(Sayangnya,
orang tua tidak selalu merupakan penasehat yang baik karena mereka
tidak selalu dipandu oleh apa yang terbaik bagi kesejahteraan rohani
anak mereka, tetapi oleh pertimbangan duniawi ... Tetapi jika orang
tuamu menghidupi iman mereka, mereka merupakan penasehatmu yang terbaik
karena mereka memahamimu dengan baik sekali dan saran mereka bisa
diabaikan meskipun baik dan cukup beralasan. Umumnya, jika kamu meminta
saran mereka sebagaimana mestinya, kamu akan mendapatkannya) ~ Saint
John Bosco
Keluargaku
Rabu, 30 Januari 2013
InjMgBiasa IV
InjMgBiasa IV th 3 Feb 13 C(Luk
4:21-30)
Rekan-rekan
yang baik!
Injil
Minggu Biasa IV tahun C, yakni Luk 4:21-30, amat erat hubungannya dengan
petikan yang dibacakan Minggu lalu, yakni pengajaran Yesus di sebuah rumah
ibadat di Nazaret. Orang-orang terpesona oleh pengajarannya tetapi mereka juga
menginginkan dia berbuat mukjizat di situ seperti di tempat lain. Yesus tidak
menuruti keinginan mereka. Ia mengatakan bahwa Yang Mahakuasa mengutus nabi
Elia untuk menolong seorang janda di tanah Sidon. Juga banyak orang kusta di
Israel pada zaman Elisya, tapi hanya Naaman orang Siria disembuhkan. Mendengar
ini semua marahlah orang-orang yang tadinya mengaguminya. Bahkan mereka
menyeretnya keluar kota dan mau menjatuhkannya ke dalam tebing... Apa arti
kejadian ini?
DIALOG
PEMANASAN
ANI:
Belum jelas Injil hari ini. Konteksnya kan Luk 4:21 seperti dibacakan hari
Minggu yang lalu. Di situ ada dikatakan "orang-orang membenarkan dia dan
heran akan kata-kata yang indah yang diucapkannya..." Lalu mereka mulai
kurang percaya dan berkata, "Bukankah ia ini anak Yusuf?"
LEX:
Nanti dulu! Ungkapan "Bukankah ia ini anak Yusuf" jangan ditafsirkan
sebagai ungkapan keraguan begitu saja. Lain sama sekali dari ungkapan mencibir
seperti "Lha itu kan anaknya Minto Areng itu ta?" yang diucapkan
orang di pasar ketika melihat Slamet anak Pak Minto penjual arang itu kini maju
dalam pilkada.
ANI:
Habis artinya apa?
LEX:
Orang-orang di Nazaret sudah tahu betapa kondangnya Yesus. Mereka juga
menyaksikan sendiri penampilannya di sinagoga mereka. Lalu mereka mbatin, lho,
orang kita ini bikin macam-macam hal hebat di lain tempat. Kok tidak di sini
lebih dulu. Dia itu kan anak Yusuf yang kita kenal itu. Masakan tidak ingat
orang sekampung, mentang-mentang sudah jadi orang besar.
ANI:
Apa ini juga menjelaskan perkataan Yesus selanjutnya?
LEX:
Ia tahu orang-orang itu mengharapkan supaya ia membuat mukjizat di Nazaret.
Mereka iri Yesus mulai di tempat lain, kok tidak di kotanya sendiri.
ANI:
Ah sekarang jadi jelas mengapa Yesus kemudian juga berbicara mengenai Elia dan
Elisya. Ia mau mengatakan, kalian ingat, nabi-nabi sakti zaman dulu pun tidak
mengerjakan hal-hal besar di kampungnya sendiri, melainkan di wilayah lain dan
bagi orang-orang luar. Tapi ini justru perkara yang membuatku heran. Kenapa ia
tidak mulai di Nazaret?
LEX:
Mereka mengharapkan yang tidak-tidak. Mereka mau melihat yang menakjubkan tok.
ANI:
Maksudnya mereka menginginkan mukjizat?
LEX:
Demam mukjizat memang penyakit kronik hidup beragama. Dan tuh, orang-orang
Nazaret murka bagai kesurupan dan menyeret Yesus ke tebing mau menghempaskannya
ke bawah.
ANI:
Wah, wah, serem. Tadinya mengagumi kok sekarang malah mau bikin celaka ya?
LEX:
Eh, kita jangan cuma kasih gong moral pada Injil! Mesti ditafsirkan dulu!
ANI:
Lha gimana, wong saya tahunya cuma ini. Lupa-lupa ingat kuliah di Seminari
dulu. Eh, mungkin orang-orang itu bukan mau membantingnya ke dasar tebing
sampai lumat...boleh jadi mereka bermaksud memaksa Yesus membuat mukjizat bagi
dirinya sendiri: dilempar ke jurang tapi kakinya tak terantuk ke batu!
LEX:
Bingo! Itulah maksud orang-orang itu! Mereka bertindak seperti Iblis yang
mendorong-dorong Yesus supaya menerjunkan diri dari wuwungan Bait Allah untuk
memaksa Allah menyelamatkan dia.
ANI:
Karena mereka tidak melihat mukjizat di Nazaret lalu mereka berpikir
satu-satunya cara ialah mendorongnya jatuh dan supaya ia terpaksa bermukjizat
bagi dirinya sendiri. Kagak abis ngerti nih!
ANDAIKATA
SAJA....
Seandainya
orang-orang Nazaret itu menyadari apa yang sedang terjadi, mereka akan merasa
sebagai orang-orang yang paling berbahagia di muka bumi ini. Tapi mereka tak
puas, jadi berang dan bermaksud memaksa Yesus membuat mukjizat. Ironi. Yang
mereka peroleh sebetulnya jauh lebih besar dan lebih khusus dari segala
perbuatan yang mengherankan yang terjadi di tempat lain. Tapi mereka tak
menangkap. Kepada mereka ditegaskan bahwa nubuat Yesaya (Luk 4:18-19=Yes
61:1-2, Injil Minggu lalu) menjadi kenyataan. Di tengah-tengah mereka -
"hari ini" - hadir Mesias yang dikabarkan kedatangannya oleh nabi-nabi
dan dinanti-nantikan orang selama berabad-abad. Ia datang membawakan
keleluasaan batin dan kemerdekaan berpikir. Namun demikian, mereka menginginkan
hal-hal yang lebih spektakuler. Mereka menolak kehadiran Yang Ilahi demi
keinginan melihat mukjizat.
Kita
tidak tahu persis bagaimana cara Yesus meloloskan diri dari keberingasan massa
itu. Tapi hal ini bukan hal pokok yang hendak disampaikan Lukas. Memang ada
yang mengatakan bahwa perbawa Yesus sedemikian besar sehingga massa dapat
diredamnya dan ia pergi dengan tak kurang suatu apa. Tetapi kalau betul begitu
mengapa tadi mereka berani menyeretnya ke pinggir tebing? Orang-orang di
Nazaret itu bukan Iblis yang bisa dibentak pergi dengan mengutip Ul 6:16
seperti terjadi dalam Luk 4:12. Amat boleh jadi orang-orang itu akhirnya tidak
jadi menghempaskan Yesus ke jurang karena melihat Yesus tak mau bermukjizat
seperti mereka kehendaki. Boleh jadi ada salah satu dari mereka yang mencegah.
Imaginasi kita boleh bermacam-macam dan memang Lukas membiarkan orang membaca
Injilnya secara kreatif. Lukas hanya memberitahukan bahwa Yesus "lewat
dari tengah-tengah mereka dan pergi". Yang penting dalam seluruh episode
ini bukan bagaimana Yesus meloloskan diri, melainkan apa yang terjadi dengan
orang-orang Nazaret itu. Tingkah mereka membuat kehadiran Yesus lepas dari
tengah-tengah mereka. Mereka kehilangan dia.
Dengan
kisah ini Lukas hendak mengajak orang mewaspadai sikap beragama dan
perilakunya. Demam mukjizat bisa berakhir dengan hilangnya sumber mukjizat
sendiri seperti yang terjadi di Nazaret. Dan memang setelah peristiwa ini,
dusun Nazaret yang berperan besar dalam bab-bab sebelumnya tidak terucap lagi
dan dilupakan orang. Perannya telah selesai. Nama dusun ini selanjutnya hanya
diingat dalam sebutan "Yesus dari Nazaret", yang kehadirannya justru
tidak diterima dengan baik oleh orang-orang Nazaret sendiri.
