Keluargaku

Keluargaku

Senin, 23 Mei 2011

Damai Sejahtera-Ku

 
Yoh 14:27-31a (24.05.2011) Renungan oleh Deshi Ramadhani SJ   DAMAI SEJAHTERA-KU 
Dalam sebuah strategi bertarung seseorang bisa mengalahkan lawannya setelah sejenak berpura-pura telah mati. Rupanya untuk sekejap lawannya di beri kesempatan untuk merasa menang. Akibatnya, ia menjadi lengah, dan persis pada saat itulah orang yang berpura-pura mati menyerang balik dan mengalahkan lawannya. Rasa menang sesaat ternyata bisa menjadi perangkap bagi diri sendiri yang membawa kehancuran.  Paulus diseret ke luar kota (bacalah Kis 14:19-28). 
Orang mengira ia telah mati. Segera setelah keadaan aman, ia pun bangkit. Tindakan berikutnya sungguh mengejutkan. Paulus melanjutkan usaha pewartaannya. Baginya, pengalaman itu bukan sekadar berpura-pura mati. Itu adalah pengalaman nyata bahwa untuk bisa masuk surga, orang perlu bertekun dalam iman. Ungkapan pemazmur menjadi pengakuan atas tindakan yang mengagumkan itu: “Orang-orang yang Kaukasihi, ya Tuhan, mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu” (bacalah Mzm 145:10-11,12-13ab,21).   Dalam pengalaman penderitaan itulah, damai sejahtera yang sejati justru dialami. Yesus bahkan telah menegaskan bahwa damai yang diberikan-Nya itu tidaklah sama seperti yang bisa diberikan oleh dunia. Para murid Yesus bahkan diminta untuk bersukacita jika Yesus pergi meninggalkan mereka. Seruan itu menjadi peringatan agar manusia pun berani jujur. Banyak pengikut Yesus tidak berani melepaskan kedamaian semu karena begitu terikat pada rasa kemenangan palsu.   
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar