. Tak akan ada adegan Tintin minum-minum di bar di antara perkelahian. Tak akan ada ciuman bernafsu. Dalam Tintin, pahlawan ditampilkan sebagai selibat, tubuh yang tanpa seks—karena seks, seperti difatwakan Gereja, adalah najis.

Itu sebabnya ia tak memikat—terutama di zaman ini, ketika para santo tak disalibkan, melainkan ditertawakan.


Namun ada yang berharga dari Tintin: ia mengajak kita sejenak lepas dari zaman yang penuh sinisme ini. Memang, sikapnya yang lurus bisa membuat tertawa mereka yang tak percaya bahwa masih ada kesatria yang tanpa pamrih. Tapi ada tertawa lain yang terdengar. Kisah petualangannya menimbulkan gelak, tapi gelak yang tak ganas, gelak yang justru membuat kita akrab dengan orang lain, betapapun menggelikannya orang itu.

Tintin dikenang bukan sebagai kisah keberanian. Yang tak terlupakan adalah apa yang nakal dari Milou alias Snowy, anjingnya yang bandel, apa yang konyol dari Thompson & Thomson, dua agen rahasia yang bodoh itu, dan apa yang meledak-ledak dari Haddock, si pemabuk yang ribut.

Demikianlah sang pahlawan yang membosankan memberi ruang bagi sosok yang tak seperti dirinya: orang-orang yang mengasyikkan.

Itu sebabnya gambar Hergé terdiri atas dua lapis. Lapis pertama tanpa detail yang "realistis": wajah Tintin yang datar. Lapis kedua: latar yang rinci dan ramai tentang sebuah tempat, katakanlah di Rusia atau di India.

Di lapis pertama kita temukan Tintin yang rapi seperti dalam formula. Di lapis kedua: kocak yang gila-gilaan. Di sini Haddock melontarkan lebih dari 200 jenis sumpah serapah; atau kita dengar suara sopran yang bikin pusing dari Bianca Castafiore; atau interupsi yang menjengkelkan dari agen asuransi Séraphin Lampion (alias Jolyon Wagg).


Begitulah, dalam Tintin humor tumbuh dari sikap membuka diri terhadap yang beda: mereka yang menggelikan, yang tak kita kagumi, tapi kita sayangi. Tak aneh bila cerita ini bisa mempertalikan manusia lewat 80 bahasa.

Tapi tak dengan sendirinya. Tintin juga punya sejarah myopia Eropa. Petualangan di Kongo (terbit pada 1930) mencerminkan Hergé yang memandang bangsa Afrika sebagai makhluk asing yang ditundukkannya. Mereka mirip monyet hitam yang malas dan bodoh. Di satu ade­gan seorang perempuan Kongo berterima kasih dan menyembah Tintin—dan Milou, anjingnya, dengan pongah berkata, "Kita paling top, kan?"

Hergé kemudian menyesal dengan karya itu. Ia berubah.


Pada usia 27, ia ketemu Chang, seorang mahasiswa Cina yang belajar di Brussel. Mereka bersahabat. Ketika pada 1958 lahir petualangan Tintin di Tibet, ikatan batinnya dengan orang asing muncul: dengan tekad luar biasa, Tintin menyelamatkan Chang, sahabat kecilnya yang disekap oleh yeti, hewan misterius di Himalaya itu. Dalam proses itu, para rahib Buddha menyumbangkan ilmu gaib mereka.

Chang pun selamat, dan yeti itu ternyata bukan makhluk jahat. Ia memandang Chang pergi meninggalkannya. Sayu, tapi rela. Ia seakan-akan saksi: dengan cinta yang besar, makhluk yang aneh itu, manusia, bisa berhasil, tapi bukan menang.


Goenawan Mohamad

Selasa, 22 November 2011

Arok

Senin, 21 November 2011
Seperti orang lain, saya ingin menulis tentang Ken Arok: perampok dari Pangkur, pembunuh yang tak takut, perancang kekuasaan yang membuat sejarah jadi cerita tentang ambisi dan kematian.

Tentu saya tak bisa menulisnya seperti Muhammad Yamin pada 1928, masa kebangkitan nasional: Ken Arok dan Ken Dedes-nya berakhir dengan sang tokoh rela ditikam untuk menjaga persatuan sebuah negeri.

Saya juga tak akan bisa menulisnya seperti Pramoedya Ananta Toer. Dengan tepat dan tajam Pramoedya menunjukkan, takhta dan kasta adalah tempat yang oleh sejarah bisa diisi siapa saja, juga oleh seorang sudra seperti si Temu. Orang yang kemudian jadi Arok ini tanpa "sedikit pun darah Hindu dalam dirinya," seperti disebut dalam Arok Dedes. Tapi tokoh Pramoedya, yang berhasil mengenal 100 ribu bait Mahabharata, adalah pembangun kerajaan, justru karena ia di luar klasifikasi sosial dan keyakinan di masanya.

Ken Arok yang ingin saya tulis akan lain. Hari ini kita butuh kiasan yang berbeda.

Sebagian akan saya ikuti Pararaton, riwayat hidup si berandal yang kemudian mendirikan Kerajaan Singasari itu. Dalam naskah dari abad ke-15 itu diceritakan, bahkan sebelum ia menitis sebagai Arok (ditulis "Angrok"), ia sudah orang yang "berperilaku tak baik, memutuskan kendali kesusilaan, jadi pengganggu Hyang yang gaib", lumaku tan rahayu amegati apusira pinakapamañcananing hyan Suksma.

Kemudian ia dilahirkan kembali di Desa Pangkur, di wilayah Tumapel. Tapi tak lama keluar dari rahim, oleh ibunya—yang mengandung karena perselingkuhan (dalam Pararaton disebut perempuan itu dihamili Dewa Brahma)—ia dibuang di sebuah pekuburan anak-anak. Seorang pencuri menemukannya dan membesarkannya. Dan Arok pun tumbuh jadi penjudi, perusuh, pemerkosa, yang berkali-kali dikejar dan diburu, tapi selalu lepas.

Kata sang pencerita, dewa-dewa menolong menyelamatkannya.

Mithos sering punya keganjilan yang arif: dewa-dewa tak peduli akan "kebaikan" dan "kejahatan". Mungkin karena semua itu akhirnya membingungkan, di sebuah masa ketika sistem keyakinan tak bisa utuh lagi. Pararaton ditulis ketika agama Hindu bersilang-selisih, dan tentu saja bersentuhan, dengan Buddhisme. Dalam keadaan itu, kekuatan yang berhasil—bukan sistem keyakinan—adalah yang dianggap penentu sejarah. Maka sejumlah orang pun menyingsingkan desain kekuasaan. Seperti hari ini.

Dalam Pararaton kita temukan imaji yang destruktif di sekitar sang tokoh—bagian dari karisma dan apa yang dianggap nubuat: orang luar biasa ini kelak punya kekuasaan yang brutal dan ekspansif.

Maka saya akan memulai cerita saya dengan satu adegan malam: Arok terbaring tidur. Pada saat itu, dari ubun-ubunnya keluar beratus-ratus kelelawar, hitam, tanpa henti. Pararaton melukiskannya dalam satu kalimat Jawa Kawi yang lugas: "lalawah metu saking wunwunanira Ken Angrok adulurdulur tanpapegatan". Tapi di situ kita lihat satu momen yang ajaib, seram, dan ganas: imaji yang menggambarkan hasrat yang tak pernah puas untuk merebut dan mengerkah.

Jika nanti saya menafsirkan Pararaton, pembaca tentu telah mengenal Macbeth. Dalam lakon ini Shakespeare juga menampilkan hasrat yang tak pernah puas, tapi juga tak tenteram: sebuah keadaan tragik, bukan kisah yang heroik.

Sebab Arok, bagi saya, adalah makhluk yang keluar dari cermin, tempat kita berkaca. Di sana tersimpan tuah dan tulah. Saya sebut "tuah" karena, dengan hasrat yang membuat kita perkasa, kita mampu melakukan yang hampir mustahil; "tulah" karena itu bisa merupakan kutukan. Dalam Pararaton, Arok bisa terbang dengan bersayapkan dua helai daun tal. Ia melampaui kemampuan manusia biasa. Tapi itu juga awal dari tulah yang membentuk dirinya: ia tidak hanya melampaui apa yang fisik, tapi juga melampaui keinginan orang kebanyakan; dengan itu ia mulai jalan ke kematiannya sendiri.

Orang ini dengan gampang membunuh. Ia tikam Empu Gandring, sang pembuat keris. Kesalahan orang tua ini hanya terlambat menyelesaikan kerjanya yang didesak-desak itu. Kita tahu, Arok tak punya kesetiaan kepada siapa pun. Ia selalu siap berkhianat dengan menumpahkan darah.

Pada satu tahap dalam hidupnya, ia meninggalkan dunia kriminal. Ia tak lagi di luar tata sosial. Ia diterima dan dipercaya sebagai pengawal penguasa Tumapel, Tunggul Ametung. Tapi pada suatu malam yang gelap, ia bunuh akuwu itu. Setelah itu, ia korbankan Kebo Hijo. Pemuda ini dihukum mati karena dialah yang dituduh sebagai si durjana. Arok tak membelanya. Meskipun Pararaton menyebut Kebo Hijo punya hubungan cinta (asihsihan) dengan dirinya.

Arok dan Macbeth: para peraih. Macbeth memulai serangkaian pembunuhan untuk meraih takhta dan mempertahankannya. Dan ia coba menghalalkan semuanya dengan sikap seorang nihilis, meskipun ia sedikit gemetar. Tak ada nilai, tak mungkin ada makna. Merisaukan. Tapi akhirnya kesimpulannya suram: hidup hanya sebuah kisah yang disampaikan seorang idiot, "penuh hingar dan murka, tanpa arti apa-apa".

Pada Arok, nihilisme itu dikukuhkan Lohgawe.

Lohgawe, seorang pendeta dari seberang, mendampinginya. Tapi bahkan dengan keyakinan agama yang dibawanya, baginya Arok hanyalah sebuah proyek kekuasaan. Agama hanya berarti jika masa depan adalah kemenangan.

Demikianlah pada suatu hari pemuda itu datang mengungkapkan niatnya menghabisi Tunggul Ametung, untuk merebut istrinya, Ken Dedes. Nasihat Lohgawe ambigu: "tan ulahaning pandita, ahingan sakaharepira". Ia orang suci, tak bisa memberi Arok restu untuk kejahatan itu; tapi ia persilakan Arok melakukan apa yang dikehendakinya.

Dan yang ganas pun terjadi. Dan kita yang kenal kisah Ken Arok tahu: kebrutalan dan ambisi itu berjalin, terus.

Goenawan Mohamad