PENYAKIT
KRONIK HIDUP BATIN
Agama
mengajarkan agar orang mengimani Yang Ilahi, pasrah kepada
kekuatan-kekuatanNya. Namun, sikap pasrah yang asal saja sering malah menggiring
orang ke tujuan lain. Beberapa kenyataan dalam penghayatan agama menunjukkan
hal ini. Iman yang unsur pokoknya adalah keteguhan dapat menjadi sikap fanatik
dan intoleran. Tata upacara atau ritus yang tujuannya membantu orang merasakan
batas-batas antara yang duniawi dengan Yang Ilahi bisa menjadi serangkai
tindakan magi yang justru mengaburkan batas-batas tadi. Akibatnya barang-barang
yang berhubungan dengan tata upacara beralih peran menjadi jimat dan guna-guna.
Doa beralih fungsi menjadi jampi-jampi mendatangkan roh. Hukum agama yang
menata hidup beragama bisa menjadi aturan-aturan yang mencekik kerohanian
dengan rasa takut yang bisa dimanipulasi demi tujuan-tujuan tertentu.
Spiritualitas yang muncul dari pengalaman akan kehadiran yang ilahi bisa menjadi
praktek ulah batin yang kurang sehat bila tak terolah terus.
Penyakit
kronik dalam hidup batin ini juga dikenali oleh Paulus. Dalam 1Kor 12:31-13:13
ia mengatakan bahwa macam-macam karunia khusus bila tak disertai perhatian
kepada sesama dalam kasih, Yunaninya "agape", akan tidak bermakna.
Kemampuan berbicara bahasa malaikat dan manusia, bernubuat, menguasai ilmu
gaib, iman sempurna, sikap mau berkorban bisa jadi satu saat tak lagi
dibutuhkan, akan tetapi, menurut Paulus, kasih tidak ada habisnya. Ia
menggambarkan pelbagai kenyataan yang menunjukkan adanya kasih: sikap sabar,
baik hati, tak cemburu, tak besar kepala dan sombong, jauh dari sikap tak sopan
dan egoist, bukan pemarah, bukan pendendam, memihak kebenaran dan menjauhi
ketakadilan, telaten, bisa mempercayai, penuh harap, tahan uji. Daftar ini
tentu dapat diperpanjang. Namun, semuanya sama-sama mencerminkan sikap apa
adanya, tidak mengada-ada. Dalam bahasa orang sekarang: integritas, bersikap
apa adanya. Itulah penerapan kasih bagi zaman ini. Agama dapat membawakan
keleluasaan batin bila dihayati secara apa adanya. Bila tidak, akan
gampang kena penyakit kronik demam mukjizat yang mengaburkan kehadiran Yang
Ilahi di tengah-tengah manusia. Paulus mengajak orang-orang di Korintus dan kita
semua agar waspada dan jangan sampai mabuk roh.
Salam
hangat,
A.
Gianto
Senin, 26 November 2012
Kristus Raja
InjMg 25 Nov 2012: Kristus Raja (Yoh 18:33b-37)
BERKUASA ATAS SEMESTA ALAM?
Pada hari raya Kristus Raja Semesta
Alam tahun B ini dibacakan Yoh 18:33b-37. Petikan ini memperdengarkan
pembicaraan antara Pilatus dan Yesus. Pilatus menanyai Yesus apa betul ia itu
raja orang Yahudi guna memeriksa kebenaran tuduhan orang terhadap Yesus. Yesus
menjelaskan bahwa kerajaannya bukan dari dunia sini. Ia datang ke dunia untuk
bersaksi akan kebenaran.
Injil mengajak kita mengenali Yesus
yang sebenarnya, bukan seperti yang dituduhkan orang-orang, bukan pula seperti
Pilatus yang sebenarnya tidak begitu peduli siapa Yesus itu. Hari Raya Kristus
Raja Semesta Alam ini juga merayakan kebesaran manusia di hadapan alam semesta.
Itulah kebenaran yang dipersaksikan Yesus dan yang dipertanyakan Pilatus.
