Keluargaku

Keluargaku

Senin, 15 April 2013

Mg Paskah III/C 14 Apr13 (Yoh 21:1-19)



Rekan-rekan yang baik!

Baru saja kita rayakan Paskah Kebangkitan Kristus dan penebusan umat manusia. Juga kita dengar Yesus meniupkan Roh Kudus ke pada murid-muridnya. Hikmatnya juga ikut menyegarkan batin. Tetapi sekarang kita kembali ke hidup sehari-hari: mencari nafkah, memikirkan keluarga, masa depan, karier, pergaulan dengan sejawat. Rasa-rasanya kok kita kembali seperti dulu, sama saja. Apa arti kebangkitan dan kata-kata indah sebangsanya? Jawaban bagi serangkaian pertanyaan ini sebetulnya digarap dalam Yoh 21:1-19 yang dibacakan pada hari Minggu Paskah III tahun C.

KEMBALI KE RUTIN
Demikian juga yang dipikirkan para murid Yesus. Memang mereka berbesar hati. Namun orang tidak bisa terus-menerus berbesar hati. Yesus sudah bangkit dan tidak diragukan lagi. Semua percaya. Lalu? Iman bukan dapur ajaib yang asapnya bisa berkepul terus. Iman tidak menggebah pergi begitu saja kesulitan rumah tangga, tidak menjawab semua soal di kantor. Memang seminggu sekali kita biasa ziarah ke oasis rohani sejam, pulang dibekali kata-kata dan gagasan indah mengenai iman yang mestinya membikin orang ulet dan tahan banting. Tapi kalau sungguh dibanting beneran apa betul-betul bertahan? Dan berapa lama?
Itulah sebabnya setelah beberapa waktu Petrus mengambil keputusan, "Aku mau pergi menangkap ikan." (Yoh 21:3). Dan maksudnya menangkap ikan sungguhan, bukan ikan kiasan, bukan manusia-manusia yang akan dikumpulkan dan diajarinya tentang Yesus. Ia mau kembali bekerja seperti dulu. Kan masih punya kepiawaian sebagai pebisnis ikan danau. Dan pengalaman mengikuti Yesus dan menyaksikan hal-hal hebat dulu itu rasa-rasanya sudah jadi lembaran hidup yang mesti ditutup. Bisa diceritakan kepada orang banyak, tapi sudah selesai. Keadaan sudah berubah. Juga murid-murid lain yang disebut dalam ayat 2 berpikiran sama. Bertujuh mereka kembali ke pekerjaan mereka. Mumpung masih punya relasi. Paling tidak kan bisa kembali bekerja pada Firma Zebedeus & Sons di utara. Dan Yerusalem? Hanya kenangan manis yang makin lirih kedengarannya. 

Catatan eksegese. Mengapa dipakai sebutan "kedua anak Zebedeus", dan bukan Yakobus dan Yohanes begitu saja? Tentunya untuk mengingatkan pembaca, kedua murid ini dulu mulai ikut Yesus ketika masih bekerja dalam perusahaan ikan milik ayah mereka itu (Mat 4:21 dan Mrk 1:19-20). Petrus dan Andreas katakan saja mitra usaha Zebedeus & Sons ini (Mrk 1:16-20; Luk 5:10). Tuan Zebedeus memiliki pekerja-pekerja upahan (Mrk 1:20). Istrinya, Salome, dulu mengurus kebutuhan sehari-hari Yesus (Mrk 15:40-41). Jelas keluarga itu cukup berada. Tak heran, sebagai ibu dari kalangan terhormat, Ny. Zebedeus pernah memintakan kedudukan khusus bagi kedua anaknya di kanan kiri Yesus (Mat 20:20-21) dan mereka berdua sendiri memang menyatakan keinginan seperti itu (Mrk 10:37). Bagaimanapun juga perusahaan itu sambungan nafkah mereka sekarang. Dan bertujuh mereka membangun bisnis perikanan lagi, syukur dengan mitra-mitra baru.

YESUS DALAM HIDUP SEHARI-HARI
Penampakan yang dikisahkan dalam Yoh 21 lain dari yang lain justru karena terjadi ketika murid-murid sudah kembali ke kehidupan biasa, mencari nafkah, meniti hari demi hari. Mereka sudah tidak lagi sempat memikirkan lagi apa itu kebangkitan atau mengingat-ingat yang diajarkan guru mereka dulu.
Kali ini Yesus memperlihatkan diri kepada murid-murid dalam kehidupan sehari-hari mereka. Seandainya para murid itu pemilik lahan pertanian, Yesus datang berdiskusi mengenai masalah agrobisnis, seandainya mereka itu pengajar, Yesus akan hadir dalam pembicaraan soal teologi, seandainya mereka pemilik bengkel, bisa jadi malah Yesus datang minta dicek mobilnya kok gasnya sudah tidak galak lagi. Ini kedengaran seperti khotbah yang melulu mau membumi-bumikan Injil. Tidak! Ini menampilkan kembali yang mau dikatakan penulis Yoh 21 sendiri. Penjelasannya? Yesus mendatangi murid-muridnya dalam kehidupan mereka yang nyata. Ia masuk dalam urusan mereka. Murid-murid semalaman bekerja dan sedikit hasilnya, malah kata penulis Injil "tidak menangkap apa-apa". Dan hari mulai siang. Murid-murid melihat ada orang berdiri di pantai. Seperti seorang pemantau keadaan danau. Dan begitulah perkiraan para murid. Orang itu menunjukkan tempat yang ada ikannya. Maklum, tempat seperti itu lebih kelihatan bila diamati dari jauh. Ada tanda-tandanya: burung, air beriak, tanya saja kepada mereka yang ahli. 

Dan orang itu memberi aba-aba supaya jala ditebar di tempat yang ada ikannya. Yesus yang menampakkan diri kepada para penangkap ikan itu berlaku sebagai orang dari perusahaan perikanan mereka. Ia memberi tahu mereka agar menebar jala ke arah kanan (Yoh 21:6). Yesus masuk ke dalam urusan dan kehidupan mereka sebelum mereka mengenalinya. Hanya satu dari mereka yang menyebut diri "murid yang dikasihi Yesus" melihat siapa sebenarnya orang itu. Memang sejak melihat kafan dan penutup muka di makam yang kosong (Yoh 20:8), pikirannya tak lepas lagi dari gurunya itu. Ia melihatnya ada di mana-mana dan ingin mempersaksikannya kepada orang-orang di dekatnya. Kali ini ia memberi tahu Petrus yang juga langsung mengerti. Petrus pun mengenakan kembali pakaian luar yang tadi dilepaskan (Yoh 21:7) dan datang kepada Yesus. Bukan maksudnya seperti abdi dalem sowan kraton pakai jas beskap menyandang keris segala. Di sini pakaian membuat sosok orang dikenali. Agak idiomatik cara bicaranya. Maksudnya, Petrus datang kepada Yesus untuk memperkenalkan diri. Bukan Petrus yang dulu, tetapi yang sudah kembali ke hidup sehari-hari itu. Ia mau tahu apa Tuhan mau menerimanya kembali dalam keadaannya yang sekarang ini. 

Di pantai Yesus sudah menyiapkan ikan dan roti. Mereka hanya diminta menambah lauk dari tangkapan mereka yang melimpah itu. Maklum "ikan" (ayat 10, Yunaninya "opsarion") di situ juga berarti makanan yang dipakai lauk, dalam hal ini kebetulan ikan. Pembaca kisah ini akan teringat episode Yesus memberi makan lima ribu orang dengan roti dan lauk ikan dalam Yoh 6:1-15. (Dalam Mat 14:13-21; Mrk 6:32-44 dan Luk 9:10-17 dipakai kata "ikan" yang biasa, "ikhtus", tapi jelas memang untuk lauk.) Waktu itu murid-murid ini ikut membagikan makanan tadi. Kini mereka ikut berbagi makanan di tengah-tengah kegiatan mereka sehari-hari.

Penulis Injil menyebut tak ada yang berani bertanya siapakah dia itu karena tahu bahwa ia itu Tuhan (Yoh 21:12). Ada suasana keramat. Mereka sadar Tuhan di situ. Tak perlu macam-macam. Bila diakui kehadirannya, yang keramat akan memberi ketenangan. Kalau bertanya-tanya bisa jadi ia akan melejit pergi. Murid-murid diam. Paham. Yesus mendatangi mereka membagi makanan, memberikan dirinya yang keramat ke dalam hidup sehari-hari, dan murid-murid membawakan tambahan ikan sebagai lauk, sebagian hasil jerih payah keringat mereka. Dan ini membuat hidup berlanjut terus. Ini ujud hubungan dengan Yesus dalam dunia sehari-hari.

PENUGASAN PETRUS
Bagian kedua bacaan ini memuat kisah Yesus menugasi Petrus untuk mengurusi domba-domba miliknya (Yoh 21:15-19). Bila dibaca dengan saksama, dalam ayat 15 dan 17 Petrus diminta Yesus agar terus memberi makan domba-dombanya (bentuk kata kerja Yunaninya menyarankan tindakan memberi makan yang terus menerus dijalankan, "...tetaplah memberi makan domba-dombaku!") dan dalam ayat 16 ia diminta agar memelihara terus domba-domba itu (Yunaninya "...teruskan menggiring domba-dombaku!). Bukan wewenang menjadi gembala, melainkan permintaan agar menjamin domba-domba itu tetap terpelihara, tidak terlantar dan selalu terlindung dari bahaya. Gembala domba-domba itu Yesus sendiri, sang "gembala baik" (Yoh 10:11,14). Lawan gembala baik bukan gembala jahat melainkan "orang upahan" yang akan lari bila ada bahaya (Yoh 10:12). Gembala yang baik itu kini mencarikan orang yang mengurusi domba-dombanya karena ia sendiri berhalangan, antara lain karena pergi kepada Bapa untuk menyiapkan tempat di atas sana bagi semua. Orang yang diminta mengurus ini ditanya apa betul-betul "mengasihiku lebih dari orang-orang itu" (Yoh 21:15-17; mengasihi di sini maksudnya setia, loyal). Tiga kali, berarti amat resmi, dan bersinggungan dengan tugas keramat. Menilik konteksnya, yang dimaksud "orang-orang itu" tentunya orang-orang yang tak berloyalitas seperti halnya orang upahan, bukan para murid lain. Petrus dan orang-orang seperti dia diminta mengurusi domba-domba Yesus, bukan dijadikan pemilik baru. Seandainya Yesus mengalihkan kepemilikan, pembicaraannya mengenai dirinya sebagai gembala baik akan kehilangan integritas. Siapa Petrus itu sekarang bukan pokok yang disorot. Yang sebaiknya diresapi ialah kegembiraan batin karena sadar Yesus tidak membiarkan domba-dombanya terlantar, tak terurus, terancam.

KEDUDUKAN YOH 21 DALAM INJIL YOHANES?
Umumnya para ahli berpendapat bahwa Injil Yohanes berakhir dengan Yoh 20:30-31 yang memang berperan sebagai kata penutup. Tetapi masih ada kelanjutannya, yakni Yoh 21, yang barusan dibicarakan, dan yang juga berpenutup, yaitu Yoh 21:24-25. Bagaimana penjelasannya? Yoh 21 ditambahkan oleh muridnya? Pembicaraan ini takkan ada habisnya. Tidak ada petunjuk pasti bahwa ditulis bukan oleh pengarang yang sama atau berbeda. Bagi kita sekarang, lebih bermanfaat mendalami kekayaan yang termuat dalam Yoh 21. Yesus yang telah bangkit itu tidak hanya tinggal di atas sana, melainkan mendatangi orang-orangnya dalam urusan masing-masing. Ia memasuki kehidupan kita. Dan oleh karenanya orang-orangnya menerima hidup baru. Satu hal lagi. Murid-murid membawakan tambahan bagi kebersamaan ini, ikan untuk lauk, dari tangkapan yang banyaknya 153 ekor ikan besar itu. Tak perlu kita telusuri panjangnya sejarah tafsir angka-angka itu. Paling membantu boleh jadi keterangan St. Hironimus. Angka itu mewakili semua jenis ikan yang dikenal para nelayan waktu itu. Dapat kita lanjutkan gagasan ini. Tangkapan yang menyeluruh yang dibawakan kepada Yesus itu menambah kebersamaan dan membawa orang mengakui keramatnya kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Salam hangat,
A. Gianto

Senin, 18 Februari 2013

InjMg Prapaskah I/C 17 Feb 13



InjMg Prapaskah I/C 17 Feb 13 (Luk 4:1-13) 
Rekan-rekan yang baik!

Injil Minggu Prapaskah pertama  tahun  ini (Luk 4:1-13) mengisahkan bagaimana Yesus dicobai di padang gurun selama 40 hari. Marilah kita dalami terlebih dahulu beberapa pengertian pokok ini: dibawa Roh, padang gurun, dicobai 40 hari, dan saat Iblis kembali.

DICOBAI SELAMA 40 HARI DI PADANG GURUN
TANYA: Hari ini kita mendengarkan Yesus "dibawa oleh Roh ke padang gurun" ini. Tentunya untuk diuji kekuatannya. Begitu kan?
JAWAB: Nanti dulu. Lukas sengaja mengatakan Yesus "terbimbing Roh di padang gurun", bukan "ke" begitu saja. Jadi di padang gurun ia tidak ditinggalkan Roh begitu saja. (Harfiahnya Mrk 1:12 mengatakan "Roh menggerakkannya sampai ke dalam padang gurun." Bandingkan dengan Mat 4:1 "diantar sampai ke dalam padang gurun oleh Roh".)
TANYA: Bila kekuatan ilahi tetap menyertainya, apa artinya berada di padang gurun?
JAWAB: Yesus memang berada di tempat yang sepi dari keramaian dunia agar menjadi makin peka akan kehadiran Roh. Tapi di situ jugalah ia makin melihat Iblis dalam ujud yang paling kuat. Di padang gurun orang menemukan tempat senyap dan saat hening mendalami pengalaman batin berjumpa dengan dua kekuatan itu.
TANYA: Jadi percobaannya ialah bersiteguh bersama Roh atau mengikuti cara berpikir yang lain?
JAWAB: Ya, memilih digandeng Roh atau digendong kekuatan lain. Dalam pilihan pertama orang perlu berusaha jalan terus. Pilihan yang lain bisa membuat orang enak-enak, tapi tak lagi bersama Roh.
TANYA: Lalu apa maksudnya ia dicobai Iblis selama 40 hari?
JAWAB: Kurun waktu 40 hari menandai masa yang cukup lama yang mematangkan suatu pengalaman batin. Begitu pula nanti para rasul selama "40 hari" berulangkali melihat Yesus yang telah bangkit dan mendengarkannya berbicara mengenai Kerajaan Allah (Kis 1:3).
TANYA: Lukas mengatakan setelah dicobai 40 hari tanpa makan apapun, ia lapar. Dan di saat ini terjadi dialog antara Iblis dengannya. Manakah sebenarnya percobaannya? Yang ditawarkan Iblis pada akhir 40 hari itu atau yang dialaminya selama 40 hari?
JAWAB: Pertanyaannya menarik. Begini. Dalam pewartaan Injili paling awal, seperti dalam Mrk 1:12-13 disebutkan Yesus yang digerakkan Roh itu dicobai Iblis 40 hari, tak diceritakan percakapan antara keduanya. Tetapi kemudian Matius (Mat 4:1-11) dan Lukas (petikan hari ini, Luk 4:1-13) juga melaporkan tradisi mengenai percakapan pada akhir masa itu. Di situ dirincikan tiga godaan: mengenyangkan diri dengan menyuruh batu menjadi makanan (Luk 4:3-4 bdk. Mat 4:3-4), mendapat kuasa duniawi asal mau menyembah Iblis (Luk 4:5-8 4 bdk. Mat 4:8-10), dan menuntut Allah menolongnya bila ia menerjunkan diri dari wuwungan Bait Allah - jadi menuntut mukjizat (Luk 4:9-12 bdk. Mat 4:5-7; urutan kedua dan ketiga dibalik dalam Matius tanpa perubahan arti).
TANYA: Wah teringat kembali kuliah Injil Sinoptik nih. Tapi Injil Yohanes tidak memuat hal ini?
JAWAB: Yohanes mengutarakan dengan cara lain. Yesus Sang Firman ilahi itu diwartakannya sebagai terang yang bersinar di dalam wilayah kegelapan dan kegelapan tak berhasil menindihnya (Yoh 1:5) karena Firman itu sejak awal ilahi sifatnya.
TANYA: Kembali ke Lukas. Ketika jelas ia tetap memilih berada dengan Roh, maka mundurlah Iblis menantikan saat yang tepat. Kapan saat yang tepat itu?
JAWAB: Beberapa ahli tafsir beranggapan saat tepat itu terjadi ketika Iblis memasuki Yudas (Luk 22:3). Yesus yang sebentar lagi akan sendirian mengalami pergumulan batin di Getsemani itu diberatkan dengan pengkhianatan salah satu dari murid-murid yang paling dekat dengannya. Ini ujian terbesar. Di situ ia mengalami godaan untuk meninggalkan semua yang dibuatnya hingga saat itu. Tetapi kita tahu ia terus.

ROH: KEKUATAN ILAHI YANG MENGGERAKKAN
Dalam alam pikiran Kitab Suci, Roh ialah kekuatan yang tak kelihatan yang menggerakkan dan mengikutsertakan siapa dan apa saja yang ditemuinya. Maka sering dibayangkan sebagai angin, karena memang angin bergerak dan menggerakkan tapi tak bisa dilihat begitu saja. Sebelum ada penciptaan ada gerakan-gerakan ilahi, dalam bahasa Alkitab, "Roh Allah melayang-layang di permukaan air." (Kej 1:2), yang kemudian menggerakkan apa saja. Ciptaan ialah ujud yang kelihatan dari gerakan-gerakan itu. Juga dalam Kitab Suci kerap dijumpai ungkapan Roh Tuhan turun ke seorang tokoh, artinya tokoh itu mulai digerakkan oleh kekuatan-kekuatan ilahi dan oleh karenanya akan mengerjakan hal-hal luar biasa. Para Hakim dulu begitu. Juga ketika Yesus mulai mengajar di sinagoga di Nazaret, ia menerapkan Yes 60:1 "Roh Tuhan ada padaku" kepada dirinya. Dalam peristiwa percobaan 40 hari itu, ia dibimbing Roh, artinya gerakan-gerakan Roh memimpinnya dan menyertainya dalam perjalanan yang menentukan pilihan hidupnya selanjutnya. Meskipun disertai dan dipenuhi Roh, Yesus tidak membuat Roh ke sana atau ke sini. Roh tidak bisa dipaksa-paksa. Maka dalam godaan ketiga dalam petikan Lukas, ia tidak mau mencobai kekuatan ilahi untuk melihat apa betul akan menyelamatkannya bila ia menerjunkan diri dari atap Bait Allah seperti disarankan Iblis.

LINGKUP KUASA YANG JAHAT
Disebutkan dalam godaan kedua (Luk 4:5-6) bahwa semua kekuasaan dan kemuliaan kerajaan dunia telah diserahkan kepada Iblis dan ia dapat memberikannya kepada siapa saja. Ia menawarkannya kepada Yesus asal ia mau menyembahnya. Memang dalam kesadaran orang zaman itu, dunia manusia memang ada dalam kuasa yang jahat. Oleh karena itu kebutuhan akan datangnya Penyelamat makin terasa pula. Pendapat bahwa yang jahat telah memperoleh kuasa terhadap semua orang juga tampil dalam Why 13:7. Di situ ditegaskan bahwa setiap suku dan umat dan bahasa dan bangsa telah diberikan kepada binatang dari laut yang memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduknya bermahkota dengan tuliskan gaib, lambang yang jahat. Lebih jauh, seperti tersurat dalam ayat berikutnya, semua orang akan menyembahnya, kecuali orang yang diselamatkan oleh kurban Anak Domba. Berarti yang jahat betul-betul berpengaruh besar di dalam dunia kehidupan manusia. Orang bisa terluput bila diselamatkan kurban diri Yesus. Maka dalam petikan Lukas tadi, Sang Penyelamat digoda agar tidak jalan terus bersama Roh. Jadi godaan menerima kekuasaan dan kemuliaan itu godaan yang teramat besar. Kejadian di Getsemani menggemakannya kembali. Yesus memang ingin lepas dari kesengsaraan yang bakal dialami asalkan memang demikian kehendak Bapanya. Ia tetap tidak menyerah kepada kekuatan yang jahat. Dan kelanjutannya kita ketahui. Beberapa waktu sebelum itu Yesus juga menghardik Petrus dengan kata-kata "Enyahlah Iblis!" karena berusaha menghalaunya dari jalan ke arah penderitaan penebusan itu (Mrk 8:33 Mat 16:23).
Dalam berjalan ke Yerusalem tempat ia nanti menderita, wafat dan bangkit, ia menunjukkan bahwa ia mampu merenggut orang-orang dari kuasa yang jahat (menyembuhkan orang sakit, mengusir setan), mengajarkan bagaimana orang bisa berharap pada kuasa yang baik ("Kerajaan Allah"), membawakan wajah Tuhan yang bukan maha penuntut melainkan yang maha murah (Bapa), memilih orang-orang yang menjadi rekan sekerja (murid-murid). Ini semua dilakukannya karena ia mantap berjalan bersama dengan Roh.

MENGENALI GERAKAN-GERAKAN BATIN
Pengalaman Yesus di padang gurun dapat juga terjadi pada banyak orang lain. Makin dalam orang menghayati pengalaman batin, makin jelas gerakan-gerakan yang ada di situ. Ajaran ulah batin para mistikus sejak Abad Pertengahan di kalangan Yahudi (kabbalah), Kristen (asketika), Islam (tasawuf) mencakup latihan untuk membuat orang peka akan gerakan-gerakan batin sehingga dapat mengenali apa asalnya dari Roh atau dari kekuatan yang jahat. Dengan demikian orang makin dapat mendekat kepada yang baik dan menjauhi yang jahat. Ajaran ini terus berkembang pada zaman-zaman kemudian. Santo Ignatius Loyola (sesudah Abad Pertengahan) memberikan serangkai pegangan membeda-bedakan roh menurut keadaan batin orang, apa baru mulai mengenali kedua-duanya (Latihan Rohani 313-327) atau sudah lebih dekat kepada yang baik (Latihan Rohani 328-336). Ajaran ini dimaksud untuk menolong orang memperoleh kejernihan budi sehingga keputusan dan tindakannya menjadi makin seirama dengan Roh.

Salam hangat,
A. Gianto

Jumat, 08 Februari 2013

InjMg V/C

InjMg V/C 10 Feb 2013 ( Luk 5:1-11)

Rekan-rekan yang budiman!
Bacaan Minggu Biasa V tahun C ini ialah Yes 6:1-2a.3-8; 1Kor 15:1-11; Luk 5:1-11. Pengalaman merasakan kehadiran Yang Ilahi memang mempesona tapi sekaligus menggetarkan. Yesaya terpukau oleh para Serafim yang khidmat memuji kebesaran Tuhan yang Maha Kudus. Saat itu juga ia merasa segera akan luluh binasa karena mendapati diri "kotor" Dalam petikan Injil Lukas diceritakan bagaimana Simon menyaksikan keajaiban yang terjadi serta-merta kata-kata Yesus diturutinya. Tetapi ia serta-merta merasa diri pendosa dan mohon agar Yesus - yang disapanya sebagai Tuhan - menjauhinya. Tidak tahan ia berdekatan dengan Yang Ilahi. Yesaya dan Simon sama-sama dilanda kekuatan sabda ilahi dan merasa tak pantas.

Namun pada saat-saat itu juga mereka dikuatkan. Bibir Yesaya dibersihkan. Yang kotor di-"bakar" habis, kesalahannya dihapus. Kepada Simon berkatalah Yesus, "Jangan takut!" Sapaan ini menghibur dan memberi kekuatan. Mereka boleh merasa lega di hadapan Yang Ilahi tanpa dirundung rasa gentar. Kini mereka mampu berbuat sesuatu. Yesaya bersedia diutus untuk menghadirkan Tuhan. Simon meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Yesus sepenuhnya. Pengalaman batin berjumpa dengan Tuhan dapat betul-betul menggerakkan orang dan membukakan lembaran baru dalam kehidupan. Orang tidak berhenti pada rasa terpukau atau gentar yang pasif melulu.
Ada tiga tahap pokok dalam mengalami kehadiran ilahi. Pertama-tama orang mendapati diri dipenuhi kehadiran itu, kemudian orang akan langsung merasa tak pantas, namun akhirnya tertolong sehingga dapat menerima kehadiran itu dengan ikhlas, tanpa takut-takut. Orang juga terdorong berbuat sesuatu yang cocok. Pengalaman ini menjadi inti panggilan menjadi orang suruhan Tuhan yang bakal membawa orang-orang kepada Dia, bukan hanya membawakan Dia kepada manusia. Inilah inti panggilan rasul.

PANGGILAN UNTUK "MENJALA MANUSIA"
Dalam teks Yunani Luk 5:10, kata-kata Yesus "(kau akan) menjala manusia" berbunyi "anthropous (esee) zoogroon" dan sarat dengan pengertian "(kau akan) bekerja menangkap manusia-manusia untuk membawa mereka ke kehidupan". Bila dipikirkan lebih lanjut, kata-kata Yesus itu berisi suruhan kepada Simon agar merenggut umat manusia dari kuasa maut. Penugasan seperti ini berarti pula ajakan ikut serta menjalankan karya Sang Juru Selamat sendiri. Ada beberapa hal yang dapat dicatat bersangkutan dengan panggilan ini dalam Injil-Injil. Dalam Injil Markus, panggilan Simon, Andreas, Yakobus dan Yohanes (Mrk 1:16-20) dikisahkan setelah Yesus mengumumkan kedatangan Kerajaan Allah (Mrk 1:15). Matius mengambil alih Markus, juga dalam hal menaruh peristiwa panggilan keempat murid pertama (Mat 4:18-22) setelah kedatangan Kerajaan Surga diumumkan (Mat 4:17; Matius memakai istilah Kerajaan Surga bagi Kerajaan Allah). Markus dan Matius hendak menunjukkan bahwa murid-murid dipanggil agar ikut mewartakan Kerajaan Allah kepada orang banyak. Injil Lukas mengolah bahan ini lebih jauh: 

-         Pertama-tama Lukas memisahkan pewartaan Yesus mengenai Kerajaan Allah dari panggilan para murid pertama. Panggilan mereka diceritakan terjadi baru setelah Yesus mengajar orang banyak, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit (Luk 4:14-44). Lukas rupa-rupanya ingin menunjukkan bahwa murid-murid pertama itu sebetulnya sudah mendengar tentang Yesus sebelum terpanggil mengikutinya secara penuh. Perjalanan menjadi pengikut Yesus dikisahkannya setapak demi setapak.
-         Kemudian Lukas menggarisbawahi satu arti "menjala manusia" yakni, seperti dijelaskan di atas, agar manusia menemukan sumber kehidupan - yakni Tuhan sendiri. Markus dan Matius memakai ungkapan Yunani "halieis anthropou" yang harfiahnya "nelayan/penjala manusia", tanpa penjelasan lebih jauh mengenai tujuannya.
-         Akhirnya Lukas menyoroti tokoh Simon Petrus secara khusus. Dan dalam hal ini ia memakai kisah penangkapan ikan secara menakjubkan yang tidak ada dalam Injil Markus dan Matius, tetapi yang muncul dalam bagian belakang Injil Yohanes (Yoh 21:4-14). Dalam Injil Yohanes kisah penangkapan ikan yang berlimpah-limpah itu dikaitkan langsung dengan penugasan Simon Petrus untuk memelihara domba-domba Yesus serta mengusahakan tempat hidup bagi mereka (Yoh 21:15-17). Ia tidak diangkat menjadi gembala mereka; Yesus sendirilah gembala mereka dari awal sampai akhir!

Peran khusus Simon Petrus itu ditampilkan Matius dalam hubungan dengan kisah pengakuan Petrus bahwa Yesus itu Mesias. Di situ Matius menambahkan Simon disebut Yesus sebagai batu karang dasar Gereja dibangun, tak bakal terkalahkan oleh maut, dan pemegang kunci surga (Mat 16:18-19). Tambahan seperti ini tidak didapati dalam Injil lain.
Jelas bahwa Matius, Lukas dan Yohanes sama-sama mengetengahkan peran utama Simon Petrus, tetapi dengan cara yang berbeda-beda. Markus tidak mengolahnya secara khusus. Maklum ketika Injil Markus selesai ditulis, yaitu pada paruh kedua tahun 60-an, peran utama Simon Petrus dalam Gereja Perdana diterima tanpa perlu diceritakan asal usulnya. Selang sepuluhan tahun kemudian ada upaya untuk menjelaskan bahwa peran ini memang berasal dari penugasan oleh Yesus sendiri. Upaya ini tercermin dalam Injil Matius, Lukas dan Yohanes. 

DIALOG AKTUALISASI
HAR: Uraian tentang "menjala manusia" menarik. Tapi Injil-Injil tidak sama dalam menyebutkan pelakunya. Bagaimana menjernihkan hal ini?
GUS: Sabar. Justru dengan menyebut macam-macam orang itu mau diisyaratkan bahwa sebetulnya yang mengemban tugas itu terutama bukan orang perorangan melainkan kelompok orang yang mempercayai Yesus dan bersedia mengikutinya.
HAR: Maksudnya kelompok murid-murid yang pertama-tama dipanggil?
GUS: Betul. Dan kemudian Gereja sampai zaman kita ini. Tugas "merenggut umat manusia dari maut" itu tugas Gereja.
HAR: Dijalankan dengan membaptis? Mewartakan sabda?
GUS: Antara lain. Tetapi kita jangan hanya berpikir mengenai Gereja dengan ukuran-ukuran ritual belaka. Membaptis juga berarti mengubah wajah kemanusiaan dari yang bisa dikungkung kuasa-kuasa jahat menjadi yang merdeka untuk mengenal Yang Baik dan mengikuti Dia. Banyak macam bentuk mewartakan Injilnya Kerajaan Allah. Gereja perlu terus menerus menawarkan ujud Kerajaan Allah yang menjawab kebutuhan zaman sekarang.
HAR: Termasuk kepedulian terhadap orang-orang yang terpojok dalam masyarakat?
GUS: Tentu. Lihat tuh keuskupan Purwokerto yang sedang membuat terobosan baru dengan kepedulian sosial yang terarah dan yang melibatkan pelbagai lapisan orang. Langkah-langkah kecil seperti itu bila ditelateni akan membawa kita melangkah jauh lho. Ini satu bentuk "merenggut umat manusia dari kuasa maut" tadi.
HAR: Dan kita para pemerhati sabda ilahi ini jangan membiarkan sorot sabda itu pudar. Kepada orang di sekitar jangan hanya kita berikan lip service alias "mung kélangan abab" kata orang Jawa.
GUS: Kembali ke "menjala manusia" dalam pengertian "merenggut umat manusia dari kuasa maut".  Kenyataan "maut" itu panjang: kemelaratan, kebodohan, ketakadilan, penindasan, perpecahan, dan banyak lagi, you name it.
HAR: Gereja bisa mengajak orang-orang yang berkehendak baik untuk bersama-sama merenggut manusia dari serentetan ujud "maut" itu Kan?
GUS: Bila bisa mengentas orang dari situ, integritas Gereja akan makin besar.
HAR: Setuju. Dan orang-orang yang kita layani akan menjadi pribadi yang merasa tak dilupakan Tuhan.
GUS: Dan bukan memperlakukan mereka sebagai komoditi kerasulan. Begitulah tanggapan orang beriman terhadap Kristus yang bangkit yang dibicarakan Paulus dalam 1Kor 15:1-11. Bila tidak bisa mewujudkan keselamatan yang dapat dialami secara nyata, maka kata Paulus, kita ini "sia-sia saja menjadi percaya" (ayat 2).

Salam hangat,
A. Gianto