RAJA DALAM PERJANJIAN LAMA
Dalam alam pikiran Perjanjian Lama,
raja berperan sebagai wakil Tuhan di dunia. Di Kerajaan Selatan, yakni Yudea,
peran ini dipegang turun-temurun. Kepercayaan ini terpantul dalam silsilah
Yesus dalam Injil Matius yang melacak leluhur Yesus, anak Daud, anak Abraham
(Mat 1:1-17). Lukas menggarisbawahinya tapi melacaknya lebih lanjut hingga ke
Adam, anak Allah, yakni "gambar dan rupa" sang Pencipta sendiri di
dunia ini (Luk 4:23-27). Tetapi dalam menjalankan peran ini, raja sering
diingatkan para nabi agar tetap menyadari bahwa Tuhan sendirilah yang menjadi
penguasa umat.
Kehancuran politik yang berakibat
dalam pembuangan di Babilonia (586-538 s.M.) mengubah sama sekali keadaan ini.
Raja ditawan dan dipenjarakan, kota Yerusalem dan Bait Allah dijarah, negeri
terlantar dan morat-marit hampir selama setengah abad. Pengaturan kembali baru
mulai setelah pembuangan, pada zaman Persia. Bait Allah mulai dibangun kembali
(baru selesai 515 s.M.), walau kemegahannya tidak seperti sebelumnya. Tidak ada
lagi raja seperti dulu walau ada penguasa setempat yang berperan dengan cukup
memiliki otonomi di dalam urusan keagamaan. Pada zaman Yesus, keadaan ini tidak
banyak berubah. Memang ada harapan dari sementara kalangan orang-orang Yahudi
bahwa kejayaan dulu akan terwujud kembali. Maka itu, ada harapan akan Mesias
Raja. Harapan ini mendasari pelbagai gerakan untuk memerdekakan diri. Hal ini
sering malah memperburuk keadaan. Penguasa asing menumpas gerakan itu dan memperkecil
ruang gerak orang Yahudi sendiri. Maka itu, di kalangan pemimpin Yahudi ada
kekhawatiran apakah Yesus ini sedang membuat gerakan yang akan mengakibatkan
makin kerasnya pengaturan Romawi. Mereka mendahului menuduh Yesus di hadapan
penguasa Romawi guna mencegah memburuknya suasana politik.
PATUTKAH IA MENJADI RAJA?
Menurut Yohanes, memang orang pernah
bermaksud mengangkat dia sebagai raja (Yoh 6:15, sehabis memberi makan 5.000
orang). Akan tetapi, tak sedikit dari mereka itu nanti juga meneriakkan agar ia
disalibkan. Bukannya mereka tak berpendirian. Mereka itu seperti kebanyakan
orang ingin hidup tenteram. Mereka mendapatkan roti dan ingin terus, tetapi
mereka juga berusaha menghindari kemungkinan mengetatnya pengawasan dari
penguasa Romawi. Di dalam kisah sengsara memang tercermin anggapan yang beredar
di kalangan umum bahwa Yesus itu bermaksud menjadi raja orang Yahudi: olok-olok
para serdadu (Mat 27:29; Mrk 15:9.18; Luk 23:37; Yoh 19:3), papan di kayu salib
menyebut Yesus raja orang Yahudi (Mat 27:37; Mrk 15:26; Luk 23:38; Yoh
19:19-21), olok-olok para pemimpin Yahudi di muka salib (Mat 27:42; Mrk 15:32),
kata-kata Pilatus di depan orang Yahudi (Yoh 19:14-15).
Kisah kelahiran Yesus menurut Matius
juga menceritakan kedatangan para orang bijak dari Timur mencari raja orang
Yahudi yang baru lahir (Mat 2:2). Namun demikian, seluruh kisah itu justru
menggambarkan kesederhanaannya. Gambaran yang sejalan muncul dalam kisah Yesus
dielu-elukan di Yerusalem (Mat 21:1-11; Mrk 11:1-10; Luk 19:28-38; dan Yoh 12:12).
Ia disambut sebagai tokoh yang amat diharap-harapkan dan diterima sebagai raja,
terutama dalam Yohanes. Jelas juga bahwa tokoh ini ialah raja yang bisa
merasakan kebutuhan orang banyak.
Menurut Markus, Matius, dan Lukas,
di hadapan Pilatus Yesus tidak menyangkal tuduhan orang Yahudi bahwa ia
menampilkan diri sebagai raja, tetapi tidak juga mengiakan (Mat 27:11; Mrk
15:2; Luk 23:2-3). Dalam Yoh 18:33-39, ia justru menegaskan bahwa ia bukan raja
dalam ukuran-ukuran duniawi.
Injil mewartakan Yesus sebagai Mesias
dari Tuhan. Dalam arti itu, ia memiliki martabat raja. Namun demikian, wujud
martabat itu bukan kecemerlangan duniawi, melainkan kelemahlembutan, kemampuan
ikut merasakan penderitaan orang, dan mengajarkan kepada orang banyak siapa
Tuhan itu sesungguhnya.
RAJA SEMESTA ALAM
Guna mendalami Injil Yohanes
mengenai Yesus, sang raja yang bukan dari dunia ini meski dalam dunia ini,
marilah kita tengok madah penciptaan Kej 1:1-2:4a. Injil Yohanes, khususnya
dalam bagian pembukaannya (Yoh 1:1-18), mengandaikan pembaca tahu bahwa ada
rujukan ke madah penciptaan itu.
Ciptaan terjadi dalam enam hari
pertama (Kej 1:1-31) dan manusia sendiri baru diciptakan pada hari keenam.
Dalam enam hari itu, Tuhan mencipta dengan bersabda. Sabda-Nya menjadi
kenyataan. Diciptakan berturut-turut: waktu siang dan malam (Kej 1:3-5), langit
(ay. 6-8), bumi beserta tetumbuhan (ay. 9-12), matahari, bulan, dan
bintang-bintang (ay. 14-19), ikan di laut dan burung di udara (ay. 20-23),
hewan-hewan di bumi (ay. 24-25), dan akhirnya manusia.
Sesudah menciptakan hewan-hewan pada
hari keenam itu, Tuhan bersabda, "Marilah kita menciptakan manusia menurut
gambar dan rupa kita!" (Kej 1:26). Ungkapan "kita" memuat ajakan
kepada seluruh alam ciptaan yang telah diciptakan-Nya itu untuk ikut serta dalam
penciptaan manusia. Seluruh alam semesta yang telah diciptakan kini
"menantikan" puncaknya, yakni manusia. Dalam diri manusia terdapat
peta kehadiran Tuhan Pencipta yang dapat dikenali oleh alam semesta. Oleh
karena itu, manusia juga diserahi kuasa menjalankan pengaturan bumi dan isinya
(Kej 1:29).
Manusia diciptakan "laki-laki
dan perempuan" (Kej 1:27). Dalam cara bicara Ibrani, ungkapan dengan dua
bagian ini merujuk kepada keseluruhan manusia, jadi seperti kata
"kemanusiaan" atau "humankind" dalam bahasa Inggris.
Bandingkan dengan ungkapan "benar-salahnya", maksudnya
"kebenarannya"; "jauh-dekatnya" maksudnya
"jaraknya".
Pada hari ketujuh (Kej 2:1-4a) sang
Pencipta beristirahat dan memberkati hari itu. Pekerjaan yang telah diawali-Nya
itu kini dilanjutkan oleh manusia karena manusia memetakan kehadiran-Nya. Hari
ketujuh tak berakhir, inilah zaman alam semesta yang diberkati Tuhan Pencipta.
Gambaran di atas menjadi gambaran
ideal manusia sebagai raja yang mewakili Tuhan di hadapan alam semesta. Kebesaran
manusia sang "gambar dan rupa" Tuhan dan alam semesta itu diterapkan
Yohanes kepada Yesus. Dalam hubungan ini Yohanes merujuk Yesus sebagai
"Sabda", yakni kata-kata "Terjadilah...!" dst. yang
diucapkan Tuhan dalam menciptakan alam semesta berikut isinya, termasuk manusia
sendiri.
Dengan latar di atas, makin jelas
apa yang dimaksud Yesus ketika berkata kepada Pilatus (Yoh 18:36) bahwa
kerajaannya bukan dari dunia ini, bukan dari sini. Yesus itu memang raja dalam
arti puncak ciptaan sendiri, kemanusiaan yang sejati seperti dulu dikehendaki
sang Pencipta. Dalam ay. 37 Yesus menambahkan bahwa untuk itulah ia lahir,
untuk itulah ia datang. Seluruh kehidupannya mempersaksikan kebenaran, yaitu
manusia yang dikehendaki Pencipta sebagai puncak ciptaan yang membadankan
unsur-unsur ilahi dan ciptaan dalam dirinya.
Dengan demikian, dalam perayaan
Kristus Raja Semesta Alam, dirayakan juga kebesaran manusia, yakni manusia
seperti dikehendaki Pencipta. Itulah kebesaran martabat manusia sejati. Sesudah
perayaan ini, orang Kristen menyongsong Masa Adven untuk menantikan pesta
kedatangan Yesus, Raja yang bakal lahir dalam kemanusiaan yang sederhana tapi
yang juga mendapat perkenan Yang Maha Kuasa.
Kembali ke dialog antara Pilatus dan
Yesus. Dalam Yoh 18:37 disebutkan Yesus datang ke dunia, ke tempat yang dalam
alam pikiran Injil Yohanes dipenuhi kekuatan-kekuatan yang melawan Allah
Pencipta, untuk mempersaksikan "kebenaran". Apa kebenaran itu?
Pertanyaan ini juga diucapkan oleh Pilatus. Ini juga pertanyaan kita yang dalam
banyak hal memeriksa Yesus. Menurut Injil Yohanes, "kebenaran" yang
dipersaksikan Yesus itu ialah kehadiran ilahi di kawasan yang dipenuhi kekuatan
gelap. Ia menerangi kawasan yang gelap. Inilah yang dibawakan Yesus kepada umat
manusia. Inilah yang membuatnya pantas jadi Raja Semesta Alam. Orang yang
mengikutinya akan menemukan jalan kembali ke martabat manusia yang asali, yakni
sebagai "gambar dan rupa" Allah sendiri. Orang yang mendekat
kepadanya dapat berpegang pada kebenaran ini. Masyarakat manusia kini, di
negeri kita, butuh cahaya itu juga. Dan kita-kita yang percaya kepada terang
itu diajak untuk ikut membawakannya kepada semua orang. Inilah makna perayaan
Kristus Raja Semesta Alam yang kita rajakan bersama Injil Yohanes tahun ini.
Salam hangat,
A. Gianto
Minggu XXXIII
InjMg XXXIII-B 18 Nov 12 (Mrk 13:24-32)
Rekan-rekan yang baik!
Karangan ini membicarakan Mrk
13:24-32 yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XXXIII tahun B. Ada dua pokok
yang disampaikan dalam petikan dari Injil Markus ini. Yang pertama mengenai kedatangan
Anak Manusia yang didahului "zaman edan" (ay. 24-27). Yang kedua
mengajak orang memperhatikan kapan saat itu tiba (ay. 28-32).
KEDATANGANNYA KEMBALI
Murid-murid yang masih mengenal
Yesus dari dekat mewartakan bahwa ia telah bangkit dari kematian dan naik ke
surga dan kini menyiapkan tempat bagi mereka. Ia akan datang kembali dengan
mulia dan orang-orang yang percaya kepadanya akan ikut serta dalam
kebesarannya. Saat itu seluruh alam semesta akan menyaksikan peristiwa ini.
Yang paling membuat generasi pertama murid-murid ini bergairah ialah
kebangkitannya. Karena itu, pewartaan Injil yang paling awal ialah "Tuhan
telah bangkit!" Semua hal lain, termasuk kedatangannya kembali, ialah
kelanjutan peristiwa itu. Namun demikian, bagi murid-murid dari generasi yang
tidak mengenal Yesus sendiri, kebangkitannya sudah jadi hal yang diandaikan.
Minat mereka lebih terarah pada kedatangannya kembali. Di situlah letak daya
tarik komunitas Kristen awal ini. Seluruh Injil Markus ditulis bagi kalangan
mereka. Kepada mereka diperkenalkan siapa Yesus yang akan datang kembali itu
lewat ingatan akan hal-hal yang diajarkan dan dilakukannya semasa hidupnya.
Kedatangannya kembali nanti dikontraskan dengan suasana yang menggelisahkan -
suasana zaman edan dan bumi gonjang-ganjing.
KERAJAAN ALLAH SUDAH TIBA
TANYA: Markus, bila begitu latar
belakangnya, apa warta Yesus yang paling pokok yang Anda rekam?
MARKUS: Orang-orang di sana dulu
terusik dengan pertanyaan-pertanyaan tentang akhir zaman. Kepada orang-orang
ini Yesus mengajarkan bahwa akhir zaman sudah tiba dalam wujud "Kerajaan
Allah". Ini kutuliskan pada awal Mrk 1:15.
TANYA: Lha, apa yang terjadi bila
Kerajaan Allah sudah datang?
MARKUS: Dalam Mrk 1:15a, kuceritakan
Yesus berseru "Metanoeite!", yang artinya lebih luas daripada
"Bertobatlah!" Orang-orang diminta agar berubah haluan dari hanya
ngutak-utik perkara betul atau salah menurut Taurat menjadi orang yang berpikir
lapang, yang tidak membiarkan diri terganjal huruf. Begitulah ada kemerdekaan
batin. Ini perlu agar warta Injil bisa diterima dengan mantap.
TANYA: Lalu?
MARKUS: Langkah berikutnya, ya
mendengarkan, memandangi, mengikuti Yesus yang mengajar, menyembuhkan orang
sambil berjalan ke Yerusalem meskipun sadar di sana bakal kena susah. Jadi,
kayak Bartimeus si buta yang melihat kembali.
TANYA: Maksudnya, satu ketika orang
bakal menyadari Yesus sebagai Mesias yang diutus Allah.
MARKUS: Benar. Tapi Yesus sendiri
sebenarnya memakai ungkapan Anak Manusia untuk menjelaskan ke-Mesias-annya. Ia
mendekatkan kembali manusia dengan Allah, ia bukan Mesias politik. Karena itu
juga, seperti dalam Injilku (Mrk 13:26), ia memakai gambaran Anak Manusia
dengan memanfaatkan Dan 7:13.
TAFSIR DANIEL 7:13 - KEMANUSIAAN
YANG BARU Kedatangan kembali Yesus dalam kemuliaannya digambarkan oleh Markus
(juga oleh Matius dan Lukas) dengan memakai gambaran dari Dan 7:13, yakni tokoh
Anak Manusia yang datang menghadap Allah untuk memperoleh anugerah kuasa atas
seluruh alam semesta. Dalam Kitab Daniel, kedatangan Anak Manusia ini terjadi
segera sesudah Allah memunahkan kekuatan-kekuatan jahat yang mengungkung alam
semesta. Zaman yang dikuasai kekuatan edan itu kini digantikan dengan zaman
Anak Manusia. Siapakah Anak Manusia dalam Daniel itu? Tafsiran bisa
bermacam-macam. Namun demikian, bila dicermati, Anak Manusia di situ dipakai
melukiskan kemanusiaan baru yang hidup merdeka di hadapan Allah. Di situlah
kebesarannya. Bila diterapkan kepada Yesus, kedatangannya kembali mewujudkan
kemanusiaan yang baru ini.
MARKUS: Setuju dengan catatan di atas.
Kemanusiaan baru itulah wujud utuh Kerajaan Allah. Manusia tidak lagi buta,
tidak lagi lumpuh, tidak lagi sakit, tidak kerasukan roh jahat, tapi yang
merdeka di hadapan Allah, seperti Yesus sendiri di hadapan Allah, Bapa yang
maharahim itu. Seperti dalam Kitab Daniel tadi, kehadiran manusia baru itu
berkontras dengan zaman edan yang mendahuluinya.
TANYA: Kok dipakai ibarat pohon ara
bersemi segala. Pusing!
MARKUS: Aku sendiri juga belum
seratus persen ngerti. Tapi pohon ara yang bersemi itu kan tanda yang pasti
mengenai musim panas sudah di ambang pintu. Nah, kepastian seperti inilah yang
boleh kalian pegang bila kalian mengalami macam-macam kegelisahan di zaman
edan.
Salam hangat,
A. Gianto
Langganan:
Postingan (Atom)
